FOMO (Fear of Missing Out) adalah fenomena yang sekarang banyak terjadi di berbagai kalangan. Bukan hanya di kalangan Gen Z, tetapi juga di kalangan anak-anak, remaja, hingga orang tua. Dalam bahasa gaul, FOMO sendiri berarti takut ketinggalan atau kudet (kurang update). Orang yang terindikasi gejala FOMO akan ditemukan beberapa tanda-tanda, seperti cemas ketika ketinggalan model/trend, takut tidak memiliki barang baru yang sama seperti orang lain, dan lain sebagainya.
Penyebab FOMO ada beberapa hal, seperti kecanduan sosial media, mudahnya penggunaan gadget yang di dalamnya bisa mengakses banyak dan berbagai hal sosialita di kalangan perempuan, dan kebutuhan tambahan yang dilebih-lebihkan. Walaupun FOMO juga timbul dari keinginan diri, tetapi ia tidak lepas dari pengaruh perkembangan teknologi, yaitu gadget dengan berbagai fitur dan aplikasinya.
Fenomena ini menjadi hal yang lumrah dan dinormalisasi di sebagian kalangan, padahal dampak FOMO ini sangat banyak, seperti kacaunya manajemen finansial, kecemasan yang berlebihan, rasa bosan yang akan datang dalam jangka panjang, dan terganggunya psikologi. Nah, ini akan berdampak besar bagi diri seseorang, terlenanya dalam urusan dunia khususnya trend yang sedang booming dan masih banyak lagi.
Cara mengatasi fenomena yang lagi gencar ini: orang yang terjangkit FOMO harus bisa menata kembali keuangannya, me-manage pemasukan dan pengeluaran secara baik, mementingkan kebutuhan primer, tidak terlalu fokus pada trend yang ada dengan merancang masa depan yang baik, mencari kegiatan positif yang lebih bermanfaat yang ramah dikantong seperti olahraga, pergi ke perpustakaan, berkumpul bersama keluarga, dan lain sebagainya.
Setelah kita mengetahui sekilas tentang fenomena ini, sekarang kita tilik bagaimana pandangan Islam tentang FOMO. Di dalam Islam, pemborosan adalah hal yang tidak dianjurkan, karena hal ini identik dengan teman setan. Dalam al-Qur’an, Surat al-Isra’ ayat 27, Allah berfirman:
إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا
“Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan”
Makna pemborosan di sini adalah membelanjakan uang tidak sesuai kebutuhan, isyrof atau berlebihan. Ini berbeda dengan jika kita mengeluarkan uang untuk membayar upah pekerja, bersedekah, menyantuni orang-orang miskin, membelanjakan baju diniatkan untuk menghargai diri kita sendiri agar terlihat rapi, membeli barang bagus sebagai wujud syukur kepada Allah, atau membeli mobil untuk mengikuti kajian. Hal-hal tersebut bukanlah pemborosan dan justru merupakan anjuran dan berpahala.
Agama Islam datang bukan hanya mengatur yang boleh dan tidak, tetapi juga memberi solusi yang terbaik dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. Setiap dari persoalan sudah sepaket dengan jalan keluarnya. Sebagai umat muslim kita tidak perlu terbawa arus terombang-ambing dalam glamornya dunia ini. Karena telah disebutkan, dunia bukanlah tujuan melainkan tempat transit di mana kita mengumpulkan amal sebaik-baiknya untuk perjalanan panjang ke akhirat nanti.
Nah, teman-teman semua, perihal FOMO, kita tidak perlu ikut-ikutan apalagi hanya karena ingin terlihat wah oleh orang lain. Nantinya kita akan repot sendiri karena bisa-bisa mengalami defisit keuangan. Masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan orang lain untuk bisa hidup lebih layak. Mari lebih bijak dalam berkehidupan, apalagi menyikapi masalah uang. Masih banyak hal-hal yang perlu kita persiapan di kehidupan ini. Bukan hanya dunia, tapi juga akhirat.
Wallahu a’lam bisshowab.
Pegiat Literasi. Penyuluh Agama Islam Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

