ALTSAQAFAH.ID – Ketika kita membaca buku, dongeng, dan film tentang kehidupan manusia di masa lalu sering digambarkan dengan kondisi kepurbaan. Gambaran pertaruhan hidup adalah pertaruhan dalam ketidakpastian.
Jika manusia berhadapan dengan singa, pilihannya adalah berani melawan, kemudian bisa memakan dagingnya atau berlari menghindar supaya tidak
menjadi mangsanya.
Manusia akan mengerahkan seluruh kemampuan berburunya, insting, dan kekuatannya untuk mendapat
mangsa buruannya. Manusia akan ertahan hidup dan menghabiskan seluruh waktu kehidupannya untuk mengamankan makanan dan kehidupannya.
Namun, semua itu berubah ketika manusia membangun peradaban: kota, pendidikan, supermarket, pakaian, kendaraan, internet, dan lainnya.
Di peradaban yang serbaada, ketidakpastian masih saja menghantui manusia, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Dahulu, ketidakpastian menjadikan manusia bertindak secepat mungkin karena hanya berpikir tentang kebutuhan makan. Sekarang, ketidakpastian yang dihadapi melekat pada masa depan dengan beragam pertanyaan di benaknya.
Apakah aku bisa terkenal, banyak penggemar?
Apakah aku bisa sekolah tinggi?
Apakah aku bisa punya pekerjaan yang besar?
Apakah aku bisa punya rumah?
Apakah aku bisa membeli mobil impian yang keren dan mewah?
Manusia ingin mendapatkan ini dan itu yang menjadikannya sulit menikmati waktu masa sekarang karena sibuk mengurus skenario masa depan.
Ini mungkin gambaran manusia modern saat ini, tidak hanya ingin bertahan hidup, tetapi ingin mencapai sesuatu hal yang besar. Sesuatu yang memiliki makna dan manfaat bagi dirinya sendiri, bahkan orang lain.
Keinginan manusia juga semakin didukung dengan kemudahan teknologi dalam mengakses informasi, karya seni, konektivitas dengan orang baru, semua itu bisa dilakukan tanpa batas.
Jika kamu seorang pelajar, bagaimana kehidupanmu hari ini? bangun karena alarm, mandi, berganti pakaian, sarapan dengan menu yang sama, berangkat ke sekolah, pulang, bersantai, dan tidur.
Jika kamu seorang pekerja, aktivitasmu tidak jauh berbeda dengan seorang pelajar yang terlihat monoton dengan rutinitas.
Manusia memang mengusahakan banyak hal dari aktivitas yang monoton itu, berdiri di tempat yang sudah dituju dan mengikuti apa yang diinginkan. Namun di satu titik, manusia ini masih berteriak dalam hati, apakah hanya ini?
Seiring waktu yang berjalan, usia bertambah, manusia bertumbuh kembang dengan segala aspek kemampuannya yang menjadikannya memiliki gambaran ideal tentang kehidupannya.
Namun, di saat bersamaan terjadi gejolak pada dirinya, manusia tidak tahu apa yang harus dicapai. Mungkin sebenarnya manusia tahu, bahkan tahu banyak hal, tetapi kebingungan apa yang harus dilakukan.
Seberapa cepat berlari, tidak peduli seberapa keras mencoba meningkatkan kehidupan. Manusia hanya berada di tempat yang sama, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu pencapaian ke pencapaian lain, dari satu tujuan ke tujuan yang lebih besar. Manusia akan kembali pada perasaan tingkat dasar.
Di atas ada gambaran dari pelajar dan pekerja yang melakukan aktivitas rutin, apakah bosan? Mendengar kata rutin saja sudah tergambar dengan jelas.
Bagaimana cara membuat kehidupan ini lebih menarik di era yang serbacepat, kompetitif jika ingin tetap relevan. Mungkin ini bagian dari dalam diri manusia yang harus disadari.
Untuk bisa memberikan detail penting warna dalam setiap momen kehidupan, manusia perlu “melambat”. Memberikan seluruh perhatian terhadap diri, masalah kecil dalam diri, ide-ide, kesenangan, pengajaran, ambisi, kenangan, dan percintaan. Menyadari hal-hal lahiriah dan batiniah sebagai bagian yang integral.
Merasakan dari apa yang telah dibaca, apa yang dibicarakan tentang lingkungan sekitar, warna-warna yang dilihat, orang-orang, pepohonan, awan, dan pergerakan air.
“Pakai hatimu” mulai dari mendengarkan orang, melangkah sambil merasakan keberadaan orang-orang di sekitar, melihat detail apa yang dilihat, dan rasakan di mana pun berada.
Berasal dari Brebes. Pengajar TIK di Pondok Pesantren luhur Al-Tsaqafah. Di samping mengajar, memiliki kegemaran membaca buku, terlebih buku-buku sejarah, literatur Islam, kesenian, jurnal kebudayaan nusantara, dan lain-lain. Suka terhadap hal-hal baru, unik, dan menantang.

