Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah menggelar Munaqasyah Bahasa Arab bagi santri kelas XII, Minggu (19/10/2025) . Dalam ujian yang menjadi syarat kelulusan tersebut, semangat dan kemampuan para santri berhasil melampaui ekspektasi para juri.
Koordinator Bahasa Arab, M. Nahjus Shofa, menjelaskan bahwa munaqasyah ini dirancang sebagai upaya untuk memastikan kualitas lulusan Al-Tsaqafah dalam berbahasa asing, khususnya Arab.
“Kita menekankan langsung ke empat dasar elemen berbahasa, yaitu adalah istima’ (mendengar), kalam (berbicara), kitabah (menulis), dan qiraah (membaca),” ujarnya.
Shofa menambahkan, semangat santri kelas XII tahun ini dalam menghadapi munaqasyah tergolong luar biasa.
“Saya lihat peserta tahun ini lebih bersinergi, lebih semangat, sangat excited sekali,” tegasnya.
Salah satu peserta munaqasyah, Devara Maulaya, mengamini hal tersebut. Ia menuturkan bahwa dalam dua minggu terakhir menjelang ujian, ia dan teman-temannya senantiasa membiasakan diri untuk berbicara dengan bahasa Arab dalam setiap kesempatan.
“Beberapa minggu terakhir, kelas XII hampir semuanya, tuh, sering berbahasa Arab, di kamar mandi, di kamar, di masjid,” ungkap Devara. “Pengennya, sih, kita tetap ngomong pakai bahasa Arab, gitu, walaupun udah kelar munaqasyah.”
Upaya dan semangat para santri dalam mempersiapkan ujian ini membuahkan hasil yang memuaskan di mata dewan juri. Shaufiatul Aulia, salah satu juri munaqasyah, mengaku terkesan dengan kemampuan para santri yang melebihi prediksinya.
“Di ujian istima’, ketika video pertama diputar, mereka sudah bisa menikmati video tersebut dengan tawa layaknya menonton film bahasa Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Shaufi juga menceritakan bahwa, di ujian kalam, para santri sudah mampu berbicara panjang dengan bahasa Arab.
“Bahkan ada yang sampai curhat,” kenangnya.
Munaqasyah Bahasa Arab tahun ini mengangkat tema-tema yang berelevansi langsung dengan keseharian santri, seperti al-Ansyithah al-Yaumiyyah (aktivitas harian), al-Jawwal (HP), al-Hiwayat (hobi), al-Syabab (pemuda), dan dunia kepesantrenan.
Pemilihan tema ini bertujuan agar para santri tidak hanya menguasai bahasa Arab secara teoretis, tetapi juga mampu menggunakannya secara praktis untuk mendiskusikan kehidupan dan gagasan mereka.
Dengan demikian, bahasa Arab menjadi alat komunikasi yang hidup dan relevan, bukan sekadar mata pelajaran yang harus dihafalkan.

