Perjalanan Al-Qur’an dari Allah hingga Rasulullah

ALTSAQAFAH.ID – Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, kitab penutup dan penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Telah kita semua ketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan melalui malaikat Jibril a.s. secara berangsur-angsur. Beberapa ulama sebenarnya berbeda pendapat tentang informasi lengkap bagaimana Al-Qur’an diturunkan oleh Allah hingga ke Rasulullah. Oleh karena itu, di sini penulis akan mencoba menjabarkan beberapa pendapat para ulama terkait proses turunnya Al-Qur’an yang selama ini kita imani dan kita jadikan sebagai pedoman hidup. Banyaknya jumlah pendapat ulama telah dikelompokkan menjadi empat pendapat, yaitu sebagai berikut:

Pendapat pertama didasarkan kepada tiga ayat dalam Al-Qur’an, yaitu

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan memberikan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk tersebut serta sebagai pembeda antara yang haq dan dan bathil.” (QS. Al-Baqarah: 185)

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur’an pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3)

“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan (Lailatulqadar).” (QS. Al-Qadar: 1)

Para ulama menafsirkan tiga ayat di atas dengan keterangan bahwa awalnya Al-Qur’an diturunkan oleh Allah ke lauhulmahfuz. Lauhulmahfuz adalah makhluk ciptaan Allah berupa tempat penyimpanan catatan-catatan, seperti kitab suci dan takdir para makhluknya. Kemudian dari lauhulmahfuz, Al-Qur’an diturunkan ke baitul izzah atau yang biasa kita sebut sebagai langit dunia pada malam Lailatulqadar. Para ulama sepakat bahwa proses turunnya Al-Qur’an dari Allah, baik ke lauhulmahfuz maupun dilanjutkan ke baitul izzah terjadi secara langsung keseluruhan atau tidak berangsur-angsur. Hal ini disebabkan kejadian tersebut merupakan kejadian gaib dan ayat-ayat sebelumnya tidak menjelaskan secara detail bagaimana metode turunnya tersebut sehingga para ulama mengambil makna lahirnya saja. Selanjutnya, Al-Qur’an yang telah berada di langit dunia turun ke Rasulullah melalui perantara malaikat Jibril as secara berangsur-angsur. Ayat yang pertama kali turun adalah sebagaimana yang kita ketahui adalah Al-Alaq ayat 1-5 di Gua Hira saat malam 17 Ramadan.

Pendapat pertama ini juga dikuatkan oleh dalil hadis sahih dan diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus ke langit dunia pada malam Qadar, kemudian diturunkan (kepada Rasulullah saw.) selama kurang lebih 20 tahun.” Selanjutnya Ibnu Abbas membacakan ayat yang berbunyi, “Dan (tidaklah orang-orang kafir itu) datang kepadamu (membawa sesuatu yang ganjil), melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang paling benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al-Furqan: 33). “Dan Al-Qur’an itu telah kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacanya secara perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Isra: 106).

Menurut Imam As-Suyuthi, walaupun derajat hadis tersebut adalah maukuf, bobot hadis tersebut sebenarnya setara dengan marfuk. Hal ini disebabkan berita turunnya Al-Qur’an ke langit dunia merupakan berita gaib. Berita gaib hanya akan diketahui oleh Rasulullah. Sementara itu, Ibnu Abbas sendiri terkenal tidak pernah mengambil riwayat israilliyat dalam setiap periwayatannya. Oleh karena itu, hadis ini diyakini benar-benar dari Rasulullah saw.

Namun demikian, Imam Subhi Shalih menolak pendapat Imam As-Suyuthi dengan berkata, “Saya tidak sejalan dengan pendapat tersebut kendati didasarkan pada sumber-sumber riwayat yang dianggap benar. Sebab turunnya Al-Qur’an dengan cara yang seperti itu termasuk persoalan gaib yang hanya dapat diterima berdasarkan dalil mutawatir yang meyakinkan dari Al-Qur’an dan Sunnah.”

Pendapat kedua menyatakan bahwa tafsiran tiga ayat sebelumnya bukanlah seperti itu. Mereka berpendapat bahwa tiga ayat tersebut menerangkan satu malam yang sama, yaitu malam saat Rasulullah menerima wahyu pertamanya. Mereka berpendapat bahwa malam saat Al-Qur’an turun pertama kali adalah malam Lailatulqadar. Oleh karena itu, pendapat ini meyakini bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan terlebih dahulu, baik ke lauhulmahfuz maupun ke langit dunia, tetapi langsung dari Allah ke Rasulullah.

Sementara itu, pendapat ketiga menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia secara berangsur-angsur. Mereka berpendapat bahwa Al-Qur’an turun ke langit dunia selama 22/23/25 kali malam Lailatulqadar. Jumlah ayat yang diturunkan pada setiap malam Lailatulqadarnya telah ditentukan kadarnya oleh Allah Swt. Pendapat ini merupakan hasil ijtihad sebagian para ulama mufasir, tetapi pendapat ini tidak memiliki dalil sama sekali.

Adapun pendapat keempat sekaligus pendapat terakhir menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari lauhulmahfuz secara sekaligus. Kemudian Al-Qur’an turun ke Rasulullah secara berangsur-angsur. Pendapat ini tidak menjelaskan bagaimana metode turunnya Al-Qur’an dari Allah ke lauhulmahfuz dan ke mana Al-Qur’an diturunkan setelah dari lauhulmahfuz.

Di antara keempat pendapat ini, Imam Al-Zarqani berpendapat bahwa pendapat pertamalah yang paling unggul karena didukung dan disertai dalil-dalil yang cukup kuat. Itulah sekian penjelasan yang bisa dijelaskan penulis pada kali ini. Terlepas bagaimana proses turunnya Al-Qur’an dari Allah hingga Rasulullah, hal terpenting adalah bagaimana kita mengamalkan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an di kehidupan sehari-hari. Wallahu A’lam.

subhifarhan42@gmail.com   Postingan Lainnya

Alumnus Al-Tsaqafah Angkatan ke-7, Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta