Fenomena Bahasa Jaksel, Perlukah Dipertimbangkan di Kelas Bahasa?

ALTSAQAFAH.ID – “Miss, To be honest (TBH), saya literally kurang interest dengan metode tutor sebaya ini karena I think itu confusing. Saya merasa awkward jika harus using English sama teman-teman. Somehow, saya belum punya enough kosakata,” kata salah satu siswa saya, yang memberikan pendapatnya ketika kegiatan refleksi pelajaran bahasa Inggris dengan model pembelajaran tutor sebaya.

Saat itu, saya merasa ketidakpercayaan dirinya menutupi kemampuan berkomunikasinya yang sudah menggunakan banyak kosakata bahasa Inggris yang nyatanya telah ia miliki.

Bagi sebagian orang, penggunaan bahasa tersebut terasa dipaksakan. Namun, sebagai pengajar saya sangat merasa senang dan terbantu dengan pola bahasa ini. Hal ini karena kosakata bahasa Inggris yang dimiliki para siswa menjadi bukti bahwa kosakata tidak hanya dihafal, tetapi juga digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Adapun terjadinya campur bahasa di ruang kelas ini menunjukkan adanya fenomena kekinian, yaitu “bahasa Jaksel (Jakarta Selatan)” dapat ditemukan di lingkungan belajar.

Secara geografis, Jakarta merupakan ibu kota negara Indonesia yang secara otomatis menjadi pusat perhatian warganya, termasuk generasi mudanya (Rusyadah, 2020). Salah satu bagian Jakarta yang banyak dijadikan kiblat kawula muda adalah bagian selatan yang dihuni banyak influencer yang diduga memengaruhi mulai dari gaya hidup sampai bahasa Inggris yang digunakan oleh remaja sebagai bahasa sehari-hari dalam aktivitas bersosial media mereka. Sehingga terbentuklah suatu assosiasi bahwa anak Jaksel merupakan anak yang berada di kalangan elite dan terpelajar karena mereka telah pandai menggunakan dan mencampur bahasa Inggris dan Indonesia (Balqis et al., 2022).

Fenomena bahasa Jaksel merupakan penggunaan bahasa, baik oleh individu maupun kelompok masyarakat dengan cara menggabungkan dua bahasa (Indonesia dan Inggris), dengan mengubah arti dari beberapa kosakata bahasa Inggris ke Indonesia. Beberapa penggunanya pun beralasan, ada beberapa kosakata bahasa Inggris yang tidak bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia karena artinya dirasa tidak equivalent atau tidak setara. Bahkan, tidak jarang beberapa kosakata bahasa Inggris yang digunakan terkadang membentuk makna baru bagi penggunanya. Contoh kata flexing yang secara harfiah adalah meregangkan. Namun, bagi penutur bahasa Jaksel ini, flexing bermakna pamer.

Maka dari itu, perlu diketahui bahwa bahasa Jaksel ini hanya bisa diterjemahkan berdasarkan konteks pemakaiannya. Penggunaan Urban Dictionary/Chat GPT bisa menjadi salah satu solusi untuk mempermudah kita dalam menerjemahkan bahasa ini.

Fenomena ini dapat dipahami melalui kacamata sosiolinguistik yang umumnya mengkaji tentang hubungan antara keadaan sosial yang ada dan bagaimana bunyi, kata, struktur bahasa diproduksi dan digunakan.

Pola bahasa ini menjadi fenomena baru dan ramai digunakan di kalangan masyarakat, baik generasi milenial maupun zilenial atau gen Z (Balqis et al., 2022).

Mengapa Milenial dan Gen Z?

Menurut Wardhaugh (2022) dalam perspektif sosiolinguistik, fenomena bahasa Jaksel ini tidak dapat dihindari sejak di dalamnya terdapat faktor age grading, yaitu sebuah konsep yang merujuk pada proses masyarakat atau kelompok dalam memberikan status, peran, atau tanggung jawab tertentu kepada individu berdasarkan usia mereka. Milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980 – 1995, sedangkan gen Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1995 – 2010 (Wijoyo et al., 2020). Dengan kata lain, dua generasi ini berstatus sebagai generasi muda saat ini.

Oleh karena itu, terasa sangat wajar bagi milenial dan gen Z untuk menggunakan bahasa ini karena bahasa Jaksel ini hadir dan diterima dengan baik di kalangan mereka yang berusia lebih muda. Namun, di sisi yang berbeda, bahasa ini sering memicu konflik kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara gen Z dan orang-orang yang berbeda generasi, seperti generasi X dan Boomer karena limitasi kosakata bahasa yang diproduksi berbeda. Sehingga, jika digunakan di lintas generasi akan kurang sopan dan diterima. Contoh penggunan kata “pendapat saya”, terasa akan lebih memiliki fungsi sosial yang sopan daripada I think (Allan & Burridge, 2006).

Di sisi yang lain, ada pula siswa saya yang enggan, bahkan tidak menggunakan bahasa Jaksel tersebut walaupun mereka juga bagian dari gen Z. Hal ini pun terjadi karena regional, etnis, bahkan jenis kelamin turut menjadi faktor yang menyokong fenomena “kejakselan” ini.

Karenanya, istilah Jaksel ini menjadi judul fenomena yang mengandung istilah regional yaitu, Jakarta Selatan. Tidak jarang, siswa pengguna bahasa Jaksel ini kerap dirasa terlalu banyak mengubah arti penggunaan bahasa dan berujung pada penghakiman dari lingkungannya berupa, “Sok Inggris”.

Maka, akan terasa wajar saja apabila siswa lain yang bukan berasal dari Jaksel dan sekitarnya merasa fenomena ini tidak relevan dengan daerah tempat mereka tinggal, termasuk dengan gaya berbicaranya.

Adanya fenomena ini, sebagai seorang pengajar bahasa Inggris, saya pun merasa harus bijaksana. Fenomena bahasa Jaksel ini akan banyak memengaruhi perencanaan, metode, bahkan cara mengevaluasi pembelajaran karena para siswa sudah jelas memiliki bank kosakata yang bervariasi. Di sinilah, peran perencanaan pembelajaran yang berdiferensiasi diperlukan walaupun tidak bisa dimungkiri fenomena bahasa Jaksel ini mampu dimanfaatkan sebagai sarana penambahan kosakata yang natural dengan melibatkan metakognisi siswa ketika mereka saling berinteraksi satu sama lain.

 

Referensi:
Allan, K., & Burridge, K. (2006). Forbidden words: Taboo and the censoring of language. In Forbidden Words: Taboo and the Censoring of Language. https://doi.org/10.1017/9780511617881
Balqis, H. A., Anggoro, S. D. A., & Irawatie, A. (2022). Bahasa Gaul “Jaksel” Sebagai Eksistensi Di Kalangan Remaja Jakarta. IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial Dan Humaniora, 7(1), 24–32. https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v7i1.2262
Wardhaugh, R. (2022). An Introduction to Sociolinguistics, Sixth Edition. In An Introduction to Sociolinguistics, Sixth Edition (V). Blackwell. https://doi.org/10.4324/9780367821852
Wijoyo, H., Indrawan, I., Cahyono, Y., Handoko, A. L., & Santamoko, R. (2020). Generasi Z & Revolusi Industri 4.0 Penulis. In N. R. Briliant (Ed.), Pena Persada Redaksi (1st ed.). PENA PERSADA.

syifadwimutiah@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Bahasa Inggris Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah