ALTSAQAFAH.ID – Di malam yang gelap, sunyi, senyap. Malam dengan semilir angin yang dingin. Angin yang terasa menyiksa, angin malam yang melukai tiap titik rasa. Malam itu terdengar rintihan, tangisan, dan keluhan yang terdengar amat sakit barang siapa yang mendengar. Sakit yang dapat mengiris hati, memorak-porandakan belenggu. Sakit yang turut terasa betapa pedihnya duka itu.
Malam itu ia mengeluh, betapa lelahnya ia atas hidup, betapa lelahnya ia atas beban yang ditanggung, betapa lelahnya ia mengemis belas kasih pada tiap orang.
Hanya malam yang tahu semua lelahnya.
Hanya malam yang tahu betapa tidak bergunanya diri itu.
Hanya malam yang tahu bahwa dia hanya mengharap kasih.
Hanya malam yang tahu bahwa dia ingin dianggap berharga.
Hanya malam yang menyaksikannya. Siang? Siang tidak pernah tahu lukanya. Yang siang tahu, orang itu bahagia dengan dunianya. Yang siang tau, orang itu selalu menunjukkan tawanya. Padahal, orang itu hilang arah, ia tidak punya “rumah” untuk pulang. Akan tetapi, malam selalu menjadi saksi bisu semua penderitaannya.
Pada akhirnya, malam mendengar bahwa ada secercah harapan. Pada akhirnya, orang itu tahu “rumahnya”, orang itu tahu ke mana harus pulang. Malam melihatnya menengadahkan tangannya, bersimpuh di atas selembar anyaman. Sambil menangis, ia mengemis belas kasih kepada satu-satunya rumah yang dia punya.
“Ya Allah, sesungguhnya aku tidak takut dengan besarnya masalah karena aku memilikimu Yang Maha Besar. Ya Allah, sesungguhnya hamba tak berdaya. Sesungguhnya hamba tak pernah merasakan cinta.”
“Namun, hamba tahu hanya Engkau yang memiliki cinta. Cinta yang luasnya mengalahkan luasnya tiap-tiap galaksi. Cinta yang terus mengalir mengalahkan derasnya hujanmu. Cinta yang mengalahkan kesuburan ladang yang ada di muka bumi.”
“Oleh karena itu, ya Rabb, berilah seluruh cintamu agar hamba memiliki alasan untuk tetap bertahan dalam hidup ini.”
Santri Kelas 11 IPA 2, asal Bekasi Timur. Memiliki hobi menyanyi, menggambar, dan membaca.

