Aswad bin Yazid, Seorang Zuhud yang Khatam Al-Qur’an Dua Hari Sekali saat Ramadan

ALTSAQAFAH.ID – Ramadan adalah bulan yang mulia, berbagai cara Allah Swt memuliakan bulan ini, di antaranya Ramadan merupakan satu-satunya nama bulan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Memang dalam Al-Qur’an Allah menyebut bahwa jumlah bulan itu ada dua belas, tetapi secara spesifik tidak menyebut namanya, paling-paling hanya sebatas arba’atun hurum (empat bulan yang mulia) atau asyhur al-ma’lumat (bulan-bulan yang telah dimaklumi).

Kemudian Allah Swt juga memuliakan bulan ini dengan menurunkan Al-Qur’an. Telah kita ketahui bahwa setiap yang bersentuhan langsung dengan Al-Qur’an pasti mulia, seperti Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka beliau menjadi orang yang paling mulia sehingga menjadi Sayyid al-Anbiya` wa al-Rusul (pemimpinnya para nabi dan rasul). Al-Qur’an dibawa oleh malaikat Jibril, maka ia menjadi malaikat yang paling mulia sampai disebut Sayyid al-Malaikah (pemimpinnya para malaikat). Al-Qur’an diturunkan di kota Mekah, maka Mekah menjadi kota yang paling mulia sehingga disebut Makkah al-Mukarramah. Al-Qur’an diturunkan di suatu malam tanggal 17 Ramadan, maka malam itu menjadi malam yang paling mulia sehingga disebut Lailah al-Qadar (malam kemuliaan) yang tak lain malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Seperti Aswad Bin Yazid Bin Qais Bin Abdullah atau nama kunyah-nya Abu ‘Amr an-Nakha’i al-Kufi (w. 75 H), seorang zuhud dari golongan tabiin yang banyak berguru pada para sahabat. Beliau mengetahui akan kemulian bulan Ramadan sehingga selama bulan Ramadan ia mengkhatamkan Al-Qur’an dua hari sekali, padahal selain bulan Ramadan rutinitasnya mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali. Oleh karena itu, beliau dijuluki sebagai Shawwam (orang yang banyak berpuasa), sampai badannya kurus dan lidahnya hitam karena mengering musabab banyak berpuasa. Namun saat lidahnya mengering, beliau membasahinya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Selain itu beliau juga seorang Qawwam (banyak salat malam) dan Hajjaj (banyak hajinya).

Musabab itulah para ahli sejarah memuliakan dan mengapresiasi Aswad Bin Yazid dengan mengatakan bahwa ia adalah seorang pembaca Al-Qur’an, tetapi juga banyak mengerjakan salat. Seorang pejalan, tetapi banyak berpuasa. Seorang ahli fikih, tetapi zuhud. Oleh karena itu, penulis mengajak kepada pembaca untuk memuliakan bulan suci ini dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an dan memperbanyak salat malam semoga hal tersebut menjadi wasilah kemuliaan hidup. Amin.

nudiaz.anbu29@gmail.com   Postingan Lainnya

Kepala Asrama Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah