—Juara Kedua Sayembara Cerpen altsaqafah.id 2026
Namaku Talib. Aku tengah melanjutkan tingkat pendidikanku ke jenjang aliah di Pondok Pesantren At-Tazkiyah. Pondok pesantrenku ini memang menyediakan dua jenjang, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang masing-masing dijalani selama tiga tahun. Pesantrenku ini terletak di pinggiran sebelah barat daya Jakarta. Biarpun di Jakarta, At-Tazkiyah bukan pesantren seterkenal Darunnajah atau Asshiddiqiyah. Namun, untuk urusan akademik dan prestasi, At-Tazkiyah boleh diadu.
Tidak semua santri harus pakar di bidang kitab kuning. Contohnya aku. Aku bukan tergolong santri yang menggandrungi kitab-kitab seperti itu, apalagi menghafal Al-Qur’an. Aku lebih gemar beraktivitas di luar kelas seperti dalam ekstrakurikuler. Bukannya aku tak suka, tapi pelajarannya membosankan menurutku. Bukankah belajar ilmu-ilmu agama klasik seperti itu tidak perlu melalui perantara literatur kuno? Toh, di toko buku di luar sana banyak terjemahan dan penjelasan yang lebih menarik dan mudah dipahami.
Itu pemahamanku dulu. Sebelum aku mengenal dia. Dan jatuh cinta padanya.
Di setiap malam Jumat dan Minggu pagi, kiai kami, Kiai Zahir Rusydan (biasanya kami panggil Kiai Rusydan saja) menggelar pengajian kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali. Iya, kitab mahabesar yang berjilid-jilid itu. Katanya, beliau terinspirasi oleh K.H. Said Aqil Siradj yang menggelar pengajian Tafsir al-Razi. Pengajian selalu digelar di aula pesantren. Aula pesantrenku tertutup, dilapisi karpet, dan ber-AC yang cukup untuk membuatku tertidur ketika mengaji. Jadi, sering kali aku dijahili teman-temanku saat aku tertidur. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sangat bosan dan mengantuk. Oh iya, pengajian ini tidak hanya dihadiri santri putra saja. Santri putri juga hadir, walaupun dihalangi oleh satir (penghalang) dari kayu jati yang tebal supaya tidak ada interaksi antarlawan jenis.
••••••••••••••••••••••••••••••••••
Maula ya shalli wasallim daiman abadan ….
Selama wirid setelah salat Subuh, aku tertidur. Hingga alunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw. terdengar masuk ke telingaku dan akhirnya aku terbangun dalam kondisi tiga perempat tubuhku masih merasa mengantuk. Aku berdiri lalu bergegas mengambil kitab Ihya’ milikku yang tadi kutaruh di sela-sela jendela masjid. Aku merasa ingin buang air kecil, jadi kusempatkan untuk membuangnya di kamar kecil masjid. Setelah puas, barulah aku menuju aula. Tempat duduk rupanya sudah penuh. Tersisa tempat duduk di belakang dan di sebelah satir yang bersebelahan dengan santri putri. Karena aku mengantuk, jadi aku duduk saja di sebelah satir.
Pengajian pun dimulai, kali ini pembahasannya adalah mengenai tata krama terhadap guru. Membosankan sekali pembahasan ini. Bukankah kita sudah mempelajari ini waktu tsanawiyah dulu, ya? Pasti pembahasannya selalu berkutat pada tawaduk, tidak melawan guru, berkata yang lembut, tidak membantah, dan lain sebagainya. Membosankan sekali. Jadi, aku tidur saja.
Baru saja dua menit kepalaku naik turun karena tertidur, aku terbangun karena Kiai Rusydan melontarkan guyonan yang membuat banyak santri tertawa. Termasuk Alam, teman di sebelahku.
“Bangun, Lib, ilmumu enggak akan berkah kalau tidur terus,” kata Alam.
Aduh, berkah lagi, berkah lagi. Aku lelah ketika mendengar orang melontarkan argumen yang sangat tidak rasional ini. Aku ini kan mengantuk, jadi wajar dong kalau aku tertidur?
“Tidur ada tempatnya, kalau enggak mau mengaji tidur saja di asrama,” lanjutnya.
Mau tidur di asrama bagaimana? Asrama saja dikunci hingga pengajian selesai. Aku tanggapi teguran Alam itu dengan racauan kecil.
“Eeehmmm, iya, iya,” racauku.
Saat wajahku kembali menunduk, aku melihat robekan kecil kertas di ujung jari kakiku. Aku baca. Sebuah kalimat tak bertitik dan koma terbaca.
“Ngantuk terus :p”
Tulisan siapa ini? Tulisanku tidak seperti ini. Tulisan Alam apalagi. Dugaanku adalah ini bukan tulisan santri putra. Berdasarkan observasiku empat tahun ini, tulisan tangan santri putra lebih mirip dengan aksara cuneiform dibandingkan dengan font di Microsoft Word. Jadi, dugaanku selanjutnya adalah dari sebelah kiriku. Aku menoleh ke sebelah kiri, dan ada satir. Namun di balik satir itu terdengar cekikikan tawa tiga atau mungkin empat santri putri. Aku balas juga akhirnya. Balasan inilah yang mengubahku selanjutnya.
“Enggak, kok,” balasku di kertas yang baru. Aku seret kertas kecilku itu ke bawah satir. Aku tunggu tiga detik, ada tangan yang mengambil. Kembali tawa terdengar. Kali ini lebih kencang.
“Halah, itu mata kamu kelihatan ngantuk, kok,” balasan pesanku datang kembali. Memang, satir yang dipasang agak memiliki lubang motif dari ukiran kayunya. Jadi, dari dua arah dapat saling melihat walaupun hanya sedikit.
“Dih, ngeliatin aja,” balasku padanya melalui secarik robekan kertas pula.
“Enggak bagus tidur pas ngaji sama kiai,” pesanku dibalas lagi. Tak terasa kantukku hilang.
Saat aku menulis balasan, tiba-tiba…
Robbi fanfa’naa bibarkatihim ….
Pengajian selesai. Aku jadi penasaran, siapakah dia, sosok di balik satir itu.
••••••••••
Aku kembali menduduki tempat kemarin, aku penasaran siapakah dia. Pengajian dimulai, aku membuka kitab. Secarik kertas muncul kembali.
“Hai :3”
“Hai juga,” balasku dalam secarik kertas selanjutnya. Dan begitu terus selanjutnya.
“Namamu siapa?” ternyata ia penasaran juga denganku.
“Muhammad Talibin Salih, kelas 10-1. Kamu?” kenalku di kertas.
“Muridah Marifah, panggil Rifah saja.” Oh, namanya Rifah.
“Kamu di sini terus kalau mengaji?” tanyaku.
“Iya, enak enggak berisik. Btw, kamu jangan ngantuk terus dong kalau ngaji,” terangnya.
“Loh, kenapa?” aku bertanya, berani-beraninya dia menasihatiku.
“Ilmu itu kayak air hujan. Ia akan menetes dan menumbuhkan hati.” Kata-katanya ada benarnya juga.
“Ah, enggak ngaruh buat aku,” aku masih membantah.
“Nanti ada suatu saat hatimu akan kejatuhan air hujan itu.” Benarkah begitu? Kita lihat saja besok.
“Ah, enggak percaya,” balasku lagi.
“Ya sudah, lihat nanti saja,” jawabnya.
Besok? Kenapa besok?
••••••••••
Hari ini, aku kembali mengaji. Tak ada yang berbeda, hanya saja aku kini merasa rasa kantukku berkurang. Apalagi kalau bukan karena menunggu kertas darinya?
“Tuh, kan, kamu enggak ngantuk,” kertas pertama darinya muncul.
“Aku nungguin kata kamu,” kataku selanjutnya dalam kertas yang baru.
“Kepikiran, ya.” Tulisannya membuatku agak gemas. Sebenarnya aku bukan kepikiran dari kata-katanya, tapi aku terpikirkan akan dirinya. Siapakah engkau, Rifah? Penulis yang tak kuketahui rupanya.
“Iya, aku belum kena air hujannya,” tulisku.
“Nanti juga kena, kok,” balasnya lagi.
“Tapi aku enggak paham-paham loh pembahasan Kiai Rusydan. Tinggi banget pembahasannya,” aku mencoba beralibi.
“Enggak harus semuanya paham juga kali,” balasnya, membuatku sedikit optimistis.
“Tapi aku enggak paham semua,” kataku. Tapi kali ini balasannya lama. Lumayan.
“Ada maqalat yang aku ingat terus sekarang, ‘ما لا يُدركُ كلُّه لا يُتركُ كلُّه’, sesuatu yang tidak bisa digapai seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya,” tulisnya. Aku belum mengerti.
“Gimana maksudnya?” tanyaku. Karena memang aku tak paham.
“Tadi kalau kamu bilang ‘pembahasan kiai tinggi banget’, kamu enggak harus paham semuanya, kok. Cukup ingat saja satu atau dua kalimat yang kamu benar-benar paham,” balasnya, meyakinkanku.
“Kalimat yang mana?” aku bertanya.
“Dengerin makanya, biar dapat yang kamu ingat,” balasannya seakan menampar wajahku. Bagaimana aku bisa ingat sesuatu pun? Aku saja selalu tertidur.
Sejak saat itu, aku mencoba memahami apa saja perkataan Kiai Rusydan. Apa pun kucoba pahami. Memang agak susah. Apalagi Kiai Rusydan selalu membahas hal-hal di luar pembahasan kitab. Sosial-budaya, ekonomi, sejarah, politik, teologi, fikih, sastra, seluruhnyalah. Ilmu beliau luas sekali. Yang aku ingat justru pembahasan di luar kitab. Tidak apalah, setidaknya aku tidak hanya tidur ketika mengaji. Secara tidak sadar, semangat mengajiku bertambah. Alam, temanku saja kaget aku jadi tidak pernah tidur.
Tapi yang membuatku lebih semangat adalah ia. Rifah yang aku tidak tahu wujudnya bagaimana. Pasti ia sangat pintar. Aku sangat penasaran dengannya. Bagaimana orangnya, sikapnya, teman-temannya, dan apa pun tentangnya.
••••••••••
Pengajian selanjutnya digelar. Aku sudah menyiapkan buku tulis khusus yang akan kugunakan untuk surat-suratan kecil-kecilan ini. Baru dua menit saja aku duduk, sudah ada yang menyangkut di telapak kakiku.
“Hola, Talib, gimana kabarnya?” Hari ini dia bertanya kabar. Perhatian sekali dia.
“Hola, Rifah, baik alhamdulillah,” balasku. Aku selipkan kertasku ke bawah satir.
“Gimana? Udah ada kalimat yang nyantol?” tanyanya. Luar biasa. Ia sangat peduli kepadaku. Alam mana mungkin bertanya seperti ini.
“Ada sih, tapi bukan materi kitab,” aku jawab jujur. Karena memang, aku malah jadi hafal nasab Sunan Gunung Jati ke atas dan ke bawah, bukan hafal maqalat dalam kitab.
“Apa tuh?” Ia penasaran rupanya.
“Nasab Sunan Gunung Jati,” jawabku jujur.
“Hahahaha, enggak nyangka bakalan gini. Kamu kayaknya bakat jadi sejarawan,” balasnya, menghiburku dan secara tersirat memotivasiku.
“Masa iya, sih?” kataku setengah tidak percaya. Menganggapnya bergurau saja.
“Enggak semua santri lulus harus jadi kiai, kok. Santri bisa jadi apa aja,” katanya, membuatku berpikir positif.
Aku tak bisa menjawab. Karena memang kata-katanya ini benar-benar membuatku berpikir.
“Kok enggak dijawab? Hahaha. Selama kamu konsisten akan sesuatu, pasti ada hasilnya, Lib. Jangan kamu pikir ngaji terus itu enggak ada gunanya. Kalau kamu konsisten, pasti ada aja buahnya, kamu bakalan ketetesan air hujan itu.” Ia mengirimkan kertasnya lagi. Jawabannya benar-benar menginspirasiku.
Siapakah engkau, Rifah? Engkau mampu mendoktrin otakku supaya bergerak. Engkau mampu membuka lebar telingaku untuk mendengar. Engkau mampu membuka lebar mataku untuk melihat. Engkau mampu menjalankan tanganku untuk menulis. Dan semuanya engkau lakukan untuk perubahan dari diriku.
“Kamu benar, Fah. Terima kasih karena telah membuatku semangat untuk mengaji.” Aku memberi terima kasih.
Pengajian malam ini usai. Malam itu, aku jadi semangat mengaji. Entah setelah pesan dari Rifah itu, pikiranku menjadi berubah dan selalu bersemangat. Namun aku pikir, ini bukan hanya tentang pesan itu saja. Tapi karena cinta.
••••••••••
Pengajian malam selanjutnya digelar seperti biasa. Aku menempati tempat dudukku. Membuka kitab. Dan mulai mencatat. Tapi ada yang berbeda kali ini. Aku menunggu satu menit. Sepuluh menit. Tiga puluh menit.
Ia tidak memberikanku surat.
Akhirnya aku yang menulis pertama.
“Kok tumben enggak ngasih surat?”
Aku tunggu sambil menulis catatan. Aku kini lebih fokus mendengarkan penjelasan Kiai Rusydan. Panjang betul penjelasan Kiai Rusydan. Tapi tidak apa. Kata Rifah, setidaknya mengerti sedikit saja daripada tidak mendengarkan sama sekali.
Ya, ada perubahan besar dalam pemikiranku. Aku sekarang tidak lagi meremehkan pelajaran kitab. Aku ingin terkena cipratan “air hujan” itu. Tumbuhan yang tidak terkena air akan mati kekeringan. Begitu juga santri. Jika tidak terkena cipratan ilmu, ia akan menjadi orang yang kosong tak berisi. Hanya seperti debu yang terbang. Lalu hilang.
Pesan yang aku sampaikan itu tidak berbalas. Saat pengajian selesai, aku melongok ke sebalik satir. Kertasku masih ada. Utuh. Tidak ada yang menyentuh. Aku heran. Aku kaget. Aku bertanya kepada karpet aula yang hijau itu, “Di mana Rifah? Kenapa ia tidak ada?”
Begitu pun esoknya. Esoknya. Esoknya lagi. Esoknya terus. Aku kembali duduk di tempat biasa. Dan aku selipkan surat dengan pesan yang berbeda-beda.
Di esoknya aku tulis, “Kamu sakit ya, Rifah? Aku sekarang sudah banyak paham penjelasan Kiai Rusydan. Terima kasih ya, Rifah.” Tak ada balasan.
Esoknya esok aku tulis, “Aku menunggumu, Rifah, kamu di mana? Sebentar lagi PAS, aku sudah siapkan dari seminggu ini. Lebih cepat lebih bagus.” Tak ada balasan.
Esok-esoknya lagi aku tulis, “Rifah, seminggu lagi perpulangan, aku mau berucap ‘terima kasih’ karena telah menyemangatiku, memberiku motivasi, kamu yang terbaik.” Tak ada balasan.
Dan di esok-esok yang terakhir sebelum pulang, aku tulis, “Rifah, kamu di mana? Sepertinya aku sudah tidak perlu kamu lagi, aku sudah dapat peringkat di kelas. Terima kasih, Rifah.”
Entah di mana keberadaan Rifah sekarang, aku terus mencarinya tiap berkeliling pesantren. Tapi kan aku tidak tahu rupanya. Lalu aku mencari siapa? Perlahan-lahan seiring bumi berganti derajat, aku menyadari suatu hal penting. Bahwa, aku telah mengembangkan semangat belajarku. Aku kini menjadi pribadi yang suka belajar, giat mengaji, rajin berdiskusi. Karena siapa? Karena diriku atau Rifah? Tapi aku rasa karena Rifah. Rifahlah yang menggeretku ke cahaya keilmuan.
Di pikiranku selalu terlontar tebak-tebakan mengenai keberadaanmu. Apakah kau sakit? Apakah kau pindah sekolah? Apakah kau meninggal? Atau bahkan engkau bukan manusia? Entahlah. Aku bernazar barang siapa yang berhasil memecahkan teka-teki ini, akan kuberikan segala yang kupunya. Aku sangat percaya diri. Toh, kau tak akan ditemui siapa pun lagi.
Rifah, jika kau membaca ceritaku ini, aku adalah Talib. Aku adalah orang yang berhasil kau angkat derajatnya.
Rifah, aku kini bukan pemuda malas yang hobi tidur. Aku adalah pemuda rajin penantang zaman.
Rifah, rupamu mungkin hilang. Tapi jasamu, abadi dalam keseharianku.
Rifah, terima kasih banyak. Kau berhasil membangunkanku.
Alumnus Angkatan XI PPL Al-Tsaqafah. Pengamat Politik Amatir. Mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Brawijaya.


