Di bentangan heningnya gurun yang tak berirama
Jejakmu mengukir kisah cinta yang abadi
Bukan sekadar jejak di pasir fana
Akan tetapi risalah langit yang luruh ke bumi
Cakrawala menangis kala kau bersujud
Bintang-bintang tersipu malu tak seindah nur di wajahmu
Engkau mengembara dalam badai, tapi tak menggigil ragu
Karena dalam dadamu, wahyu Ilahi menari syahdu
Lisan yang dihina tak membalas luka
Tangan yang dilontarkan batu tetap menabur doa
Cintamu, ya Rasulullah, tak pernah meminta balas
Ia mengalir seperti mata air di padang tandus yang lepas
Kala kelam menggulung sunyi di atas pasir
Engkau bangkit bukan untuk diri, tapi untuk umat pencari belas kasih
Dalam kebisuan langit malam engkau menangis lirih
“Ummati… ummati,” dalam cinta yang tak pernah letih
Engkaulah rembulan di padang gelap
Sinarmu lembut, namun menembus gulita
Engkaulah pelita dari langit yang menyapa
Menuntun jiwa dari nestapa menuju cahaya
Tak ada mahkota di kepalamu yang mulia
Tetapi seluruh semesta bershalawat padamu dengan suka cita
Tak ada istana tempat engkau bertahta
Namun asmamu tumbuh dalam kalbu yang tak pernah padam
Jejakmu di padang pasir bukan hanya tapak
Tapi pelajaran cinta yang tak pernah retak
Yang mengajarkan bahwa sabar adalah kekuatan
Dan kasih adalah senjata paling menawan
Wahai Kekasih Allah, penyejuk hati yang terluka
Ijinkan kami bersandar pada syafaatmu kelak di surga
Risalahmu telah sampai ke zaman kami yang jauh
Sehingga rinduku padamu, tak pernah luluh…
Wali santri dari M. Alif Akbar Noor (12 IPA 1)

