Agama Mode

Ada suara bergema, ia bangun dan melihat sinar yang malu-malu memasuki kamar. Ia pun mendengar ocehan Helen seperti biasa.

“Ah, begitu malasnya! Sangat malas! Kapan kita akan bangun?”

Ia tak menghiraukan Helen. Helen pun pura-pura tak peduli. Helen mulai memeriksa seluruh sudut kamar tanpa berhenti meracau:

“Tidur makan, makan tidur, tidur mimpi, bangun dan tidur lagi.”

Ia masih saja terdiam.

“Kapan kita sadar kalau kita harus bangun pagi-pagi? Kapan kita mengerti kalau hanya burung yang berangkat pagi-pagi saja yang akan mendapatkan cacing?” keluh Helen.

Ia menahan tawa sembari membayangkan Helen telungkup di atas piring cacing bakar. Dan ia terus terdiam.

“Pak Uryan! Kapan mau sarapan pagi?”

“Ah! Helen! Perawatku yang cantik! Coba katakan, apa cinta itu?”

“Cinta adalah Anda tak butuh meminta maaf selamanya.”

“Dasar maling gendut! Kau mencuri kalimat ini dari novel Cerita Cinta.”

“Pak Uryan! Saya hanya perawat. Anda yang novelis. Jadi, coba katakan cinta itu apa?”

“Ah! Helen! Pertanyaan cerdas! Cinta adalah kekuatan sihir yang menjadikan manusia mampu berinteraksi dengan persoalan hidup tanpa mohon bantuan pelayanan mati.”

Wajah Helen berubah cemberut. “Bukankah sudah saya peringatkan kalau kita …,” sergahnya.

“Maaf! Maaf sekali! Cinta adalah permintaan maaf setiap saat. Helen, cinta itu bagaikan wanita paling cantik yang mencuri hati saat melihatnya tanpa sengaja dalam mobil mungil, kemudian ia membawamu ke tempat kebahagiaan yang berada di atas laut, lalu berjalan bersama di tepi pantai yang sepi sambil bergandengan tangan di bawah sinar rembulan.”

“Saya tak pernah mengalaminya sama sekali.”

“Saya tak percaya!”

“Pak Uryan! Kapan mau sarapan pagi?”

“Kalau sudah siap.”

Di taman, ia menuju meja yang telah ada Romo George Malouny, seorang uskup.

“Selamat pagi, bagaimana kabarnya?” Romo memberi salam dengan penuh keramahan spontan nan tulus.

“Baik Romo, terima kasih.”

“Romo? Ah, tak ada waktu untuk gelar dan basa-basi. Panggil saja George.”

“Dengan senang hati. Anda juga mohon panggil saya Ya’qub.”

“Ya’qub? Jacob! nama Taurot. Ia lahir langsung setelah saudara kembarnya sembari memegang tumit, karena itu ia dinamai Ya’qub.”

“Sama sekali saya tak tahu tentang saudara kembar itu. Yang pasti Ya’qub adalah salah satu nabinya umat Islam.”

“Tentu, tentu saja. Saya sudah beri tahukan untuk manggil saya dengan George? Ya sudah, sudah. Baiklah. Minumlah kopi Anda dulu. Katakan pada saya, apakah Anda sudah siap untuk mati?”

“George! Kita ini di tempat ….”

Romo memotong ucapannya sembari tersenyum.

“Tentunya kita tak membicarakan mati. Apakah Anda tahu cerita tempat ini? Maksud saya tempat-tempat ini? “house peace”? Tak tahu? Tempat-tempat ini mulai berubah menjadi kamar-kamar pasien dan orang jompo yang digabung dengan lantai lainnya. Kapan itu terjadi? Beberapa abad yang lalu. Apakah Anda perhatikan mereka memanggil para pasien dengan sebutan tamu? Tentu Anda mengalaminya. Ini adalah tradisi dari sekian tradisi yang menyejarah. “House peace” yang baru berbeda dengan yang lama. Di sini tersedia semua sarana ketenangan dan semua obat-obatan mahal.”

“Mati dengan mulia!”

“Mati mulia? Bukan! Tidak begitu persis. Di sini mereka tidak membunuh Anda. Atau setidaknya ini yang saya harapkan. Di sini mereka menunggui sampai Anda mati dengan sendirinya, atau tepatnya karena penyakit Anda. Mereka berusaha menjauhkan Anda dari rasa nyeri, pokoknya nyeri yang terasa. Mati mulia adalah pembunuhan dengan belas kasih. Eutanasia, yaitu membunuh orang yang putus asa dari sembuh dengan alasan untuk menghentikan siksaan. Gereja kami masih menentang hal ini, tapi siapa tahu yang akan terjadi dengan gereja Anglikan kami? Ini adalah gereja paling aneh di dunia, beradaptasi cepat dengan hal-hal baru, malah lebih cepat dari baru itu sendiri. Ada pendeta perempuan, ada pendeta abnormal, pernikahan antara laki-laki direstui gereja, ada pendeta yang memandang jahanam hanyalah tempat hangat, ada pendeta berpendapat kalau menjadi seorang nasrani tidaklah harus beriman pada Tuhan. Pendeta memandang kalau Yesus hanyalah hayalan belaka. Bagaimana menurut Anda?”

