Pola Pikir Matematis: Bekal Gen Z Hadapi Era Digital

Sejak tahun 1967, era digital masuk ke Indonesia ditandai dengan masuknya komputer pertama kali. Seiring perkembangan waktu, transformasi teknologi berkembang begitu pesat dan mencapai puncaknya pada tahun 2010 hingga sekarang.

Menurut Tapscott, era digital adalah masa di mana teknologi menjadi bagian inti dari kehidupan manusia. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa era digital adalah masa di mana kehidupan manusia sangat bergantung pada teknologi informasi dan komunikasi digital. Era ini ditandai dengan integrasi teknologi ke dalam berbagai aspek kehidupan.

Era digital bagaikan pisau bermata dua. Satu sisi, ia memberikan akses cepat dan mudah terhadap informasi. Tetapi, di sisi lain, ia membuka ruang bagi siapa pun untuk memproduksi informasi tanpa standar aturan yang jelas.

Banyaknya informasi yang terproduksi akhirnya menimbulkan berbagai tantangan baru, terutama masifnya penyebaran berita palsu sehingga sangat sulit untuk memilah informasi yang valid. Banjirnya informasi tersebut jangan sampai membawa kita pada kekacauan data dan penurunan kemampuan berpikir kritis, khususnya untuk Generasi Z yang tumbuh dengan kemudahan dan kecepatan akses ke berbagai informasi melalui internet dan media sosial.

Salah satu berita palsu yang marak terjadi di era ini adalah fenomena lowongan kerja fiktif; sebuah iklan pekerjaan palsu yang dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk menipu pencari kerja. Modus ini memanfaatkan ketimpangan antara harapan dan realitas dunia kerja, serta menggunakan berbagai cara untuk mengelabui korban, seperti menjanjikan gaji tinggi, meminta biaya administrasi, atau menyebarkan informasi melalui media sosial dan situs palsu.

Baca juga:

Dilansir dari finance.detik.com (25/09/2025), pada kolom ekonomi bisnis terdapat sebuah berita tentang modus lowongan kerja fiktif. Modusnya menggunakan jejaring sosial seperti LinkedIn. Korbannya adalah seorang sarjana lulusan baru yang sudah dua tahun menganggur bernama Amisha Datta. Alih-alih mendapat pekerjaan, dirinya malah kehilangan Rp71,74 juta.

Dalam lowongan kerja palsu itu, ia diminta untuk membeli perangkat laptop khusus yang dapat menunjang pekerjaannya setelah lamarannya diterima. Namun, sayang, laptop itu tak kunjung datang hingga ia sadar bahwa dirinya telah tertipu.

Maraknya fenomena lowongan kerja fiktif seperti ini tentu sangat merugikan bagi para pencari kerja. Untuk meminimalkan fenomena tersebut, dibutuhkan cara berpikir yang tepat untuk memfilter informasi yang tidak selalu valid atau akurat. Salah satunya adalah cara berpikir matematis.

Cara berpikir matematis tidak hanya untuk menyelesaikan soal hitungan, tetapi juga untuk menalar, menganalisis, dan memverifikasi kebenaran suatu informasi. Dari fenomena lowongan kerja fiktif, Generasi Z dapat mengacu pada teori Mason tentang cara berpikir matematis. Berpikir matematis terdiri dari empat tahap dan dapat diterapkan dalam menyikapi maraknya penipuan lowongan kerja:

  1. Specializing (Mengkhususkan)
    Generasi Z perlu memfokuskan diri pada detail informasi. Misalnya, apakah perusahaan yang membuka lowongan memiliki alamat kantor resmi, nomor telepon aktif, atau situs web yang kredibel?
  2. Generalizing (Menggeneralisasikan)
    Dari detail yang sudah ada pada tahap sebelumnya, Generasi Z bisa menarik pola umum. Contohnya, lowongan kerja asli biasanya tidak meminta biaya pendaftaran. Dengan menggeneralisasikan ciri-ciri lowongan asli, Generasi Z lebih mudah mengenali yang palsu.
  3. Conjecturing (Membuat Dugaan)
    Pada tahap ini, Generasi Z dapat membuat dugaan berdasarkan data. Jika ada lowongan yang tampak mencurigakan, mereka bisa menduga kemungkinan adanya penipuan. Dugaan ini kemudian menjadi dasar untuk melakukan pengecekan lebih lanjut.
  4. Convincing/Justifying (Meyakinkan)
    Dugaan yang sudah dibuat lalu diperiksa kembali. Tahap terakhir adalah menyimpulkan dan meyakinkan diri sendiri (serta orang lain) apakah lowongan tersebut valid. Kesimpulan ini harus diperkuat dengan memeriksa sumber resmi, seperti situs perusahaan, portal rekrutmen terpercaya, atau testimoni dari orang yang pernah melamar.

Dengan melatih pola pikir matematis, Generasi Z dapat meminimalkan kerugian finansial akibat penipuan lowongan kerja, mengurangi penyebaran informasi palsu dengan tidak ikut membagikan lowongan yang belum terverifikasi, serta membangun budaya kritis dalam mencari peluang karier, sehingga lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja di era digital.

Fenomena lowongan kerja fiktif hanyalah salah satu dari sekian banyak tantangan era digital. Masih banyak tantangan di era digital yang serba cepat ini. Dengan fondasi cara berpikir matematis ini, diharapkan Generasi Z dapat mengatasi tantangan yang ditimbulkan di era digital yang penuh informasi, di antaranya: meminimalkan informasi tidak akurat untuk berkembang biak, mencegah adu domba melalui informasi yang tidak valid, serta tidak mudah termakan manipulasi informasi.

Kemampuan berpikir matematis tidak hanya dapat diterapkan untuk menganalisis suatu informasi saja, tetapi juga dalam kehidupan profesional mereka di masa depan. Melalui pendidikan yang menekankan pada cara berpikir matematis, Generasi Z sudah otomatis mempunyai salah satu alat navigasi yang efektif dan bertanggung jawab dalam mengarungi luasnya samudra informasi digital.

 

Daftar Pustaka

Oktaviani, M., & Hanifah, H. (2025). Analisis Proses Berpikir Matematis Siswa Menurut Teori Mason. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika9 (2), 576-588.

Pahit! 2 Tahun Nganggur, Sekalinya Dapat Kerja Malah Ditipu Rp 71 Juta, https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8129467/pahit-2-tahun-nganggur-sekalinya-dapat-kerja-malah-ditipu-rp-71-juta.

fahmiathallah70@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Matematika PPL Al-Tsaqafah. Pegiat One Piece dan Fans Manchester United (MU).