Tagar #BoikotTrans7 dan Luka Kolektif Para Santri

Mengintip traffic pada Google Trends minggu ini, penelusuran terhadap stasiun televisi Trans7 berhasil naik pesat pada Senin, 13 Oktober 2025, dibandingkan hari-hari sebelumnya yang cenderung datar. Kenaikan ini disebabkan oleh sebuah episode tayangan pada program Xpose Uncensored yang menyinggung kaum santri dan Pesantren Lirboyo dengan memberikan framing buruk terhadap pondok pesantren.

Konten tersebut memunculkan narasi dan visual yang melecehkan martabat santri, kiai, dan budaya pesantren secara keseluruhan. Dampaknya, pada jagat maya, isu ini menjadi perbincangan hangat yang menimbulkan pro dan kontra di kalangan warganet. Meski segelintir dukungan coba dilontarkan—misalnya oleh akun M. Firman dengan tulisan “Demi MotoGP #DukungTrans7″—reaksi tersebut tak sebanding dengan luapan amarah mayoritas warganet yang menggagas seruan boikot Trans7 melalui tagar #BoikotTrans7.

Kesalahan Fatal Trans7

Menjelang Hari Santri Nasional (HSN) pada 22 Oktober nanti, sangat disayangkan Trans7 justru berulah dengan tindakan yang menyulut amarah para santri. Sebagai stasiun TV nasional, Trans7 telah melakukan kesalahan fatal dengan menayangkan program berisi konten yang provokatif, menyudutkan, dan tidak berimbang tanpa riset mendalam tentang tradisi serta budaya pesantren.

Pesantren bukanlah sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah ekosistem budaya, moral, dan intelektual yang menjadi urat nadi bagi jutaan masyarakat Indonesia. Ia adalah benteng tradisi dan keilmuan yang telah teruji oleh zaman.

Baca juga: Mengapa Trans7 Gagal Membaca Pesantren?

Oleh karena itu, ketika sebuah tayangan media massa—yang memiliki jangkauan nasional—menyajikan citra pesantren secara serampangan, reaksi yang muncul bukanlah sekadar ketersinggungan, melainkan pembelaan terhadap martabat sebuah institusi yang telah mengakar kuat dalam sejarah bangsa.

Reaksi keras dari jejaring kaum santri ini menunjukkan betapa solidnya ikatan solidaritas mereka. Ikatan ini melampaui batas geografis, di mana alumni sebuah pesantren akan selalu merasa terhubung dengan almamater dan guru-gurunya.

Terlebih lagi, yang disoroti adalah Pesantren Lirboyo, Kediri—salah satu pondok pesantren tua yang oleh Gus Kautsar dari Ploso disebut sebagai “salah satu pondok pesantren tergagah di Indonesia”, karena jumlah santrinya puluhan ribu dan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia.

Belakangan ini, Trans7 memang mengakui bahwa tayangan tersebut berasal dari pihak eksternal, yaitu production house (PH) Shandika. Namun, pengakuan kelalaian dalam pengawasan dan kualifikasi produksi ini justru menunjukkan standar redaksi dan sensor internal mereka yang sangat buruk. Sudah selayaknya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meninjau dan mencabut izin siaran Trans7.


Data traffic Google Trends terkait Trans7 memang menunjukkan lonjakan drastis, tapi ini bukan karena prestasi positif, melainkan karena luka yang ditimbulkannya. Harapan untuk mengejar trending, traffic, dan cuan lenyap seketika karena kesalahan fatal yang menyinggung banyak pihak.

Insiden ini seharusnya menjadi pengingat keras bagi seluruh pelaku industri media. Risiko reputasi yang ditimbulkan oleh konten nir-empati jauh lebih merusak dari sekadar kerugian finansial jangka pendek.

Kepercayaan publik yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam sekejap akibat kelalaian dalam menjaga sensitivitas sosial dan budaya.

Semoga hal ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak agar selalu membuat konten yang mendidik dan mengedepankan akhlak, tanpa menyinggung atau mendiskreditkan berbagai kalangan.

Dalam lanskap masyarakat Indonesia yang majemuk, literasi budaya bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan bagi insan media.

safi3k@gmail.com   Postingan Lainnya

Pengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)