ALTSAQAFAH.ID – Anemia masih menjadi masalah yang serius di Indonesia, bahkan merupakan masalah kesehatan utama yang diderita oleh kebanyakan anak di negara berkembang. Menurut data Riskesdas (2018), prevalensi anemia berdasarkan karakteristik umur sebanyak 38,5% menimpa usia 0 – 59 bulan, 26,8% usia 5-14 tahun, 32% usia 15 – 24 tahun, 15,1% usia 25 – 34 tahun, 16,7% usia 35 – 44 tahun, dan 18,8% usia 45-54 tahun. Angka ini memperlihatkan bayi dan anak-anak usia sekolah cukup banyak mengalami anemia. Sementara berdasarkan jenis kelamin, perempuan lebih banyak (27%) mengalami anemia dibanding dengan laki-laki (20%). Kemudian apakah anemia itu? Apa saja gejalanya? Apa penyebabnya? Apakah berpengaruh terhadap prestasi siswa? Bagaimana pencegahannya?
Anemia adalah suatu kondisi tubuh saat kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal (WHO, 2011). Hemoglobin adalah salah satu komponen dalam sel darah merah/eritrosit yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkannya ke seluruh sel jaringan tubuh. Oksigen diperlukan oleh jaringan tubuh untuk melakukan fungsinya. Kekurangan oksigen dalam jaringan otak dan otot akan menyebabkan gejala, antara lain kurangnya konsentrasi dan kurang bugar dalam melakukan aktivitas. Hemoglobin dibentuk dari gabungan protein dan zat besi dan membentuk sel darah merah/eritrosit.
Anemia terjadi karena berbagai sebab, seperti kekurangan zat besi, kekurangan asam folat, vitamin B12, dan protein. Anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat gizi faktornya adalah rendahnya asupan zat gizi, baik hewani dan nabati yang merupakan pangan sumber zat besi. Sumber pangan tersebut berperan penting untuk pembuatan hemoglobin sebagai komponen dari sel darah merah/eritrosit. Zat gizi lain yang berperan penting dalam pembuatan hemoglobin adalah asam folat dan vitamin B12. Pada penderita penyakit infeksi kronis, seperti TBC, HIV/AIDS, dan keganasan sering kali disertai anemia karena kekurangan asupan zat gizi atau akibat dari infeksi. Penyebab kedua adalah perdarahan (loss of blood volume), seperti perdarahan karena trauma atau luka yang mengakibatkan kadar Hb menurun, perdarahan karena menstruasi yang lama dan berlebihan. Penyebab ketiga adalah hemolitik, yaitu perdarahan pada penderita malaria kronis. Hal itu perlu diwaspadai karena dapat mengakibatkan penumpukan zat besi (hemosiderosis) di organ tubuh, seperti hati dan limpa.
Gejala anemia yang sering muncul adalah 5L (lesu, letih, lemah, lelah, lalai), disertai sakit kepala dan pusing, mata berkunang-kunang, mudah mengantuk, cepat capai, serta sulit konsentrasi. Secara klinis penderita anemia ditandai dengan pucat pada muka, kelopak mata, bibir, kulit, kuku, dan telapak tangan.
Penyakit anemia ini dapat dialami semua kelompok umur, tetapi salah satu kelompok yang berisiko tinggi mengalami anemia adalah kelompok remaja (usia 10-19 tahun). Masa remaja merupakan salah satu periode terjadinya percepatan pertumbuhan dan perkembangan yang menyebabkan peningkatan akan kebutuhan zat besi dalam tubuh. Pada remaja perempuan, zat besi juga dibutuhkan untuk menggantikan zat besi yang hilang selama menstruasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuniarti, dkk (2021), tingginya kejadian anemia pada remaja putri SMP yang ada di Kecamatan Cempaka, yaitu sebesar 40 %. Faktor yang berhubungan adalah diet yang ketat dan konsumsi suplemen, kurangnya pengetahuan, kebiasaan minum teh, frekuensi makan, dan pendidikan orang tua. Penelitian lain yang dilakukan oleh Apriyanti (2019) menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMAN 1 Pangkalan Kerinci Kabupaten Palalawan.
Apakah ada hubungannya kejadian anemia pada anak usia sekolah dengan prestasi belajarnya? Anemia dapat menyebabkan berbagai dampak buruk, antara lain menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena penyakit infeksi, menurunnya kebugaran dan ketangkasan berpikir karena kurangnya oksigen ke sel otot dan sel otak, dan menurunnya prestasi belajar dan produktivitas kerja. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi, dkk (2017) menunjukkan kejadian anemia yang dialami siswi mempengaruhi prestasi belajar yang diperoleh sehingga disarankan pada siswi untuk memperhatikan makanan yang dikonsumsi dan Tablet Tambah Darah (TTD). Penelitian lain yang dilakukan oleh Siauta, dkk (2018) menggambarkan adanya hubungan yang signifikan antara anemia dengan prestasi belajar pada siswi di SMP Negeri Kelila Kabupaten Mamberamo Tengah. Penelitian lain juga menunjukkan kadar hemoglobin berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa (dengan p value = 0,007) di samping faktor status gizi dan pola konsumsi pangan (CHMK Midwifery Scientific Journal, 2021).
Cara pencegahan dan penanggulangan anemia, di antaranya meningkatkan asupan makanan sumber zat besi, baik dari sumber hewani maupun nabati. Contohnya hati ikan, daging, unggas, sayuran berwarna hijau tua, dan kacang-kacangan. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi perlu mengonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C. Perlu diperhatikan juga zat-zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi, seperti teh dan kopi karena mengandung senyawa fitat dan tanin yang dapat mengikat zat besi menjadi senyawa yang kompleks sehingga tidak dapat diserap oleh tubuh. Tablet kalsium dan obat mag juga dapat menghambat penyerapan zat besi. Upaya penanggulangan lain adalah dengan suplementasi zat besi. Pada keadaan zat besi dari makanan tidak mencukupi perlu didapat dari suplementasi zat besi. Pemberian suplementasi zat besi dengan dosis yang tepat dapat mencegah anemia dan meningkatkan cadangan zat besi di dalam tubuh.
Tulisan ini mudah-mudahan dapat menambah wawasan pembaca mengenai anemia dan dapat berkontribusi untuk menurunkan prevalensi anemia, khususnya pada anak usia sekolah.
Pengajar Ilmu Hadis, Sarjana Ilmu Keperawatan (Profesi Ners) UIN Syarif Hidayatullah

