Memento Mori adalah ungkapan dari bahasa Latin yang berarti “ingatlah, kau akan mati.” Ungkapan ini sering digunakan oleh para filsuf Stoik Romawi, dan dalam salah satu karya Plato berjudul Phaedo juga ditemukan pembahasan serupa tentang kematian gurunya, Socrates.
Socrates adalah seorang pemikir yang berani mengkritik kebusukan pemerintah Athena hingga akhirnya dipenjara dan dijatuhi hukuman mati. Saat murid-muridnya menangis melihat ia akan dibawa ke pengadilan untuk dieksekusi, Socrates dengan tenang berkata, “Bukankah kematian paling baik adalah mati dengan rela?” Dari sikap ini, kita belajar bahwa bagi Socrates, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bisa menjadi awal dari kehidupan yang sejati.
Refleksi tentang arti kematian juga dapat kita temukan dalam karya modern seperti anime Frieren: Beyond Journey’s End. Frieren adalah seorang elf berumur panjang yang memiliki kekuatan besar untuk mengalahkan iblis. Salah satu temannya, Himmel, punya kebiasaan unik: setiap kali berhasil menyelamatkan desa, ia selalu meminta dibuatkan patung dirinya.
Frieren suatu kali bertanya, mengapa ia selalu melakukan hal itu. Himmel menjawab, “Tujuan hidup adalah untuk dikenang dan diingat. Hanya sedikit saja kamu melakukan hal baik yang mengubah hidup seseorang, maka kamu akan terus hidup dalam kenangan.” Jawaban ini mengajarkan bahwa hidup yang singkat bisa melampaui batas waktu selama kita meninggalkan jejak kebaikan.
Baik Socrates maupun Himmel sama-sama mengingatkan kita bahwa hidup dibatasi oleh waktu. Waktu adalah sesuatu yang amat berharga karena ia terus berjalan meski kita tidak siap atau bahkan tidak menyadarinya. Dalam surat Al-‘Asr ayat 1–3, Allah menegaskan hal ini dengan bersumpah atas nama waktu—sebuah tanda betapa pentingnya ia.
وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Allah mengatakan bahwa manusia berada dalam kerugian besar, kecuali jika mereka menggunakannya untuk empat hal: beriman kepada Allah, berbuat kebaikan, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Menariknya, kata yang digunakan adalah tawāṣaw, yang artinya menasihati secara timbal balik, bukan hanya memberi, tetapi juga menerima. Artinya, kita tidak hanya diajak untuk berbicara, tetapi juga mendengar.
Dari refleksi tentang Socrates, pesan Himmel dalam Frieren, hingga firman Allah dalam surat Al-‘Asr, kita bisa menyimpulkan bahwa ketakutan kita terhadap kematian sering kali muncul dari cara kita menyikapi waktu. Jika waktu dijalani dengan baik, kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju keabadian, baik dalam kenangan orang-orang maupun di sisi Allah. Pada akhirnya, setelah semua renungan ini, muncul sebuah pertanyaan sederhana yang dampaknya begitu besar: What Next?
Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) PPL Al-Tsaqafah. Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

