Menuju Allah? Muhasabah, bukan Karamah!

ALTSAQAFAH.ID – Sudah seharusnya bagi seorang salik atau murid yang merambah jalan tasawuf untuk melewati tiga tahapan yang mengantarkannya kepada ma’rifatullāh. Tiga tahapan tersebut dikenal sebagai Takhallī (membersihkan diri dari sifat-sifat tercela), Tahallī (mengisi kekosongan jiwa dengan sifat dan amal yang saleh), dan Tajallī (penyaksian kehadiran Allah Swt.) sebagaimana telah disampaikan dalam kitab-kitab rujukan ilmu tasawuf semacam ar-Risālah al-Qusyairiyyah dan  lainnya.

Merupakan suatu hal terlarang bagi seorang salik jika menghendaki salah satu tahapan tersebut tanpa melalui tahapan sebelumnya, seperti halnya jika ada seorang salik yang menghendaki Tahallī atau bahkan mengaku sudah menggapai Tajallī, padahal ia belum tuntas pada tahapan Takhallī, bahkan belum menyentuhnya sama sekali. Sayangnya, hal ini menjadi fenomena yang banyak ditemukan pada pribadi salik yang baru memulai perjalanan spriritualnya. Alih-alih memfokuskan diri untuk mengosongkan dan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, ia malah lebih tergiur untuk mendapatkan keutamaan dan keistimewaan, seperti berharap bisa memperoleh karamah, mengetahui hal-hal gaib, dan lain sebagainya.

Tak heran jika banyak para ulama tasawuf yang kemudian memperingatkan hal ini kepada para salik melalui tulisan-tulisan mereka. Salah satunya yang disampaikan oleh al-‘Ārif billāh Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam magnum opus-nya Al-Hikam:

تَشَوُّفُك إلى ما بَطَنَ فيك من العيوب، خيرٌ من تشَوُّفِك إلى ما حُجِبَ عنك مِن الغيوب

“Keinginanmu untuk mengetahui kekurangan-kekurangan (aib) yang ada dalam dirimu, lebih baik daripada keinginanmu untuk mengetahui kegaiban yang terhalang darimu.”

Hikmah ini memperingatkan kita sekaligus memberikan pengajaran bahwa keinginan seseorang untuk mengetahui kekurangannya (aib), seperti sifat hasud, ria, sombong, dengki, cinta jabatan dan penghormatan, dan aib lainnya, serta kemudian diikuti dengan usaha dan kesungguhan untuk menghilangkan sifat-sifat buruk tersebut, lebih utama dibandingkan keinginan untuk mengetahui hal-hal gaib, seperti sesuatu yang akan datang, ilmu laduni, dan segala bentuk karamah lainnya.

Pengetahuan seseorang atas aib-aibnya adalah salah satu sebab hidupnya hati, yang akan mengantarkan seseorang kepada tahapan selanjutnya untuk menuju Allah Swt. Adapun segala macam bentuk karamah, hal itu murni merupakan karunia dan bonus yang Allah berikan kepada hamba-Nya, bukan sebagai tujuan. Keistimewaan tersebut malah justru dapat menimbulkan sifat angkuh dan congkak apabila seseorang mendapatkannya dengan tanpa terlebih dahulu melalui proses pembersihan hati.

Keinginan memperoleh karamah dan keistimewaan akan pengetahuan hal-hal gaib merupakan keinginan dan hasrat yang berasal dari diri (nafsu) dan ini berarti orang tersebut telah mencederai penghambaannya kepada Allah Swt. dengan menyampingkan tujuan utamanya dan menuju kepada selain-Nya. Salah satu ungkapan masyhur dari kalangan orang-orang sufi:

كُنْ طَالِبَ الاستقامَة ولا تَكُن طالبَ الكرامة

“Jadilah seorang yang mengharap keistikamahan dan jangan menjadi pengharap karamah”

Dalam Qawā’id at-Tasawwuf, Imam Zarruq dengan tegas melabeli orang semacam ini sebagai orang yang makhdū’ bi hawāhu, yakni orang yang tertipu oleh nafsunya disebabkan keinginan dan tujuannya bukan lagi kepada Allah Swt., melainkan hanya untuk mendapatkan keutamaan, keistimewaan, dan keunggulan dari orang lain.

Sebagai penutup, mari sama-sama kita perhatikan dan resapi ungkapan Imam Sarri as-Saqathi berikut ini, dengan sedikit mengutip penjelasan dari Syekh Ibnu Zikri al-Fasi:

مَن عَرَفَ اللهَ عَاش ومن مال إلى الدنيا طاش

“Barang siapa yang mengenal Tuhannya, hatinya tidak akan disibukkan oleh selain-Nya dan ia akan memperoleh kehidupan yang mulia nan tenang. Dan barang siapa yang hatinya condong kepada dunia, niscaya ia akan hidup dalam kehidupan yang sempit karena ia tidak akan pernah merasa puas.”

والأحمق يَغْدو ويَروحُ في لاش والعاقل عن عيوبه فتَّاش

“Orang yang dungu akan selalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tiada artinya serta lalai untuk mempersiapkan diri menghadapi hari pembalasan. Sedangkan orang berakal akan selalu sibuk untuk mencari kekurangan dan aib yang ada dalam dirinya sehingga ia mengetahui bagaimana cara untuk mengobatinya.”

Wallāhu ta’ālā a’lam wa ahkam.

Sumber:

  1. Iqhazhul Himam syarh Hikam. Ibnu Ajibah asy-Syadziliy
  2. Qawaidut Tashawuf. Ahmad Zarrouq asy-Syadziliy
muhamad.hikam.mh@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Ilmu Kalam dan Akidah PPL Al-Tsaqafah. Magister Akidah dan Tasawuf Université Mohammed V de Rabat, Rabat, Maroko.