ALTSAQAFAH.ID – Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah mengadakan Silaturahmi Pengasuh dan Pengurus bersama Wali Santri Baru pada Minggu, 20 Juli 2025. Acara yang berlangsung di Auditorium Al-Tsaqafah tersebut dihadiri langsung oleh pengasuh, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A., beserta jajaran pengurus.
Dalam silaturahmi tersebut, Kiai Said menjelaskan bahwa ada dua amanat yang diterima manusia dari Allah SWT ketika langit, bumi, dan gunung enggan menerimanya.
“Langit tidak sanggup, bumi tidak mau, gunung juga tidak kuat memikul amanah yang ditawarkan oleh Allah. Tetapi, manusia angkat tangan, ‘Kami sanggup’, katanya. Padahal innahu kana dzaluman jahula, manusia punya potensi sangat kurang ajar dan sangat bodoh. Amanah apa itu? Ada dua. Satu, Amanah Ilahiyah, langsung dari Allah, yaitu agama. Agama ini isinya dua: akidah dan syariah. Yang kedua, Amanah Insaniyyah, yang urusannya di muka bumi. Yang ini ada dua: Tsaqafah dan Hadharah,” jelasnya.
Dalam Amanah Insaniyyah, Kiai Said mengungkapkan bahwa manusia dituntut untuk membangun kemajuan-kemajuan di muka bumi ini dengan kecerdasan dan kreativitas yang diberikan Allah sebagai modal dan penggerak utamanya.
“Tsaqafah (itu) ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi, ketertiban, undang-undang, administrasi, kesehatan. Itu namanya Tsaqafah. Apa contohnya itu? Bukan Madinah, bukan Mekkah. Ada Tokyo, (dan) kota-kota di Eropa, itu enggak ada sampah di pinggir jalan. Disiplin, antre, tertib, tenang. Tidak ada copet, tidak ada calo. Kota yang saya sebut tadi, itu sudah mencapai Tsaqafah. Tsaqafah itu maju. Padahal agamanya bukan Islam itu (Tokyo), tapi Shinto,” ungkap Kiai Said.
Lebih lanjut, Kiai Said menyampaikan bahwa umat Islam sekarang tidak lagi menjalankan Tsaqafah sebagai amanah insaniyyah yang diberikan oleh Allah SWT. Kondisi tersebut bisa dilihat dari posisi umat saat ini yang berperan hanya sebagai konsumen dan bukan produsen. Ironinya, kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang sebelumnya pernah terjadi di tubuh umat Islam.
“Kita ini, umat Islam, selalu menjadi konsumen, pemakai, bukan produsen. Pakai HP, produk umat Islam bukan? Mobil, motor, televisi, yang bikin orang Islam bukan? Padahal dulu, cerita dulu ini, waktu Dinasti Abbasiyah. Mulai Harun al-Rasyid, al-Makmun, al-Mu’tashim, al-Watsiq, hingga al-Mutawakkil. Semua orang belajar di Baghdad,” ungkapnya.
“Dokter pertama, itu orang Islam, Abu Bakar al-Razi. Matematika, yang mengarang itu Jabir bin Hayyan. Yang bikin angka nol, itu orang Islam, Yusuf al-Khawarizmi. Yang bikin kacamata itu Hasan bin al-Haitham (Ibnu al-Haitham). Yang bikin alat navigasi, kompas, itu Ahmad bin Majid. Yang pertama kali menyelidiki planet luar angkasa, itu Ibnu Hawqal. Yang pertama kali menyelidiki perjalanan darah dalam tubuh manusia, itu Ibnu al-Nafis,” tutur Kiai Said.
Oleh karenanya, Kiai Said menjelaskan bahwa dengan belajar dan mengaji di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, para santri nanti diharapkan dapat mengambil peran dalam membangun kemajuan-kemajuan di berbagai bidang demi menjalankan salah satu amanah insaniyyah yang diberikan Allah SWT kepada manusia, yaitu amanah Tsaqafah.
“Itulah Tsaqafah, kemajuan. Jadi kita harapkan anak Bapak/Ibu nanti itu dapat menjadi anak yang mutsaqqaf (yang dapat menjalankan amanah insaniyyah Tsaqafah),” jelas Kiai Said.

