Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah menyelenggarakan seminar motivasi belajar, Sabtu (27/09/25). Seminar yang berlangsung di auditorium ini bertujuan untuk memotivasi para santri agar mengejar pengalaman baru dengan melanjutkan studi di luar negeri, khususnya di Timur Tengah.
Seminar ini mengundang dua alumni Al-Tsaqafah sebagai narasumber: Nahdlatus Sholihah (Kak Iha), alumni angkatan ke-5 yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir; dan Muhamad Husni Abdul Majid (Kak Husni), alumni angkatan ke-4 yang baru saja menyelesaikan studinya di Universitas Ibnu Thufail, Kenitra, Maroko.
Kak Husni dan Kak Iha membagikan pengalaman mereka selama belajar di luar negeri, mulai dari perbedaan kurikulum, gaya hidup, hingga kiat beradaptasi dengan lingkungan baru. Keduanya juga memberikan motivasi agar para santri tidak takut untuk berkuliah di luar negeri.
”Orang yang menuntut ilmu jangan takut tidak punya uang, karena kalau untuk belajar, pasti ada rezekinya,” ujar Kak Husni.
Kak Iha juga memberikan kiat agar para santri tetap istikamah dalam menuntut ilmu. Menurutnya, penting untuk memiliki lingkungan yang suportif, teman-teman yang benar, serta tujuan yang jelas, baik jangka pendek maupun panjang.
“Yang paling penting,” tegasnya, “kalian harus tekankan niat dan tekad dalam hati jika ingin belajar di luar negeri. Ingat tujuan utamanya!”
M. Emil Hardy, santri kelas 12, mengungkapkan bahwa seminar ini menjawab rasa penasaran para santri yang selama ini hanya mendengar kabar tentang alumni yang studi di luar negeri, tanpa pernah bertemu langsung.
”Jadi, kayak, kita dulu pernah dengar banyak alumni Al-Tsaqafah ke luar negeri. Tapi, kayak, mana, sih, emang alumninya? Enggak pernah lihat ke sini, gitu. Sekarang akhirnya baru tahu dan ternyata seseru itu belajar di luar negeri habis mereka ceritain,” tuturnya.
Seminar yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini mengajarkan para santri bahwa tekad dan keyakinan dalam menuntut ilmu tidak hanya membuat mereka berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membanggakan nama pondok, orang tua, dan negara.
Juru warta: Nadya Atsilah Amany (9.3), Aiesa Andrea Fatihah (9.3)

