Lagu “Wake Me Up When September Ends,” dipopulerkan Green Day, sudah menjadi bagian budaya pop dunia, tak terkecuali di Indonesia. Lagu ini kerap kali dijadikan meme ataupun sekadar sebagai suara latar story di media sosial utamanya ketika bulan September datang.
Terinspirasi dari Kisah Pribadi Sang Vokalis
Seperti yang dikutip dari situs web American Song Writer, lagu keempat dari Album American Idiot (2004) secara resmi menceritakan kenangan pahit vokalis Green Day, Billie Joe Amstrong, yang ditinggal mati ayahnya karena kanker pada 10 September 1982. Setelah pemakaman orang yang begitu dicintainya itu, Billie pulang ke rumah, dan mengunci diri di kamar. Ketika ibunya mengetuk pintu kamar, Billie mengatakan, “Wake me up when September ends!” (Bangunkan aku ketika September berakhir!).
Hal ini diafirmasi oleh Billie pada sebuah wawancara di Howard Stern Show. Billie, yang menulis sendiri lirik “Wake Me Up When September Ends,” secara eksplisit menceritakan bahwa ia sangat terpukul atas kepergian ayahnya pada bait pertama lirik lagu yang langsung menempati peringkat pertama tangga lagu di Republik Ceko dan Kroasia, dan peringkat enam di Billboard Hot 100 Amerika Serikat.
“Wake Me Up When September Ends” dan Budaya Pop
Bisa jadi karena secara eksplisit menyebutkan “September” dalam judul dan liriknya, lagu ini dihubungkan dengan salah satu peristiwa kontroversial di AS yang terjadi pada 11 September 2001, yakni ditabraknya gedung World Trade Center oleh dua pesawat yang dibajak sekelompok teroris. Tragedi yang kerap disebut 9/11 ini juga meninggalkan duka bagi keluarga dari para korban yang tewas, sebagaimana duka Billie Joe yang ditinggal mati ayahnya.
Di Indonesia, lagu yang dirilis pada 2004 ini kerap dikolaborasikan dengan konten tentang Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Sebagaimana 9/11, G30 S juga menyimpan pelbagai kontroversi yang tak lekang oleh waktu, utamanya mengenai siapa dalang di balik dua peristiwa berdarah ini dan apa motif di baliknya.
Keselarasan yang Tersembunyi dengan Narasi Album
Kendati ikonik, lagu ini tak absen dari kritik. Melalui situs Loudwire, Jake Richardson mengklaim bahwa ”Wake Me Up When September Ends” tidak begitu nyambung dengan narasi utama album “American Idiot” yang secara lantang mengkritik kebijakan-kebijakan AS, terutama masalah politik luar negeri dan imigrasi.
Klaim ini perlu dikaji ulang jika kita menelaah dengan seksama video klip dari lagu yang telah diputar lebih dari satu miliar kali di Spotify ini. Video klip besutan Samuel Bayer tersebut secara tersurat mengkritik kebijakan luar negeri presiden Amerika Serikat saat itu, George Walker Bush Junior, utamanya kebijakan memerangi Irak dengan presidennya, Saddam Husein.
Sinopsis Video Klip
Video klip yang mendapat suara terbanyak kedua dalam polling video klip terbaik 2005 versi majalah Rolling Stones ini menceritakan hubungan asmara sepasang kekasih (diperankan oleh Jamie Bell dan Evan Rachel Wood) yang akhirnya hancur karena kebijakan perang rezim Bush.
Jamie memutuskan bergabung dengan tentara AS, meskipun sempat terjadi perdebatan antara dia dan Rachel. Jamie ditugaskan untuk berdinas di Irak. Nahas, saat melakukan patroli, regunya diserang. Beberapa rekannya tertembak, dan kemudian terkapar.
Video klip tersebut ditutup dengan adegan Rachel yang sedang termenung sendirian di ladang tempat ia dan Jamie biasa bertemu. Adegan ini diselingi dengan keadaan Jamie yang tengah terdesak. Dua adegan ini menyiratkan bahwa Rachel dan regunya tewas dalam penyergapan tadi.
Kritik terhadap Rezim Maniak Perang
Lewat video klip ini, Green Day ingin mengkritik pemerintahan AS yang mengeluarkan kebijakan invasi ke negara lain. Selain menyalahi hukum internasional, kebijakan ini juga mengorbankan tentara AS sendiri. Masing-masing mereka harusnya hidup bahagia bersama keluarga, bukan menjadi ‘tumbal’ dari nafsu kekuasaan AS.
Menurut laporan PLOS Medicine, invasi AS dan sekutunya di Irak pada 2003-2011—kerap disebut Perang Teluk II—memakan korban sejumlah 460 ribu jiwa, dengan 210 ribu di antaranya adalah warga sipil Irak.
Seperti kata pepatah “Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu,” bukan hanya warga sipil dan tentara Irak yang menjadi korban invasi keji AS, tetapi juga para tentara AS yang menjadi pion dalam peperangan. Huffington Post mewartakan bahwa ada 4.400 tentara AS tewas dalam perang yang berlangsung lebih dari delapan tahun tersebut.
Biro Statistik Pekerja AS mengungkapkan bahwa 600 ribu veteran AS pada Perang Teluk II harus menerima takdir untuk menghabiskan usia sebagai penyandang disabilitas. Angka-angka tadi belum mencakup jumlah tentara yang ‘terluka secara mental.’ Menurut laporan Departemen Urusan Vetaran AS, lebih dari 7.700 tentara menderita Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD).
Simbol-Simbol Tersirat
Jika diperhatikan sekilas, lirik dan video klip “Wake Me Up When September Ends” terkesan kurang nyambung. Bagaimana bisa kisah trauma karena kehilangan ayah dijajarkan dengan cerita sepasang remaja yang tengah kasmaran terpisah karena dinas ketentaraan? Namun, jika ditelaah lebih seksama, keduanya menyampaikan pesan yang sama.
Lirik lagu menceritakan kisah haru Billie, sang vokalis, yang kehilangan ayahnya karena kanker, sementara video klip bercerita tentang elegi Rachel yang kehilangan kekasihnya, Jamie, karena kebijakan perang AS yang menumbalkan warganya sendiri.
Sutradara video klip ini secara tersirat ingin menganalogikan rezim Bush yang maniak perang dengan kanker. Keduanya punya sifat yang destruktif, yakni bisa menghilangkan nyawa anak manusia. Uniknya, dalam video klip tidak ditampilkan entitas penyerang regu Jamie. Yang ditemui Jamie dan regunya justru adalah dua anak kecil yang tengah duduk dan seorang perempuan.
Menurut hemat penulis, ini adalah simbol bahwa sejatinya rezim Bush (dan pemerintahan AS secara umum) tak punya musuh yang mengancam eksistensi mereka. Yang terjadi justru AS-lah yang menciptakan musuh mereka sendiri dengan menyerang negara-negara lain yang tak mau tunduk kepada mereka.
Keberadaan dua anak kecil dan seorang perempuan dalam video klip tersebut menyimbolkan siapa yang sejatinya jadi target invasi AS yang brutal, yakni warga sipil yang tak berdaya khususnya perempuan dan anak-anak.
Seperti yang disebutkan di atas, korban jiwa dari warga sipil Irak mencapai 210 ribu jiwa. Jumlah ini belum termasuk sederet kasus pelanggaran HAM yang dilakukan AS dan sekutunya, seperti penyiksaan dan pelecehan tahanan di Penjara Abu Ghraib, Pembantaian Haditha, penggunaan bom Fosforus yang menyasar warga sipil, pemerkosaan di Mahmudiyah, dan masih banyak lagi.
Guru Bahasa Inggris Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