“Romo, maksud saya George, ini persoalan menyangkut agama ….”

“Tentu, saya tahu pendapat Anda. Anda tidak usah berkomentar. Saya sendiri yang akan mengomentarinya. Dulu saya menduduki jabatan tinggi di gereja, walaupun begitu saya kagum pada gereja Katolik, juga umat Islam. Kalian masih memegang keyakinan yang murni, tak terpengaruh oleh hal-hal sering berubah.”

“Saya tak tahu sampai kapan hal itu akan tetap terjaga. Nabi Muhammad memberi tahu kalau sedikit demi sedikit kami juga akan mengikuti jejak-jejak kalian.”

“Benarkah? Saya tak tahu Islam, kecuali sedikit. Ini memalukan. Bagaimana kalau Anda mengajari saya sedikit tentang Islam? Minumlah dulu kopi Anda! Apa nilai sebuah agama tanpa yang konstan? Apa artinya agama yang berubah setiap musim seperti mode-mode pakaian? Percayalah, saya menghormati para fundamentalis dari semua agama. Apa? Saya bilang fundamental, bukan teroris, kerancuan yang meracuni kedua istilah itu membuat saya jengkel. Sekarang katakanlah, apakah Anda seorang yang taat beragama?”

“Saya percaya pada Tuhan, kitabnya, rasulnya, malaikatnya, takdirnya, hari akhir, hari perhitungan, surga, dan neraka. Di samping itu saya juga terus berusaha untuk berbuat kebaikan sekuat tenaga. Walaupun begitu, saya tak bisa mengatakan kalau saya orang yang taat beragama karena saya banyak berbuat dosa.”

“Ah, kesalahan! Tentu! Setiap manusia dilahirkan dalam bayangan dosa bawaan dan Yesus tidak disalib kecuali untuk menghapus dosa manusia dengan darahnya. Maaf! Maaf! Saya berbicara tentang keyakinan saya, saya tak bermaksud menyingung perasaan Anda.”

“Kami memercayai kalau Tuhan itu Maha Pengampun dan Maha Pengasih, serta ampunannya mencakup segala dosa terkecuali perbuatan syirik.”

“Ah! Kan sudah saya katakan kalau saya tak tahu banyak tentang Islam. Jadi, kapan saya memulai belajar keislaman?”

“Terserah Anda.”

“Tahun depan?”

Kedua lelaki tersenyum, kemudian Uskup berkata:

“Apakah Anda takut mati?”

“Tidak.”

“Ini pertanda baik, sangat baik.”

“Kami percaya barang siapa yang rindu bertemu dengan Tuhan, Tuhan pun rindu menemuinya. Bahkan, sebelum saya sakit pun saya rindu bertemu dengan-Nya.”

“Ini sangat bagus, sangat sangat bagus. Kami pun berkeyakinan bahwa siapa yang beriman pada Yesus, maka ia akan diberi kehidupan abadi. Saya sangat percaya itu, walau dosa saya begitu banyak, sangat banyak.”

Ia berusaha menyembunyikan keheranannya, tapi sepertinya ia gagal, Romo melanjutkan.

“Kenapa heran begitu? Boleh taruhan kalau dosa saya lebih banyak dari dosa Anda!”

“George, dulu saya pernah mempunyai hubungan dengan wanita yang sudah menikah. Anda tak bisa membayangkan rasa penyesalan yang saya rasakan. Lebih parahnya lagi, hal itu muncul bersama rasa senang yang aneh, bersama luapan bahagia yang tak dapat dipercaya. Saya belum pernah merasakan kebahagiaan, kecuali dengan wanita ini dan mengingatnya sekarang menjadikan saya manusia paling bahagia. Meskipun begitu, hati saya ….”

“Ah! Koktail yang menakjubkan kawan! Bahagia campur penyesalan. Anda bilang wanita bersuami? Kenapa Anda tidak berpikiran kalau saya juga pernah berhubungan dengan wanita-wanita yang bersuami? Dulu saya adalah pemuda ganteng.”

“Sekarang juga masih tampan, Goerge. Berapa wanita besuami yang ….”

“Ya’qub! Setan kau! Ada puluhan wanita, malah ratusan mungkin. Apa? Saya hanya bercanda. Tolong jangan pergi dan menyebarkan gosip ini. Bisa-bisa bu dokter percaya lalu menghantam saya nanti.”

Kedua laki-laki tersebut tenggelam dalam tawa, lama dan dalam.

Diterjemahkan dari Novel berjudul حكاية حبّ [Hikayat Cinta], karya Ghazi Al-Qusoybi, terkecuali judul.

sofwanism@yahoo.com   Postingan Lainnya

Kepala Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah