Air yang Keruh

—Juara Pertama Sayembara Cerpen altsaqafah.id 2026

“Kau pikir aku tidak tahu bau surga dan bau neraka, Din?”

Suaraku parau, tertahan di tenggorokan, beradu dengan deru napas Udin yang memburu di sudut gelap gudang beras pesantren. Tanganku mencengkeram kerah baju kokonya yang putih bersih—sebuah ironi yang memuakkan malam ini. Di bawah telapak kakiku, berserakan tiga paket plastik klip berisi kristal bening yang berkilau jahat terkena sorot lampu senter kecil yang tergeletak di lantai tanah.

Udin tidak menjawab. Wajahnya yang biasanya tenang, yang selama dua tahun ini menipu ribuan mata termasuk mata suci Kiai Hamid, kini mengeras. Tidak ada ketakutan di sana. Hanya ada kemarahan yang tertahan dan kilat kepuasan gelap yang akhirnya meletup keluar. Dia meludah ke samping, nyaris mengenai sepatuku.

“Dua tahun, Kang. Dua tahun aku pakai topeng monyet ini,” desisnya, suaranya rendah namun penuh racun. “Tidur di ranjang keras, makan sayur lodeh hambar, dengerin ceramah ngebosenin tentang akhirat … cuma buat nunggu momen ini. Buat nunggu kalian lengah dan membangun jaringan baru di tempat yang paling tidak dicurigai.”

“Kiai Hamid memercayaimu, Udin! Para santri menghormatimu!” teriakku, rasa kecewa mencabik dada. “Dan kau … kau meracuni mereka di rumah Tuhan?”

Dia tertawa, tawa rendah yang dingin dan kering, bergema mengerikan di sela-sela tumpukan karung beras. “Rumah Tuhan? Ini cuma bangunan, Kang. Dan santri-santri itu? Mereka bosan dengan Tuhan kalian. Mereka butuh pelarian. Dan aku … aku adalah jawaban mereka.”

“Kau iblis, Udin.”

“Dan Sampeyan, Kang Damar, Sampeyan cuma penjaga yang terlalu percaya pada dongeng pertobatan. Sampeyan pikir doa bisa mengubah DNA seseorang? Nggak ada yang bisa ngubah aku. Aku ini predator. Dan predator tidak akan pernah makan rumput hanya karena dia tinggal di kandang domba.”

Melihat seringai itu, aku menyadari betapa hancurnya hatiku. Semua harapan yang kupupuk selama dua tahun ini runtuh menjadi debu.

Semuanya bermula dua tahun yang lalu. Gerbang Pesantren Al-Ikhlas terbuka untuk seorang pria yang tampak hancur. Udin datang dengan reputasi yang mendahuluinya: mantan bandar besar yang dikabarkan ingin “pensiun” karena lelah dikejar bayang-bayang kematian.

Kiai Hamid, dengan kearifan yang sering kali kurasa terlalu lugu, menerima Udin dengan tangan terbuka. Sebagai Kepala Bidang Keamanan, aku adalah orang pertama yang menyatakan keberatan.

“Bah, orang seperti dia tidak mencari Tuhan. Dia mencari tempat sembunyi,” kataku di ruang pengurus yang remang-remang.

Kiai Hamid hanya tersenyum, jemarinya memainkan tasbih. “Damar, tugas kita bukan menyaring siapa yang layak masuk surga. Tugas kita adalah memastikan gerbang ini terbuka bagi siapa pun yang mengetuk. Air yang paling keruh sekalipun, jika didiamkan dalam wadah yang tenang, akan mengendapkan kotorannya.”

“Tapi bagaimana kalau kotorannya adalah racun, Bah? Dia akan merusak wadahnya,” balasku.

“Maka kita butuh lebih banyak doa untuk menetralkannya,” jawab Kiai Hamid pendek.

Sejak hari itu, aku bersumpah untuk menjadi bayangan Udin. Aku mengawasinya di setiap sudut pondok. Aku memeriksa lemari pakaiannya setiap minggu, menggeledah setiap lipatan sarungnya, dan mencium aroma napasnya setiap kali dia kembali dari izin keluar.

Namun, Udin adalah aktor watak yang jenius.

Bulan-bulan pertama, dia menampilkan performa yang membuatku terlihat seperti polisi paranoid yang jahat. Udin adalah santri pertama yang berdiri di saf terdepan saat azan Subuh berkumandang. Dia adalah orang yang paling rajin menguras bak mandi masjid hingga tangannya lecet. Dia bahkan sering terlihat menangis saat pengajian Kitab Al-Hikam, seolah-olah setiap kalimat tentang dosa adalah belati yang menghujam jantungnya.

“Kang Damar, berhentilah menatapnya seperti itu,” tegur seorang pengurus muda suatu sore. “Udin sudah berubah. Lihat bagaimana dia mengajari anak-anak kelas satu membaca Iqra.”

Aku menoleh dan melihat Udin di serambi masjid, dikerumuni santri-santri kecil. Dia tersenyum ramah, membetulkan makhraj huruf mereka dengan sabar. Untuk sesaat, aku merasa goyah. Mungkinkah aku yang salah? Mungkinkah hidayah memang seajaib itu?

Memasuki tahun kedua, kewaspadaanku mulai tumpul oleh konsistensi “kesalehan” Udin. Dia mulai diberikan kepercayaan lebih. Dia diangkat menjadi ketua asrama, posisi yang memberinya otoritas untuk mengatur santri-santri muda.

Namun, insting keamananku yang sudah terasah belasan tahun mulai menangkap getaran aneh. Ada sesuatu yang berubah pada dinamika di asramanya. Santri-santri di bawah asuhannya mulai tampak sangat … patuh. Terlalu patuh. Bukan kepatuhan karena rasa hormat, melainkan kepatuhan karena ketergantungan atau ketakutan yang tersembunyi.

Aku pernah memergokinya sedang berbicara serius dengan tiga santri senior di belakang kantin saat jam istirahat. Saat aku mendekat, mereka langsung bubar. Udin hanya tersenyum tipis, menyesap kopi hitamnya.

“Cuma nasihatin mereka soal disiplin, Kang,” katanya tenang. Matanya datar, tak terbaca.

Aku mulai melakukan penyelidikan diam-diam. Aku memperhatikan bahwa ada beberapa santri yang mulai kehilangan nafsu makan, mata mereka sayu, dan sering terlihat cemas. Sebagai orang yang bertahun-tahun berurusan dengan kenakalan remaja, aku tahu itu bukan sekadar gejala kurang tidur akibat hafalan.

Puncaknya adalah ketika seorang santri kelas tiga, seorang anak pendiam bernama Yusuf, ditemukan pingsan di kamar mandi dengan pupil mata yang mengecil. Tim medis pesantren mendiagnosisnya sebagai kelelahan hebat, tapi aku tahu ada yang tidak beres.

Aku menggeledah lemari Yusuf secara rahasia malam itu. Di balik lipatan kitab kuningnya, aku menemukan sebutir pil kecil berwarna merah jambu. Jantungku berdegup kencang. Ini bukan milik Yusuf. Yusuf tidak punya akses ke dunia luar. Hanya ada satu orang yang punya koneksi, satu orang yang punya otoritas untuk memasukkan barang tanpa dicurigai.

Malam Jumat, saat seluruh santri terjaga untuk zikir bersama di masjid, aku memilih bersembunyi di dalam gudang beras yang letaknya di pojok paling gelap pesantren. Aku sudah mengintai gerakan Udin selama tiga malam terakhir. Dia selalu menghilang selama tiga puluh menit setelah salat Isya dengan alasan “buang hajat” atau “mencari ketenangan”.

Langkah kaki terdengar mendekat. Ringan, namun pasti.

Pintu gudang berderit pelan. Seseorang masuk. Dalam kegelapan, aku melihat siluet yang sangat kukenal. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya. Sebuah bungkusan. Tak lama kemudian, pintu diketuk tiga kali dengan pola tertentu. Seorang pria asing dari luar pagar pesantren muncul di ambang pintu, menyerahkan sebuah amplop tebal yang isinya pasti lembaran uang.

“Ini yang terakhir untuk minggu ini. Permintaan di asrama meningkat,” bisik suara yang selama ini kukenal sebagai suara yang sering melantunkan ayat suci.

Saat itulah aku menyalakan senter dan menerjangnya.

Kembali ke gudang beras itu, di bawah tatapan dingin Udin yang telah menanggalkan topengnya.

“Kenapa, Din? Kenapa harus di sini?” tanyaku dengan suara yang hampir pecah.

Udin berdiri perlahan, membersihkan debu dari lutut sarungnya. Dia tidak lagi tampak seperti santri. Dia tampak seperti raja kecil yang sedang memandang rendah rakyatnya.

“Karena di sini aman, Damar. Polisi tidak akan menggerebek pesantren karena masalah narkoba kecuali ada bukti kuat. Di sini, aku punya tenaga kerja murah, konsumen yang mudah dipengaruhi, dan perlindungan dari orang-orang suci seperti Kiai Hamid.”

“Kau memanfaatkan ketulusan Kiai,” desisku marah.

“Ketulusan adalah kelemahan,” jawabnya dingin. “Dia pikir dia bisa menyelamatkanku. Padahal, aku hanya butuh tempat untuk ‘mencuci’ namaku sambil tetap menjalankan bisnisku. Dua tahun ini adalah investasi. Sekarang, namaku sudah bersih, uangku sudah terkumpul, dan aku punya jaringan baru di antara santri-santri yang akan lulus dan menyebar ke seluruh negeri.”

Aku merasa mual. Kejahatan yang dia lakukan jauh lebih sistematis dan mengerikan daripada yang kubayangkan. Dia tidak hanya menjual barang haram; dia menanamkan agen-agen baru di bawah kedok santri.

“Kau tidak akan keluar dari sini dengan bebas,” kataku sambil meraih HT di pinggangku.

Udin hanya tersenyum sinis. “Silakan panggil mereka. Tapi ingat satu hal, Kang. Saat aku pergi nanti, aku akan meninggalkan luka yang tidak akan pernah sembuh di hati Kiai Hamid. Aku akan menghancurkan reputasi pondok ini. Aku akan membuktikan bahwa ‘air tenang’ kalian tidak pernah bisa mengendapkan kotoranku, karena aku adalah sumber kekeruhan itu sendiri.”

Malam itu, Udin diserahkan ke pihak berwajib. Kiai Hamid menyaksikan proses itu dari kejauhan. Aku melihat bahunya yang biasanya tegap kini merosot. Wajahnya tampak sangat tua dan letih. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya kesedihan yang tak berdasar.

Setelah polisi pergi membawa Udin, aku berdiri di samping Kiai Hamid.

“Maafkan saya, Bah. Saya gagal menjaganya,” bisikku.

Kiai Hamid menggeleng pelan. “Bukan kau yang gagal, Damar. Tapi aku yang lupa bahwa di dunia ini, ada jiwa-jiwa yang memang memilih kegelapan bukan karena mereka tersesat, tapi karena mereka merasa itulah rumah mereka.”

Aku menatap gerbang pesantren yang masih terbuka. Selama ini aku percaya bahwa setiap orang memiliki benih kebaikan yang bisa disiram dan tumbuh. Namun, melihat punggung Udin yang menghilang di dalam mobil polisi, aku menyadari sebuah kebenaran pahit yang mengubah cara pandangku selamanya.

Ada orang-orang yang berubah karena mereka ingin menjadi lebih baik. Ada orang-orang yang berpura-pura berubah agar bisa melakukan kejahatan dengan lebih leluasa. Dan ada segelintir orang yang memang terlahir dengan kegelapan murni di intinya—pure evil. Mereka tidak membutuhkan hidayah, mereka hanya membutuhkan panggung.

Tugasku sebagai Kepala Keamanan kini terasa jauh lebih berat. Aku tidak lagi hanya menjaga gerbang dari orang jahat yang ingin masuk, tapi aku harus waspada terhadap mereka yang masuk dengan membawa “kebaikan” palsu. Karena terkadang, iblis yang paling berbahaya adalah dia yang sujud di sampingmu di saf terdepan, menangis paling keras saat berdoa, namun di kepalanya sedang merancang neraka untukmu.

devaramaulaya@gmail.com   Postingan Lainnya

Alumnus Angkatan XI Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah. Mahasiswa Hubungan Internasional (HI), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Jakarta.