Apa Amal Paling Utama setelah Ibadah Fardu?

ALTSAQAFAH.ID – Rasulullah saw. sering ditanya para sahabat tentang amal ibadah paling utama setelah ibadah fardu. Salah satu hadis yang dapat menggambarkan hal tersebut adalah hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih Al-Bukhari:

حَدَّثَنَا أَبُو الوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ المَلِكِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ الوَلِيدُ بْنُ العَيْزَارِ: أَخْبَرَنِي قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ، يَقُولُ: حَدَّثَنَا صَاحِبُ – هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ – عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Abu Al-Walid Hisyam bin Abdul Malik telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’bah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Walid bin Al-‘Aizar telah mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Aku mendengar Abu ‘Amr Al-Syaibani berkata: “Pemilik rumah ini menceritakan kepada kami (seraya menunjuk rumah Abdullah), ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW: “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab: “Salat pada waktunya.” Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah” ‘Abdullah berkata, “Beliau sampaikan semua itu, sekiranya aku minta tambah, niscaya beliau akan menambahkannya untukku.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, kitab Mawaqit Al-Shalah, bab Fadhl Al-Shalah li Waqtiha, dengan sanad:

حَدَّثَنَا أَبُو الوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ المَلِكِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ الوَلِيدُ بْنُ العَيْزَارِ: أَخْبَرَنِي قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ، يَقُولُ: حَدَّثَنَا صَاحِبُ – هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ – عَبْدِ اللَّهِ

  1. Abu Al-Walid Hisyam bin Abdul Malik
  2. Syu’bah
  3. Al-Walid bin Al-‘Aizar
  4. Abu ‘Amr Al-Syaibani
  5. Abdullah

Sanad hadis yang dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari ini bermuara pada nama Abdullah yang tidak dijelaskan siapa orangnya, dengan hanya menyebut ‘pemilik rumah ini’ sembari menunjuk pada sebuah rumah. Dalam kitab syarah Shahih Al-Bukhari, Fath al-Bari karya Ibn Hajar Al-Qasthalani dan ‘Umdah Al-Qari` karya Badruddin Al-‘Aini, dijelaskan bahwa yang dimaksud Abdullah adalah Abdullah bin Mas’ud.

Selain Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih Al-Bukhari, kitab Mawaqit Al-Shalah, bab Fadhl Al-Shalah li Waqtiha, hadis ini juga diriwayatkan atau dikeluarkan oleh ulama lain dan di kitab yang lain, seperti:

  1. Shahih Al-Bukhari, dalam kitab Al-Adab, dengan sanad yang sama.
  2. Imam Muslim (Shahih Muslim), dalam kitab Al-Iman, dengan sanad dari Ubaidillah bin Mu’adz, Muhammad bin Yahya, Abi Bakr bin Abi Syaibah, dan Utsman bin Abi Syaibah.
  3. Al-Tirmidzi (Sunan Al-Tirmidzi) dalam kitab Al-Shalah dari Qutaibah dan dalam kitab Al-Birr wa Al-Shilah dari Ahmad bin Muhammad Al-Maruzi.
  4. Al-Nasa’i (Sunan Al-Nasa’i) dalam kitab Al-Shalah dari ‘Amr bin Ali dan Abdullah bin Muhammad.

Kekuatan hadis ini dinilai sahih karena termuat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Nabi Muhammad saw. setiap ditanya tentang amal yang paling utama oleh sahabat-sahabatnya, beliau tidak menjawab dengan jawaban yang sama. Dalam beberapa kesempatan, beliau menjawab: “Salat pada awal waktu, jihad, berbakti pada kedua orang tua.” Nabi saw. menjawabnya sesuai dengan kondisi dan situasi saat itu.

Para imam mazhab berbeda pendapat tentang hal ini. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa amal baik yang paling utama setelah ibadah fardu adalah ilmu (belajar) lalu jihad. Imam Al-Syafi’i berpendapat amal paling utama adalah salat, baik fardu maupun sunah. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat jihad fî sabîlillâh adalah amal yang paling utama.

Dengan demikian, amal terbaik atau paling utama setelah ibadah fardu memang bermacam-macam, menurut hadis-hadis Nabi saw. sendiri dan pendapat-pendapat ulama. Akan tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana amal-amal tersebut selalu ajek dilakukan (mudâwamah) dan membawa pelakunya lebih dekat dengan Allah Swt karena hal ini tidak kalah penting, baik amal kecil maupun amal besar.

Daftar Pustaka
– Ibn Hajar Al-Qasthalâni, Fath al-Bârî, (TT: Dar Al-Bayan Al-‘Arabi, Tt)
– Badruddîn Al-‘Ainî, ‘Umdah Al-Qârî` (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 2001)
– Dr. Mushthafa Al-Bughâ & Dr. Muhyiddin Mistawi, Al-Wâfî fî Syarh Al-Arba’în Al-Nawawiyyah (Damaskus, Dar Al-Musthafa: 2010)

akromhalimi@gmail.com   Postingan Lainnya

Kepala Madrasah Aliyah (MA) Al-Tsaqafah, asal Cirebon, Jawa Barat. Santri Lirboyo. Sarjana Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.