ALTSAQAFAH.ID – Hidup bukan perihal sebuah usaha untuk mendapatkan penghargaan dan pujian dari orang lain. Kisah ini bermula saat hadir dan bertumbuhnya seorang anak yang diimpikan dan menjadi kebanggaan keluarga. Khanaya Hikmatussholiha namanya, seorang anak yang hadir dan tumbuh dengan penuh cinta kasih dan kehangatan keluarga. Seorang anak yang cantik, menawan nan cerdas. Ia tumbuh di tengah keluarga yang berkecukupan serta penuh kasih dan kehangatan.
Awalnya ia gadis kecil yang menawan karena selalu bersikap baik dan senantiasa menuruti perkataan orang tuanya. Kesehariannya penuh dengan aktivitas yang menyenangkan serta rutinitas keilmuan. Ia bersekolah di pondok pesantren ternama di Kota Jakarta Selatan, ia mengikuti program tahfiz (hafalan Al-Qur’an) di sekitar rumahnya, ia mengikuti sanggar tari, dan masih banyak aktivitas lainnya. Selain itu, ia suka membaca buku cerita, dongeng, bahkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan sains. Ia benar-benar tumbuh menjadi anak kesayangan yang penuh kebanggaan. Berkali-kali ia mendapatkan penghargaan lomba membaca puisi, lomba menari, bahkan lomba berpidato. Dengan prestasi yang ia dapat, ia benar-benar menjadi anak yang menawan kebanggaan keluarga. Saat ini ia berusia 13 tahun, ia duduk di kelas dua madrasah sanawiah.
Suatu ketika saat keluarga sedang bersantai di ruang tamu yang penuh kehangatan dan kenyamanan, Khanaya terlibat obrolan dengan sang ayah. Andri Maulana ayahnya, seorang pengusaha tas dan jaket kulit dengan beberapa cabang yang tersebar di Jabodetabek.
Ayah: Dek, karena kamu berhasil mendapatkan kejuaran lomba membaca puisi mewakili sekolah, ayah akan memberikan hadiah untukmu.
Khanaya: Wah, hadiah apa yang akan ayah berikan untuk Khanaya?
Dengan penuh kegembiraan dan mata yang berbinar, Khanaya begitu antusias menimpali obrolan sang ayah.
Ayah: Apa pun yang anak ayah inginkan, akan ayah berikan.
Khanaya: Wah, benarkah Yah?
Ayah: Tentu sayang, sebagai bentuk hadiah untuk anak kebanggaan ayah.
Khanaya: Kalo begitu Khanaya ingin iPad keluaran terbaru Ayah yang tentunya dengan semua kelebihan dan kelengkapan, berkualitas yang sudah diinstal di dalamnya.
Ayah: Wah, tumben anak ayah meminta iPad, baiklah akan ayah berikan dengan senang hati.
Malam itu dihiasi dengan obrolan seru sang ayah dengan anak kebanggaannya, penuh kehangatan dan tentunya canda tawa.
Satu minggu berlalu, Khanaya benar-benar mendapatkan iPad keluaran terbaru dari ayahnya, ia begitu gembira dan memeluk ayahnya seraya mengucapkan terima kasih atas hadiah yang telah diberikan. iPad tersebut selalu ia simpan dengan baik di kamarnya, tak jarang ia juga membawa iPad ke sekolah.
Setelah mempunyai iPad, Khanaya lebih sering berdiam diri di kamar daripada bercengkerama dengan keluarga di ruang tamu. Begitu banyak kelebihan dan kualitas yang baik yang ada di dalam iPad milik Khanaya. Ia memanfaatkan hal tersebut dengan mencoba men-download game, bahkan TikTok serta aplikasi lainnya. Tanpa ia sadari, ia lebih sering bermain game daripada belajar dan membaca. Padahal sebelumnya ia begitu senang setiap kali mendapatkan hadiah buku cerita atau dongeng dari ayah dan ibunya. Ia menjadi anak yang lebih suka menghabiskan waktunya di kamar dengan iPad kesayangannya, tak jarang ia melewatkan jadwal sanggar tari dan tahfiz dengan berbagai alasan yang ia gunakan kepada ayah dan ibunya.
Saat ini ia benar-benar kecanduan bermain game yang terdapat di iPad kesayangannya.
Suatu ketika, ia berpura-pura sakit dan tidak bersekolah hanya agar bisa bermalas-malasan dan bermain game. Sayangnya ibu Khanaya menyadari bahwa sang anak hanyalah berpura-pura sakit dan tidak mau bersekolah hanya agar bisa bermalas-malasan bermain game di rumah. Anisa Mahesa Dewi Ibunya, seorang ibu yang cantik, penyayang, dan penuh kelembutan. Saat itu Khanaya terlibat obrolan dengan sang ibu.
Ibu: Dek, ayok sekolah, sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Ibu tau kamu tidak sakit.
Khanaya: Apa-apan ibu ini, Khanaya tidak mau bersekolah karena Khanaya benar-benar sakit Bu.
Ibu: Kalo kamu benar-benar sakit, ayok kita cek ke dokter.
Khanaya: Tidak mau Bu, Khanaya bilang Khanaya hanya ingin beristirihat di kamar tanpa harus mendengar ocehan Ibu.
Suara itu terlontar dengan lantang dari mulut Khanaya, untuk kali pertama ia membentak ibunya, tanpa sadar sang ibu meneteskan air matanya.
Akibat sikap dan perlakuan Khanaya saat itu, ayah dan ibunya terlibat pertengkaran hebat.
Ibu: Lihat Yah, anak kesayanganmu dulu kini sudah benar-benar berubah. Semua nilainya turun dan lihat dia sekarang Yah, dia benar-benar menjadi anak yang pemalas.
Ayah: Seharusnya saya menyalahkan kamu! Ibu macam apa kamu sampai tidak bisa mendidik anak kamu sendiri, apa yang kamu kerjakan selama ini?
Ibu: Ayah yang selama ini terlalu memanjakan dia sehingga ia bersikap seperti itu terhadap Ibu
Ayah: Kamu yang seharusnya lebih pandai mengatasi dia karena selama ini saya sibuk bekerja, sedangkan kamu lebih banyak berdiam diri di rumah.
Hari itu, benar-benar hari yang buruk. Untuk kali pertama orang tua Khanaya terlibat pertengkaran hebat. Namun, Khanaya hanya bisa termenenung di balik pintu kamarnya, ia tak tau bahwa sikapnya selama ini dianggap sudah kelewatan oleh orang tuanya. Ia benar-benar tidak sadar bahwa Khanaya yang sekarang bukan lagi Khanaya yang dulu. Dulu ia begitu menawan nan cerdas dengan sikap dan tutur kata yang baik. Lagi-lagi Khanaya hanya bisa menangis dan tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa hari berlalu, sejak kejadian hari itu Khanaya belum juga berani meminta maaf kepada orang tuanya, ia bingung harus memulai meminta maaf dengan cara apa. Saat itu, wali kelasnya di sekolah memanggil Khanaya, mengajaknya mengobrol dan bercerita. Khanaya pun menceritakan semua perubahan yang terjadi pada dirinya. Bu Sintia namanya, wali kelas yang disayangi oleh murid-muridnya serta disegani karena keilmuannya. Bu Sintia mendengar dengan saksama, lalu tersenyum penuh kelembutan.
Bu Sintia: Khanaya tau bahwa Khanaya adalah salah satu murid kebanggaan Ibu karena Khanaya memiliki kemampuan literasi yang sangat baik. Ibu selalu berharap Khanaya bisa memotivasi teman-teman yang lain agar teman-teman seumuran Khanaya mencintai dunia literasi, suka membaca, hobi menulis, dan senang menggali ilmu pengetahuan. Karena bangsa yang maju dan berkualitas, bergantung pada penerus bangsa yang berkualitas pula.
Khanaya: Apa Khanaya masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya Bu?
Bu Sintia: Tentu sayang! Langkah awal untuk memperbaiki semuanya, kamu arus berani meminta maaf kepada orang tuamu, serta tunjukkan kepada mereka bahwa Khanaya bisa memperbaiki diri dan bisa menjadi kebanggaan keluarga lagi.
Nak, jadilah peserta didik yang berkualitas karena literasi harus kembali membumi, dengan banyaknya peserta didik yang mencintai dunia literasi, Ibu yakin bangsa ini akan menjadi bangsa yang berkualitas.
Khanaya: Ibu, Khanaya berjanji akan memperbaiki semuanya dan berubah menjadi lebih baik sehingga Khanaya bisa tumbuh menjadi penerus bangsa yang berkualitas dan menjadi kebanggaan keluarga.
Bu Sintia: Minta maaflah kepada orang tuamu dan buktikan kepada ibu janji yang kau lontarkan hari ini. Dua bulan lagi akan ada lomba membaca puisi dengan tema literasi, Ibu ingin kamu berlatih untuk mengikuti perlombaan tersebut dan membuktikan bahwa Khanaya bisa menjadi kebanggaan untuk semua.
Hari itu menjadi hari yang berarti untuk khanaya, ia pulang ke rumah lalu memeluk kedua orang tuanya seraya tak henti mengucapkan kata maaf. Dengan penuh haru, orang tua Khanaya memaafkannya.
Dua bulan berlalu, tibalah waktunya, ia harus mengikuti perlombaan membaca puisi. Dengan semangat dan optimisme yang besar, Khanaya mengikuti lomba tersebut dengan baik sehingga ia berhasil mendapatkan peringkat satu pada perlombaan membaca puisi tingkat Kota Bogor. Saat menerima piala dan penghargaan, Khanaya berpesan kepada teman-teman dan tamu undangan yang hadir pada saat itu. Teruslah membaca karena buku sebaik-baiknya teman yang dapat menjadi jembatan ilmu untuk menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Mari hidupkan literasi bersama dan membuka cakrawala kehidupan manusia karena literasi harus kembali membumi.
Pengajar Bahasa Indonesia

