ALTSAQAFAH.ID – Dewasa ini umat Islam kian diwarnai polemik baru yang muncul di lapisan masyarakat. Jawaban atas polemik tersebut acapkali tidak ditemukan secara eksplisit, khususnya di dalam Al-Qur’an dan hadis. Dalam menghadapi benang kusut tak berujung ini, ijtihad hadir sebagai cara untuk mengurai benang-benang tersebut, memungkinkan tercapainya keputusan hukum yang tepat dan sesuai dengan solusi yang dibutuhkan.
Ijtihad merupakan isim mastdar dari kata اجتهد yang mengikuti wazan إفتعل, secara etimologi berarti usaha yang sungguh-sungguh atau mencurahkan segala kemampuan. Ijtihad secara epistemologi berarti usaha bersungguh-sungguh dengan syarat menggunakan akal sehat dan dengan pertimbangan matang. Ijtihad lebih baik dilakukan oleh ahli agama Islam yang kuat ijtihadnya sehingga disebut mujtahid mustaqil, seseorang yang dianggap mampu menciptakan pola pemahaman (manhaj) tertentu terhadap sumber pokok hukum Islam. Hal ini pernah dilakukan para sahabat ketika Rasulullah saw. masih hidup seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.
فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Q.S. An-Nisa:59)
Ayat tersebut secara eksplisit menjelaskan tentang ijtihad bahwasannya dalam menyelesaikan perbedaan pendapat dapat kembali kepada Allah (kalamullah) dan Rasul (as-Sunnah). Betapa pentingnya ijtihad dalam kehidupan umat Islam sehingga Rasulullah saw. mengajarkan dan menyiapkan para sahabat untuk menjadi seorang mujtahid. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. pernah mengajarkan bagaimana cara berijtihad kepada Umar bin Khattab ketika menanyakan hukum puasanya setelah mencium istrinya.
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ؟ قُلْتُ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَفِيمَ؟
“Rasulullah saw. bertanya: Apa pendapatmu jika kamu berkumur dengan air sedang kamu dalam keadaan berpuasa? Maka aku berkata: Tidak mengapa hal yang demikian. Maka Rasulullah bersabda: Maka untuk apa ada pertanyaan?” (H.R. Ahmad)
Hadis tersebut menjelaskan bahwasannya Rasulullah saw. mengajarkan metode ijtihad kepada Umar bin Khattab dengan menganalogikan hukum berkumur dan mencium istri dalam kondisi berpuasa. Ibn Khuzaimah pernah meriwatkan dalam kitab Sahih Ibn Khuzaimah (vol. 2, h. 164) tentang ijtihad Qais bin Fahd yang meng-qadha salat sunnah qabliyyah pascasalat Subuh berjemaah bersama Rasulullah.
عَنْ قَيْسِ بْنِ فَهْدٍ: رَآنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الصُّبْحِ، فَقَالَ:)مَا هَاتَانِ الرَّكْعَتَانِ يَا قَيْسُ؟( فَقُلْتُ:)إِنِّي لَمْ أَكُنْ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ( فَسَكَتَ عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ قَضَاءِ الْفَوَائِتِ، فَرْضًا كَانَ أَوْ تَطَوُّعًا بَعْدَ الصُّبْحِ، وَبَعْدَ الْعَصْرِ
“Dari Qais bin Fahd: Rasulullah menyaksikan saya ketika sedang salat dua rakaat setelah salat Subuh. Kemudian beliau bertanya, “Salat apa itu wahai Qais?” Kemudian saya menjawab, “Sesungguhnya aku belum mengerjakan salat dua rakaat fajar.” Kemudian Rasulullah saw. diam.” (H.R. Ibn Khuzaimah)
Para ulama mengartikan bahwasannya diamnya Rasulullah saw. menandakan sebuah taqrir atau membenarkan perbuatan sahabatnya, begitu pun dengan Qais bin Fahd. Beliau mengamini ijtihad Qais bin Fahd terkait meng-qadha salat sunnah qabliyah. Imam Tirmidzi dalam kitab Sahih at-Tirmidzi pernah meriwatkan bahwa Rasulullah saw. pun pernah meng-qadha salat sunah qabliyyah pascasalat Zuhur.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم: كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلَّاهُنَّ بَعْدَهَا
“Dari Aisyah ra. bahwa jika Rasulullah saw. tidak mengerjakan salat sunah empat rakaat sebelum Zuhur, Rasul mengerjakannya setelah Zuhur.” (H.R. Tirmidzi)
Dengan beragam sumber Al-Qur’an dan hadis tersebut, disimpulkan bahwa ijtihad sudah digerakkan sejak zaman Rasulullah saw. dan para sahabat. Dewasa ini, ijtihad juga sering dilakukan oleh para ulama, khususnya ulama yang berasaskan ahlussunnah wal jama’ah. Pemahaman ajaran Islam yang digunakan oleh para ulama dalam melakukan ijtihad, tentu bersumber dari hasil pemikiran para mujtahid terdahulu, disebut juga sebagai mazhab.
Umat Islam yang tidak dapat melakukan ijtihad secara mandiri, dapat kembali kepada para ulama yang bermazhab dalam pemahaman metode, prosedur, dan produk para mujtahid. Dengan bermazhab, penyebaran, pengembangan, dan pewarisan ajaran Islam dapat terpelihara dan terjamin kemurniannya karena melalui proses ijtihad. Ijtihad juga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena bersumber langsung dari Al-Qur’an dan hadis.
Kepala Perpustakaan Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

