Qasidah Burdah dari Masa ke Masa

ALTSAQAFAH.ID – Dalam kesusastraan Arab, ada tiga macam qasidah burdah yang sangat fenomenal. Tiga di antaranya adalah Qasidah Burdah Banat Su’ad karya seorang penyair ulung yang bernama Ka’ab bin Zuhair. Qasidah Banat Su’ad (wanita-wanita yang berbahagia) merupakan qasidah yang dibuat sebagai ucapan maaf Ka’ab bin Zuhair atas celaan yang ia lontarkan kepada Rasulullah saw. Pada 40 bait pertama, Ka’ab bin Zuhair membubuhi dengan syair bertema ghozal atau jenis syair yang di dalamnya berisi tentang ungkapan cinta bagi sang kekasih, seperti menyebutkan tentang wanita dan kecantikannya ataupun segala sesuatu yang berhubungan dengan kisah percintaannya.

        بانت سُعاد فقلبي اليَوم متبول  #   مُتيَم إِثرها لم يفد مَكبول
وما سعاد غداة البَين إِذ رحَلوا   #  إِلّا أَغن غَضيض الطرف مكحول
هيفاءُ مُقبِلَة عجزاء مدبرَة    #   لا يشتكى قصر منها ولا طول
…الخ

Adapun nama burdah dilatarbelakangi oleh burdah (selendang) yang Rasulullah saw. sematkan pada tubuh Ka’ab bin Zuhair setelah terkagum oleh syair yang Ka’ab lantunkan di hadapan Rasulullah saw. Namun, di berbagai kalangan nama qasidah ini lebih populer dengan nama Qasidah Banat Su’ad daripada qasidah burdah, terutama di nusantara.

Kedua adalah qasidah burdah yang hadir sekitar abad ketujuh hijriah dan juga merupakan karya seorang penyair ulung yang dekat dengan raja dan para penguasa, ia bernama Imam Syarafudin Abu Abdullah al-Bushiri atau yang lebih dikenal dengan Imam Bushiri. Dalam Muqaddimah Syarhu al-Burdah karya Imam al-Baijuri, sejarah penulisan qasidah burdah bermula ketika Imam al-Bushiri menderita sakit faalij (strok) yang menyebabkan seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak. Sejak saat itulah rutinitas Imam Bushiri diisi dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan membuat gubahan syiir untuk kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw. Ketika Imam Bushiri tertidur, beliau bermimpi bertemu Rasulullah yang mengusap badannya menggunakan selendang. Kemudian setelah bangun dari tidurnya, beliau sembuh dari penyakit yang diderita.

Qasidah Burdah Imam Bushiri terdiri dari 10 fasal, diawali dengan fasal yang berisi syair ghozal yang terdiri dari 13 bait:

أمن تذكر جيران بذي سلم        #   مجزت دمعا جرى من مقلة بدم
أمْ هبّت الرِّيح مِن تلقاء كاظمة  #     وأوْمض البرق في الظلماء من إضم
…الخ

Imam Bushiri merampungkan 160 bait yang beliau tulis dengan gaya bahasa (stilistika) dan retorika bahasa yang mengandung nilai sastra yang sangat tinggi, makna yang mendalam sehingga dapat mengantarkan pembacanya untuk merasakan kehadiran sang kekasih, Rasulullah saw. Karya inilah kemudian dikenal dengan Qasidah Burdah.

Ketiga, Qasidah Burdah pada era modern atau sekitar abad ke-19 Masehi karya sang pujangga tersohor berkebangsaan Mesir yang bernama Ahmad Syauqi. Qasidah ini juga dikenal dengan nama Nahju Al-Burdah yang berisi tentang pujian-pujian terhadap Rasulullah saw. dengan gaya penulisan yang tak jauh berbeda dari dua burdah sebelumnya. Qasidah ini semakin membumi setelah didendangkan oleh penyanyi wanita berkebangsaan Mesir yang bernama Umm Kultsum dengan judul Sallu Qalbi dan berhasil menghipnotis pendengarnya dengan suara dan penghayatannya yang mendalam.

itsaaaaaapril@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Balaghah dan Insya' di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah