Mengapa Iran Berani: Catatan Seorang Anak yang Dibesarkan di Negeri Itu

ALTSAQAFAH.ID – Tampaknya warga global tengah bergembira atas rudal-rudal yang belakangan ini menghiasi gelapnya malam. Akhirnya, Iran mengambil tindakan yang sangat tegas, yaitu membalas perbuatan semena-mena Israel.

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh besar di Iran selama lebih dari sepuluh tahun, saya merasa dapat menjelaskan satu dua hal tentang mengapa ada sebuah negara yang berani secara terang-terangan mendukung kemerdekaan Palestina dan tidak keberatan menjadi musuh negara-negara adidaya. Penjelasan ini bukan dari segi strategi militer atau perang, melainkan dari sisi yang mungkin sulit dipahami oleh Israel dan para pendukungnya, yaitu tradisi.

Apakah Iran berani karena mereka adalah bangsa Iran? Atau karena mereka menganut mazhab Syiah Itsna ‘Asyariyah? Saya menjawab: memang karena mazhab. Namun, bukan teologi atau fikih Syiah yang membuat rakyat Iran begitu berani, melainkan tradisi. Secara spesifik, tradisi peringatan tragedi Karbala—tradisi yang masih hidup dan menyala sejak 13 abad yang lalu. Tragedi yang juga sering dibahas oleh Buya Said.

Saya akan menjelaskan apa yang saya saksikan sebagai seorang anak yang lahir dan tumbuh besar di sana; bagaimana orang dewasa menangisi cucu Nabi Muhammad SAW. Setiap memasuki bulan Muharram, suasana Iran berubah total. Di mana-mana terpasang kain dan bendera berwarna hitam. Logo saluran-saluran televisi nasional pun menghitam. Tertawa dan bergurau dihindari sebisa mungkin. Seluruh warga Iran larut dalam kesedihan atas apa yang menimpa al-Husain.

Apa yang telah dilakukan al-Husain? Ia bangkit melawan kezaliman demi menyelamatkan Islam dari kehancuran. Ia gugur dalam peperangan. Namun, ia tidak sendiri. Para sahabat dekatnya gugur. Keluarganya diborgol dan dipertontonkan. Rombongan sebanyak 72 orang itu sadar betul bahwa melawan 3.000 pasukan bukanlah pilihan yang masuk akal. Tetapi apakah ia kalah? Tidak.

Revolusi Karbala membangkitkan semangat perlawanan terhadap kezaliman. Semangat amar makruf dan nahi munkar. Semangat yang dengan lantang meneriakkan:

هيهات منا الذلة

“Tidak mungkin kami tunduk pada kehinaan!”

Semangat inilah yang diwariskan oleh tragedi Karbala dan dipelihara dalam mazhab Syiah hingga hari ini.

Ruhollah Khomeini, tokoh di balik Revolusi Islam Iran tahun 1979, pernah berkata bahwa majelis peringatan al-Husain adalah kekuatan utama yang menggulingkan pemerintahan boneka Reza Pahlavi. Bangsa Iran sangat memahami bahwa kezaliman yang dilakukan oleh Amerika, Israel, dan sekutunya terhadap kaum lemah tidak dapat diterima oleh akal sehat. Tujuan al-Husain tidak lain adalah menyelamatkan Islam dari kehancuran melalui perlawanan terhadap kezaliman. Dan bangsa Iran melanjutkan perjuangan yang diwariskannya.

Ketika tubuh dan darah telah siap diabdikan kepada Allah, kematian tidak lagi terlihat menakutkan. Ia justru menjadi sesuatu yang indah dan membanggakan. Namun, perlu digarisbawahi: mati syahid bukanlah tujuan utama bangsa Iran, itu hanyalah bonus dari perjuangan melawan kezaliman.

Tradisi akan menjadi kekuatan yang nyata jika tidak sekadar diperingati, melainkan benar-benar dihidupkan.

Dodoshkamil@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) PPL Al-Tsaqafah. Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.