Tutorial Memahami Setan

Kita sering menyederhanakan makna setan sebagai simbol keburukan mutlak yang sejak awal diciptakan untuk menggoda manusia. Namun, pernahkah kita merenung lebih dalam: apakah setan memang sejak semula diciptakan sebagai makhluk jahat? Ataukah kejahatan itu justru lahir dari pilihan, bukan dari asal penciptaan?

Dalam perenungan seperti itulah, saya merasa perlu menelusuri kembali jejak asal-usul jin dan setan untuk memahami siapa musuh sejati manusia tersebut.

Dalam berbagai literatur klasik Islam, seperti yang disampaikan oleh Syekh Badruddin as-Syibli, jin diyakini telah diciptakan jauh sebelum manusia. Sebagian ulama berpendapat bahwa jin diciptakan 2.000 tahun sebelum Nabi Adam, sebagian lain menyebutkan 40 tahun, dan ada pula yang mengatakan bahwa jin telah ada sejak waktu yang sangat lampau. Jin bukanlah makhluk baru dalam sejarah kosmik. Mereka hidup, berkembang biak, dan diberi pilihan antara ketaatan dan pembangkangan—sama seperti manusia.

Yang menarik, istilah “setan” tidak serta-merta melekat pada satu jenis makhluk. Ia adalah sebutan yang muncul karena pilihan dan perbuatan. Ketika sebagian dari golongan jin membangkang terhadap perintah Allah, mereka diberi label baru: setan.

Artinya, setan bukanlah makhluk yang diciptakan secara khusus untuk berbuat jahat, melainkan hasil dari pembangkangan terhadap kebenaran. Inilah yang menjadikan konsep setan begitu penting: ia adalah wujud keburukan yang lahir dari kehendak bebas.

Salah satu kisah paling dikenal yang menggambarkan tipu daya setan adalah peristiwa turunnya Nabi Adam dari surga. Adam telah dilarang oleh Allah untuk mendekati sebuah pohon tertentu, tetapi ia akhirnya tergoda dan melanggar larangan tersebut.

Banyak yang memaknai kisah ini secara hitam-putih—seolah Nabi Adam gagal menjaga amanah. Padahal, jika didalami lebih lanjut, kisah ini menyimpan pelajaran besar tentang tipu daya yang tersembunyi.

Dalam suatu riwayat, Nabi Musa pernah bertemu dengan Nabi Adam dan menyayangkan perbuatannya yang menyebabkan manusia tidak lagi tinggal di surga. Namun, Nabi Adam menjawab bahwa segala yang terjadi telah ditakdirkan oleh Allah jauh sebelum ia diciptakan.

Jawaban ini bukan sekadar pembelaan, melainkan sebuah pernyataan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya dan manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Justru dari peristiwa itu kita belajar bahwa godaan setan bisa sangat kuat, bahkan mampu membungkus keburukan dalam sumpah yang suci.

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) memberikan tafsir menarik mengenai peristiwa tersebut. Beliau menyampaikan bahwa Nabi Adam bukan korban godaan biasa, melainkan korban dari sumpah yang mengatasnamakan Allah.

Ketika ditanya alasan memakan buah Khuldi, Adam berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah menyangka ada makhluk yang berani berdusta atas nama-Mu.”

Dari sini saya memahami bahwa keburukan tidak selalu datang dalam wujud yang menyeramkan. Ia bisa menjelma dalam rayuan yang tampak tulus, bahkan dibungkus dengan nama dan janji yang suci.

Pemahaman ini diperkuat oleh Tafsir Mafatihul Ghaib karya Imam Fakhruddin ar-Razi, sebagaimana dikaji oleh K.H. Said Aqil Siroj. Setan, dalam tipu dayanya, tidak selalu mengajak manusia kepada keburukan secara langsung. Ia tahu bahwa manusia tidak mudah menerima keburukan secara terang-terangan, maka ia memulainya dari hal-hal yang tampak baik.

Dalam kitab tersebut disebutkan:

وَقَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَدْعُو إِلَى الْخَيْرِ لَكِنْ لِغَرَضِ أَنْ يَجُرَّهُ مِنْهُ إِلَى الشَّرِّ وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنْوَاعٍ: إِمَّا أَنْ يَجُرَّهُ مِنَ الْأَفْضَلِ إِلَى الْفَاضِلِ لِيَتَمَكَّنَ مِنْ أَنْ يُخْرِجَهُ مِنَ الْفَاضِلِ إِلَى الشَّرِّ، وَإِمَّا أَنْ يَجُرَّهُ مِنَ الْفَاضِلِ الْأَسْهَلِ إِلَى الْأَفْضَلِ الْأَشَقِّ لِيَصِيرَ ازْدِيَادُ الْمَشَقَّةِ سَبَبًا لِحُصُولِ النُّفْرَةِ عَنِ الطَّاعَةِ بِالْكُلِّيَّةِ.

“Sebagian ahli makrifat (al-‘arifin) berkata: ‘Sesungguhnya setan terkadang mengajak kepada kebaikan. Namun, ajakan itu dilakukan demi tujuan menyeret manusia dari kebaikan tersebut ke dalam keburukan. Terkadang, ia mendorong seseorang dari amalan yang paling utama (afdhal) menuju amalan yang baik, tetapi kurang utama (fadhil), agar suatu saat lebih mudah menyeretnya dari fadhil menuju maksiat. Terkadang pula, ia menarik seseorang dari ibadah yang ringan, tetapi stabil, menuju ibadah yang lebih berat dan melelahkan agar timbul rasa jenuh dan akhirnya meninggalkan ketaatan sepenuhnya.’”

Pemikiran ini terasa sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering melihat orang tergelincir bukan karena niat jahat yang besar, melainkan karena dorongan-dorongan kecil yang tidak dikendalikan.

Setan tidak selalu hadir dalam wujud menakutkan; ia bisa menyusup ke dalam ambisi, kesombongan tersembunyi, bahkan niat baik yang tidak disertai kebijaksanaan.

Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan: setan bukanlah makhluk yang sejak awal diciptakan untuk berbuat jahat, melainkan hasil dari pilihan untuk membangkang terhadap kebenaran. Tipu dayanya bekerja secara halus, bahkan melalui hal-hal yang tampak baik, untuk menjerumuskan manusia sedikit demi sedikit.

Memahami setan berarti menyadari kerentanan dalam diri kita sendiri sehingga kita dapat senantiasa menjaga niat, tindakan, dan keistikamahan dalam kebaikan.

hakimzihanali@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di PPL Al Tsaqafah. Sarjana Pendidikan STIT Buntet Pesantren Cirebon.