Oleh: Lulu Asti Humairah
04:15
Duk..Duk..Duk..Duk..,
“Prepare…prepare,“ suara gedoran pintu dan teriakan pengurus asrama putri membangunkan para santri. Pada detik-detik itu para santri sedang bersusah payah untuk membuka mata. Kelopak mata mereka seakan dilumuri lem perekat yang sangat kuat sehingga sangat sulit untuk terbuka. Padahal telinga mereka mendengar suara teriakan pengurus dan gedoran pintu.
“I count you until five ….”
“… Four”
Saat tiba hitungan keempat, asrama putri seakan ditempa gempa bumi. Para santri berbondong-bondong dengan berlari menuruni tangga, seolah mereka dikejar-kejar oleh zombi. Berbeda denganku Navira Maisaroh. Saat hitungan terakhir, aku baru keluar kamar dan menuju kamar mandi. Aku tak menghiraukan tatapan mematikan dari pengurus. Tiba-tiba muncul suara bisikan-bisikan nakal di benakku, Udah ijin BAB aja… kan enak tuh bisa tidur lagi, gak usah jamaah subuh.
Boleh juga tuh …, batinku.
“Ukhti Sarah … ana ijin ya…, I want to divicate,“ teriakku.
“Na’am yajuuz … lakin laa tataakhor,“ ucapnya penuh penekanan.
Aku segera berlari memasuki kamar mandi. Saat aku keluar kamar mandi, di masjid sudah wiridan. Aku pun sholat subuh di kamar. Saatku selesai salam terakhir, aku mendengar suara seseorang sedang dimarahi. Saatku toleh melalui jendela, ternyata yang sedang dimarahi temanku, Rena.
“Limadzaa anti laa sholatun jamaatan fil masjid?“
“ Afwan … ukhti, ana kesiangan.“
“Sekarang berdiri di lapangan … sambil bawa buku vocab, hafalkan 50 kosakata!”
“Lakin ukhti ….”
“Laa … lakin ….”
Aku menatap iba temanku. Bagaimana kalau aku juga kesiangan? Aku harus mencoba bangun lebih pagi lagi dan tidak mudah terhasut lagi oleh bisika-bisikan nakal.
Sebentar lagi PAS, tiba-tiba rasa malas menghantuiku. Bagaimana ini? Aku harus mengumpulkan semangat lagi, tapi gimana caranya? batinku.
Ting !!!
Aku teringat buku motivasi yang kutulis di buku diariku.
Cara Mengembalikan Semangat
1. Ingat akan perjuangan orang tua untuk kita
2. Ingat akan cita-cita yang ingin diraih
3. Berpikirlah dengan optimis
4. Berdoa kepada Yang Mahakuasa
“Bismillah …,” ucapku.
Di ponpes ini persaingan dalam ujian sangatlah sengit. Sangat anti dengan kata menyontek karena jika ketahuan menyontek akan mendapat nilai nol di mata pelajarannya. Kertas ujiannya pun langsung dirobek di tempat. Aku sangat salut dengan teman-temanku. Mereka sanggup belajar hingga waktu menunjukkan pukul tengah malam. Sedangkan aku, jam 10 juga sudah terlelap. Aku juga ingin seperti mereka, punya ketekunan dalam belajar.
Ayo … Vira kamu bisa!! batinku tuk meyakinkan hati.
“Vir, ayo kita belajar, jangan tidur mulu kerjaannya,“ ajak temanku Rena.
“Iya, Rena bawell, ayo kita belajarnya di lapangan aja mumpung banyak yang belajar di sana.”
“Okay, tapi belajarnya jangan sampai malam-malam juga, yang sewajarnya aja. Belajar boleh, tapi jangan sampai tidak ada waktu untuk istirahat.“
“Siap boss!!“ seruku.
Tiba saat pembagian rapor. Jantungku berdegup kencang, semoga nilainya di atas KKM semua amiin,“ batinku.
“Navira Maisaroh ….”
Aku melangkah ke depan dengan tangan gemetar. Ummi berdiri di sebelahku dan meyakinkanku.
“Vira, tak apa peringkatmu kecil, yang penting adalah seberapa besar ikhtiar dan pemahaman kamu akan materi yang sudah dipelajari, perbanyak muthala’ah ya,” ujar Ummi.
“Iya Ummi.“
Alhamdulillah, aku mendapatkan peringkat kedua pada akhir semester ini. Ikhtiar, tawakal, dan doa yang cukup tentu dengan persiapan dari jauh-jauh hari tak akan mengkhianati hasilnya dan dengan teman yang selalu mengingatkan kita akan kebaikan. Jangan salah pilih teman karena teman yang baik akan membawa kepada hal yang positif.

