Humor Santri: Pemimpin yang Pandai Merangkai Kata

ALTSAQAFAH.ID – Pada suatu hari, seorang pemuda bernama Slamet pulang ke desanya setelah menyelesaikan pendidikannya di perantauan. Keluarganya menyambut Slamet dengan senyum semringah dan hati yang gembira. Seperempat jam mereka habiskan untuk mengobrol sambil bernostalgia.

Suatu kali ibunya bertanya, “Jadi, rencanamu setelah ini apa, Nak?”

Slamet pun menjawab dengan penuh semangat, “Saya mau jadi pemimpin, Bu. Sebentar lagi kan pemilu 2024.”

“Wah, sulit itu, Nak! Kalau kau mau jadi pemimpin, harus pandai merangkai kata, berkata-berkata manis!” bapak ikut menimpali.

“Oh, gitu ya, Pak,” tanggap Slamet sambil mengangguk-angguk.

Dengan tekad yang kuat, Slamet pun belajar dengan giat agar pandai merangkai kata seperti dosen dan menyusun pidato yang menggugah hati rakyat.

Sampai suatu sore, ketika Slamet sedang bersantai sambil meluncur di media sosial, tiba-tiba dia menemukan sebuah postingan menarik dan viral. Postingan itu berisi sindiran yang ditujukan kepada seorang pemimpin yang pandai merangkai kata dan berjanji manis, tetapi tak bekerja nyata. Slamet pun segera menunjukkan postingan itu kepada ayahnya.

“Tuh, Pak, katanya kalau mau jadi pemimpin harus pandai merangkai kata, tapi kok dia malah dikritik banyak orang?”

“Lho, ya bener toh apa kata bapak? Kau kan bilang mau jadi pemimpin toh, Nak? Kamu enggak bilang mau jadi pemimpin yang baik,” balas bapaknya.

Slamet pun kebingungan, “Kok gitu, sih?”

“Lho ya bener apa kata bapak kau, Nak. Sama saja kayak bapak kau waktu merayu ibu dulu, bilangnya cuma ibu satu-satunya di dunia ini yang bapak miliki. Setelah menikah, bener memang gak punya apa-apa, nggak punya rumah, kendaraan, kerja masih serabutan …,” seloroh Ibu.

Pasangan suami istri itu pun tergelak bersama-sama, meninggalkan putra mereka yang termangu.

 

Penulis: Najwa Rana (Kelas 10 IPS 2)

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya