ALTSAQAFAH.ID – Setelah melalui pergumulan yang cukup panjang, sepasang suami istri memutuskan untuk menyekolahkan anak pertamanya yang baru akil balig ke pondok pesantren. Ini merupakan sejarah bagi keluarga besar mereka yang memiliki kultur Islam abangan. Baru sekarang ada anggota keluarga yang memilih lembaga pesantren sebagai sarana pendidikan anak. Sebagai pionir tentu ada risiko yang harus mereka tanggung. Jika berhasil, bisa menjadi role model yang akan diikuti jejaknya oleh anggota keluarga lainnya. Jika tidak, mungkin mereka akan dipersalahkan, bahkan dicela atas keputusan tersebut.
Oleh karena itu, mereka berdua sangat hati-hati dalam menentukan pilihan. Sejak jauh hari mulai mengumpulkan segala informasi yang berhubungan dengan kepesantrenan, baik melalui referensi dari teman maupun berselancar di internet. Mereka terpukau dengan banyaknya pesantren yang memiliki fasilitas mentereng. Kelas-kelasnya ber-AC, kamar asramanya super nyaman dengan kamar mandi di dalam. Fasilitas penunjang seperti sarana olahraganya pun mumpuni, bahkan ada yang dilengkapi dengan kolam renang dan arena berkuda. Untuk bisa menikmati fasilitas-fasilitas tersebut, tentu ada harga yang harus dibayar. Sebagian besar mematok biaya masuk yang fantastis serta iuran bulanan yang lebih besar dari gaji yang diterima sang suami setiap bulannya. Namun hebatnya, model pesantren-pesantren seperti ini tidak pernah sepi peminat. Dengan pendaftaran satu gelombang saja, kuota siswa baru sudah ludes terisi.
Di awal tahun 90-an, saat mereka beranjak remaja, masantren atau mondok tidak terlalu populer bagi sebagian besar kalangan. Pondok pesantren kalah pamor dibandingkan dengan sekolah umum, baik negeri maupun swasta. Bagi para orang tua, mengirim anaknya untuk memuntut ilmu di pondok pesantren tidak masuk dalam wish list karena berbagai alasan. Salah satunya stigma negatif: kumuh, jorok, korengan, dan terbelakang. Pesantren juga dianggap tidak bisa diandalkan sebagai bekal pendidikan untuk masa depan anak-anaknya. Bagi anak-anak, masantren itu tidak asyik dan jauh dari kata keren, bahkan sebagian menganggap pesantren hanyalah tempat “buangan” bagi anak-anak yang bermasalah.
Namun, seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran beragama di kalangan menengah ke atas serta transformasi yang dilakukan oleh pesantren-pesantren dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan segala sarana penunjangnya, image pesantren pun berubah. Pesantren tidak lagi menjadi alternatif terakhir, tetapi proritas utama bagi banyak orang tua. Hal ini berdampak pada jumlah pesantren yang tumbuh secara eksponensial. Dalam empat dekade terakhir, jumlah pesantren bertambah sembilan kali lipat. Ada lebih dari tiga puluh ribu pesantren yang tercatat di Kementerian Agama RI per tahun 2021.
Setelah memiliki cukup informasi, akhirnya mereka menemukan pesantren yang sesuai dengan kriteria, yaitu berkualitas dan terjangkau. Untuk lebih memantapkan pilihan, mereka sowan kepada seorang ustaz kenalannya untuk meminta pertimbangan dan nasihat. Selain berdakwah, sang ustaz yang penampilannya nyentrik ini mengelola usaha budi daya sayuran organik untuk disuplai ke supermarket.
“Milih pesantren itu jangan cuma melihat megahnya bangunan atau banyaknya santri yang mondok,” ungkap sang ustaz yang usianya hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dari sang suami.
”Lihat dulu legalitas dan akreditasinya. Patokan formalnya itu. Terus cari tau afiliasi mazhabnya. Ahlusunah waljamaah atau bukan. Jangan sampe salah. Kita nggak pengen kan anak-anak kita yang masih “hijau” tentang ilmu agama kemudian disusupi, bahkan didoktrin dengan paham-paham yang berbau radikalisme. Lihat kurikulum dan amaliah harian yang diajarkan di sana. Kitab-kitab apa yang dipakai sebagai referensi. Orientasi pendidikannya juga perlu dipertimbangkan. Maksudnya gini, kalo kita pengen anak kita jadi hafidz, ya masukin ke pesantren yang fokus pada hafalan Al-Qur’an. Ini artinya, porsi pengajaran hafalan Qur’an akan lebih dominan. Sementara untuk pengajaran ilmu fikih misalnya, cuman diajarin dasarnya aja. begitu juga di pesantren lainnya yang nggak ngejar target hafalan, pasti pembelajaran di bidang fikih atau akidahnya lebih dalam. Makanya, ulama-ulama dulu tuh ngajinya enggak di satu-dua tempat saja dan nggak pernah sebentar-sebentar. Sekian tahun ngaji adab di pesantren A, trus ngaji fikih sekian tahun di pesantren B, ngaji tafsir di tempat lain lagi. terus sampe dia merasa cukup bekal untuk mengamalkan ilmunya.”
Sambil mempersilakan mencicipi penganan yang disediakan, sang ustaz melanjutkan uraiannya. “Untuk urusan ini sebaiknya anak juga dilibatkan. Supaya dia juga enjoy ngejalaninnya nanti. Anak pengen mondok karena kesadaran sendiri itu udah harus diacungin jempol. Yang laen mah belom tentu. Kita tinggal ngarahin dan nyiapin bekal terbaik buat dia. Terbaik di sini bukan berarti harus mengada-ngada atau memaksakan diri. Bukan buat adu gengsi.”
Wejangan dari sang ustaz tersebut membuat mereka semakin bulat dalam menentukan pilihan. Pesantren yang mereka pilih sudah sesuai dengan apa yang diisyaratkan. Proses pendaftaran, seleksi hingga penyelesaian administrasi pun berhasil dilalui tanpa ada kendala yang berarti.
Menjelang hari H, bermacam rasa muncul bersamaan. Ternyata, tidak mudah bagi mereka untuk melepas kepergian si sulung untuk masantren di luar kota. Yang paling dominan tentu rasa bahagia dan haru. Keinginan untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren akhirnya terkabul dan yang paling penting, anaknya juga mau. Namun, di saat yang sama, kekhawatiran ikut menyelinap. Bagaimana jika nanti anaknya tidak betah atau terjadi hal-hal kurang menyenangkan seperti yang kerap viral di media? Rasa sedih juga tidak mau ketinggalan, ikut nimbrung. Terutama bagi sang istri. Interaksi dengan anak yang tadinya menjadi bagian dari keseharian harus berubah dan terbatas. Bagi sang suami, yang terasa bukan kesedihan, tetapi kebingungan. Bingung dalam arti bahwa dia tidak tahu harus memberi wejangan apa karena tidak pernah mengalami hal serupa di masa mudanya. Dia tidak bisa berbagi pengalaman perihal suka dukanya masantren yang mungkin bisa menjadi bekal buat anaknya di tempat barunya nanti. Untuk itu, dia mengajak istri dan anak-anaknya kembali sowan kepada sang ustaz sekalian pamit dan minta doa.
“Saya mau ngasih wasiat buat adek dan akang teteh sebagai orang tuanya. Pertama, buat orang tuanya dulu deh, ngirim anak masantren harus memberikan dampak pada perbaikan diri kita. Ini yang sering diabaikan oleh sebagian orang tua santri. Masa anaknya setiap hari berjamaah lima waktu di masjid sementara bapaknya hanya seminggu sekali pas jum’atan doang. Anaknya setiap hari ngaji Qur’an, tapi Qur’an yang ada di rumah berdebu karena jarang dibaca, malu dong. Bener nggak?”
Mereka berdua mengiakan sambil tunduk tersipu. Meski hanya beberapa kalimat, sangat menohok karena memang demikian adanya.
“Buat adek. Saya pesan, jaga adab, terutama kepada guru dan kyai.” kata sang ustaz dengan penuh kelembutan. Kemudian beliau menambahkan bahwa tujuan utama belajar di pesantren bukan sekadar mencari ilmu, melainkan juga mendapat keberkahan ilmu dan salah satu jalan untuk meraihnya adalah dengan akhlak yang terpuji yang di dalamnya terdapat adab.
“Ilmu dikatakan berkah apabila ilmu itu bermanfaat untuk kebaikan. Lalu, bagaimana caranya supaya bermanfaat? Ya diamalkan. Dipraktikkan ke diri sendiri dan orang lain. Ketika sudah diamalkan dan membuat kita lebih mengenal dan lebih dekat dengan Allah, itu berarti ilmunya berkah. Ketika ilmunya diamalkan kepada orang lain dan membuat orang lain tercerahkan, itu artinya keberkahan ilmu sudah diraih. Pokona mah… adek jalanin aja. Semoga Allah menganugerahkan kegembiraan dan keuletan dalam menimba ilmu.”
Semuanya mengamini dan sang ustaz meminta si sulung mendekat, lalu mengecup ubun-ubunnya sambil melafazkan serangkaian doa. Si sulung semakin mantap walaupun masih ada satu hal tersisa yang harus dia ikhlaskan, yaitu perpisahannya dengan gawai. Bukan soal gawainya, tetapi tentang segala sesuatu yang terkoneksi dengan gawai tersebut yang membuatnya berat untuk ditinggalkan.
Wirausaha, penikmat baca, tinggal di Bandung

