Melawan Stigma Gudik Tradisi Santri

ALTSAQAFAH.ID – Pesantren selama ini kerap diindentikkan dengan tradisi gudik. Klaim ini melahirkan narasi negatif, yakni pesantren adalah tempat yang kumuh dan tidak menyadari akan pentingnya kebersihan. Sementara itu, agama Islam justru sangat mendorong agar pemeluknya menjaga dan memperhatikan kebersihan. Dua arah berpikir yang tidak searah ini akhirnya melahirkan satu pertanyaan, yakni benarkah gudik adalah tradisi bagi santri?

Orang yang mempelajari ilmu-ilmu agama Islam, mengamalkan, dan menyebarluaskan ilmunya dengan tujuan untuk membela dan mengembangkan agama Islam, dalam buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren karya K.H. Saifuddin Zuhri, disebut sebagai santri.

Dikutip dari NU Online, santri juga merupakan murid yang dididik oleh kiai dengan kasih sayang supaya menjadi mukmin yang kuat, menghormati guru dan orang tuanya, mencintai tanah airnya, penuh kasih sayang terhadap sesamanya, mencintai ilmu dan tidak pernah berhenti belajar, juga yang menjadikan agama sebagai anugerah dan jalan untuk mencapai rida Tuhannya.

Pendapat lain menyatakan bahwa santri adalah sekumpulan individu yang dibesarkan dan mengenyam pendidikan di lingkungan pondok pesantren sehingga diharapkan santri dapat menjadi orang yang alim, rendah hati, dan sederhana.

Santri tidak dapat dipisahkan dengan tradisi kesantrian, yaitu thalab al ‘ilm, di antaranya adalah lalaran, ngaji bandongan, sorogan, musyawarah kitab, bahts al masail, mendaras Al-Qur’an, mengkaji ilmu pengetahuan, dan kegiatan ilmiah lainnya.

Tidak hanya belajar, santri juga mencari keberkahan ilmu dengan cara berkhidmah (mengabdi). Salah satu cara berkhidmah adalah ro’an, yaitu kegiatan gotong royong, mulai dari gotong royong membersihkan lingkungan sampai ro’an mengecor bangunan. Kultur pesantren lekat dengan kehidupan berjemaah, saling membantu, dan saling berbagi.

Sebagian orang menganggap bahwa gudik atau kudis (scabies) sebagai salah satu akibat dari tradisi kehidupan berjemaah dan saling berbagi di pesantren. Bahkan, terdapat guyonan yang menyebut bahwa status santrinya belum sah apabila belum menderita gudik (kudis), panu, mata ikan, kutu air, atau tumoen (kutu kulit kepala). Ditambah lagi kalau memiliki bekas gudik, artinya ilmunya berkah. Semakin banyak bekas gudiknya, semakin berkah ilmunya. Ada-ada saja! Namanya guyonan, ya sah-sah saja. Untuk menghibur hati supaya tidak dirundung duka akibat bekas gudik di kaki yang tidak kunjung hilang sampai dewasa.

Gudik, yang dalam istilah bahasa di Pesantren Al Tsaqafah dikenal dengan cengkreng, merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (kutu kecil), yaitu Sarcoptes scabiei. Penyakit yang memiliki nama lain kudis, buduk, atau scabies ini menimbulkan rasa gatal yang hebat terutama pada malam hari dan pada suasana panas atau berkeringat. Karena rasa gatal tersebut, penderita akan menggaruk sehingga menimbulkan rasa nyaman dan meredakan gatal dalam waktu sementara.

Akibat garukan tersebut, telur, larva, dan nimfa atau tungau dewasa akan melekat di kuku. Apabila kuku yang tercemar oleh tungau digunakan untuk menggaruk daerah lain, kudis akan menular dalam waktu singkat.

Scabies berhubungan erat dengan kebersihan diri dan lingkungan. Oleh karena itu, mencuci tangan, memotong kuku secara teratur, mandi dua kali sehari menggunakan sabun sangat penting untuk mencegah scabies. Penularan penyakit kulit ini dapat dicegah dengan kebiasaan menyetrika pakaian, mengeringkan handuk, dan menjemur kasur di bawah terik matahari setidaknya seminggu sekali karena tungau akan mati jika terpapar suhu 50 derajat Celcius dalam waktu 10 menit.

Gudik bukanlah penyakit yang menentukan keberkahan ilmu seorang santri, melainkan indikator kebersihan pribadi santri. Santri yang bersungguh-sungguh menjalankan agama, salah satunya dengan berusaha menjaga kebersihan diri dan lingkungan, insyaallah terhindar dari penyakit gudik.

luckyem95@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Matematika Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah