ALTSAQAFAH.ID – Hari ini 1171 tahun yang lampau, dunia Islam kehilangan salah satu talenta luar biasa dalam bidang hadis bernama Ibnu Majah. Ia wafat pada 22 Ramadan 273 H di kota kelahirannya, Qasvin. Ia dimakamkan di liang lahat yang sama dengan adiknya, Abu ‘Abdillah dan putranya, ‘Abdullah bin Muhammad bin Yazid.
Imam Ibnu Majah bernama asli Muhammad bin Yazid ar-Rabi’ bin Majah. Ia mempunyai kun’yah Abu ‘Abdurrahman dan Ibnu Majah dan nama nisbah al-Quzwaini yang merupakan penyandaran kepada kota tempat ia lahir dan wafat, yakni Kota Qasvin yang dewasa ini termasuk wilayah Republik Islam Iran. Ia hidup sekitar 74 tahun (207/209-273 H) dan mengalami masa kekuasan tiga dinasti: Dinasti Abbasiyah, Dinasti Tahiriyah, dan Dinasti Saffariyah.
Setelah mengenyam pendidikan dasar agama, Ibnu Majah mulai menggeluti bidang ilmu hadis pada umur 15 tahun. Dalam bidang ini, ia berguru kepada seorang muhaddis kawakan Kota Qasvin (dalam ejaan Arab disebut Qazwayn) bernama al-Tanafasi (w. 233 H) selama lima tahun. Ibnu Majah menjalankan safari ilmiah ke pelbagai daerah di dunia Islam, seperti Iraq, Hijaz, Syam, dan Mesir demi mengumpulkan satu demi satu riwayat hadis selama 15 tahun. Di antara guru-guru tempat ia mendapat talaqqi hadis adalah Muhammad bin al-Mutsanna, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Numayr. Ia juga meriwayatkan hadis kepada beberapa ulama, di antaranya adalah Ibnu Sibawayh, Muhammad bin ‘Isa al-Shaffar, Ishaq bin Muhammad, dan ‘Ali al-Qaththan.
Para kritikus hadis memuji Imam Ibnu Majah sebagai sosok yang diakui semua kalangan sebagai muhaddis yang kuat hafalannya, tinggi integritasnya, banyak karya ilmiahnya, dan komprehensif keilmuannya. Imam al-Dzahabi memuji Imam Ibnu Majah sebagai sosok yang kuat dan banyak hafalan hadisnya, pakar dalam bidang sejarah dan hadis, dan berintegritas tindak tanduknya. Ibn Khalkan terkesima dengan kedalaman dan kesempurnaan pemahaman Ibnu Majah akan studi hadis.
Satu karya yang melambungkan nama Ibnu Majah adalah kompilasi hadisnya yang jamak disebut Sunan ibn Majah. Kompilasi ini terdiri dari 4341 hadis tanpa pengulangan. Terdapat 1339 hadis yang tidak diriwayatkan ahli-ahli hadis sebelum Ibnu Majah. Hadis-hadis tersebut dikelompokkan menjadi 38 kitab atau 1500 bab.
Imam Suyuti memuji Sunan ibn Majah karena urutan bab-babnya yang sesuai dengan jenjang pembelajaran hadis: diawali dengan bab-bab meneladani sunah nabi yang merupakan “kewajiban” penuntut ilmu, diikuti dengan bab-bab yang membahas ihwal teologis yang merupakan hal yang wajib diimani oleh mukalaf, serta diakhiri dengan bab-bab tentang keutamaan sahabat-sahabat nabi ra. yang merupakan agen-agen pembawa sunah nabi kepada umat Islam.
Kompilasi ini menjadi satu dari enam buku kompilasi hadis paling otoritatif di kalangan Suni. Enam kompilasi ini yang kaprah disebut Kutubussittah. Para pakar berpendapat bahwa terdapat hadis sahih, hasan, dan daif dalam kompilasi tersebut. Kompilasi ini memiliki keunggulan berupa terdapatnya penjelasan dan catatan tentang beberapa hadis yang termaktub. Beberapa pakar menulis tentang syarah atau penjelasan dari hadis-hadis Sunan ibn Majah, di antaranya al-Sindi dengan karyanya Kifayah al-Hajah fi Syarh ibn Majah, al-Suyuti dengan karyanya Mishbah al-Zujajah ‘ala Sunan ibn Majah, Muhammad al-Muntaqi al-Kisywani dengan karyanya al-Kawakib al-Wahhajah bi Syarh Sunan ibn Majah.
Referensi:
Muntadi al-Thariq ila Allah. (2019). Aimmah al Hadith al-Sittah. Muntadi al-Thariq ila Allah. Dipetik 9 April 2023, dari https://www.noor-book.com/en/ebook
Guru Bahasa Inggris Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

