Dari Suryalaya ke Swarnadwipa

—Juara Pertama dalam Lomba Literasi Perpustakaan Al-Tsaqafah 2025 Kategori Cerpen Pelajar Putra

“Bagaimana mungkin falsafah bangsa dibentuk oleh sekelompok orang yang menamakan diri mereka Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, padahal waktu itu batas wilayah Indonesia pun belum jelas, Pak?” tanya Surya.

Pak Min hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Semburan rasa bangga sedang mengaliri tiap saraf dalam tubuhnya. Ia yakin anak semata wayangnya akan menjadi salah satu pemimpin bangsa, dielu-elukan di mana-mana, dianggap pahlawan, dan dipelajari anak SMA dalam buku pelajaran sejarah Indonesia mereka.

Setelah menghabiskan rokoknya, Pak Min menatap Surya yang sedang duduk di pelataran rumah mereka. Anak itu menatap pohon kecapi di depan pos ronda. Di tangannya terbuka sebuah buku yang sangat tebal dan lumayan usang.

“Pertanyaanmu berani, Nak,” ucap Pak Min membuyarkan lamunan Surya.

“Lantas apa jawabannya, Pak?” balas Surya.

“Sayangnya Bapak tidak seberani engkau, Nak. Barangkali engkau ingin mencarinya sendiri?” pungkas Pak Min.

Surya merengut lalu tersenyum. Ia membawa pertanyaan itu setiap hari, seperti kepalanya sendiri.

“Tapi apakah yang disebut falsafah itu, wahai Anakku?” Pak Min tak ingin mematikan dialog.

“Pancasila, Pak. Bagaimana bisa lima hal itu mewakili 17.000 pulau?” Surya menutup bukunya dan masuk ke kamarnya; dialah yang ingin mematikan dialog.

Suryalaya, nama anak itu. Kritis, berani, dan cerdas. Suryalaya adalah calon sempurna pemimpin partai. Ia sudah sangat siap melanjutkan ayahnya. Ia mengerti hampir semua teori Marxis-Leninis, ia berbicara di atas podium, ia bisa memimpin pergerakan, dan ia seorang kamerad sejati.

Hari itu, 23 September 1965, ayahnya, Pak Min, mengembuskan napas terakhirnya setelah memimpin pergerakan selama empat periode kepemimpinan. Petinggi pergerakan sepakat mengangkat Suryalaya sebagai penerus. Tidak ada anggota yang menolak; Suryalaya memang disiapkan semesta untuk jabatan itu.

Masa itu, pendukung pergerakan sedang marak-maraknya. Kader baru bertambah di setiap ranting seluruh negeri. Gagasan “mempersenjatai petani” berhasil menarik simpati masyarakat yang telah diintimidasi para prajurit. Tidak terkecuali ranting yang dipimpin oleh Surya. Dalam tiga hari, kader di bawah naungan Surya bertambah 20%. Sumber daya pergerakan sedang surplus. Ditambah pemimpin sekaliber Surya, masa depan pergerakan terlihat terang benderang.

Suryalaya bukanlah orang yang anti-Pancasila. Tak pernah sekalipun terbersit dalam benaknya untuk mengubah falsafah tersebut. Ia hanya kelewat kritis dan suka bertanya. Ia juga hidup dan bertumbuh dengan baik, hanya di waktu yang sedikit kurang tepat.

“Besok pucuk pergerakan akan melakukan pemberontakan, kita akan membantu mereka dengan mengonsolidasikan massa di daerah.”

Hari itu, tepat seminggu setelah pengangkatannya, Suryalaya mendapat pesan dari ibu kota. Semangat revolusi yang sudah lama menyala, mendidih saat itu juga. Suryalaya membatalkan tidurnya. Ia berpakaian dan pergi ke kantor malam itu juga.

“Pagi ini, sebelum fajar, saya ingin semua kader berkumpul,” ia menelepon semua bawahannya.

Hari itu, 30 September 1965, Suryalaya dan seluruh kader melakukan apel pagi dan menunggu komando selanjutnya. Suryalaya duduk di kursi rotan menghadap lapangan, sedangkan para kader menunggu di dalam bangunan. Di hadapannya tergeletak buku catatan, telepon, dua bungkus rokok, serta tak lupa secangkir kopi hitam tanpa gula.

Seorang petinggi mendekatinya. “Bagaimana, Mas?”

“Nihil, Pak,” jawab Surya sembari menyalakan rokoknya yang keenam. Pertanyaan itu juga pertanyaan keenam yang ditanyakan petinggi. Mereka tak sabar, ingin bergerak, tapi komando dari pusat tak kunjung datang.

Tiga hari Suryalaya habiskan bersama ketidakpastian. Sebagian besar kader memutuskan pulang, sisanya yang kebanyakan pengangguran bermain gaple di pos depan. Tetapi Surya tetap di tempatnya. Rokoknya sudah menjadi puntung, kopinya tinggal ampas walau sudah dibuat ulang berkali-kali. Kali ini ia sedang berpikir. Apakah pemberontakan gagal? Apakah pesan di ujung malam itu cuma bercandaan?

“Saudara semua, sepertinya ada misinformasi. Saudara boleh pulang saja, saya mau beres-beres dulu,” Surya membuat keputusan. Bagaimanapun juga para kader punya kehidupan.

Ia pun masuk ke dalam bangunan di senja hari ketiga. Ia masukkan buku catatan dan beberapa berkas ke dalam tas. Ia sadar bahwa pemberontakan bisa berarti penantian. Tidak seperti cerita ayahnya yang hilang selama dua bulan—orang bilang Pak Min ikut pemberontakan Madiun—Surya bersyukur ayahnya pulang. Namun, satu hal yang tak ia sadari, pemberontakan yang gagal sama dengan kematian.

Duk, duk, duk! Rumahnya digedor. “Suryalaya! Hai, bangun!”

Penggedor sudah menerobos masuk. Tepat seminggu setelah pesan itu diterima, kini Suryalaya menatap seorang petinggi yang berdarah-darah membawa berkas-berkas pergerakan.

“Ada apa, Pak?” Ia bingung.

“Dasar anak kemarin sore! Sekarang kau harus pergi dari kota ini, bawa semua berkas ini, bakar jika memungkinkan, hindari tentara, dan tetap selamat!”

Dor! Dor! Suara bedil terdengar di kejauhan.

“Bisa jelaskan dulu, Pak?”

“Tidak bisa, Bodoh!” Petinggi menarik kerah Suryalaya, mendorong berkas ke dadanya. Surya dengan sigap menerima berkas tersebut.

Suara sepatu lars memecah keheningan. Petinggi menyambut sang tamu. Sambutan itu dibalas popor senapan di kepalanya.

“Mana Suryalaya?” bentak sang tamu. Ia berperawakan tinggi, berambut cepak, dengan bekas luka di lehernya. Todongan senapan membayangi wajah petinggi.

“Saya tidak tahu!”

“Kamu kira saya bodoh?” Sang tamu menembak kaki kiri petinggi. “Hei Komunis Tolol, ini kesempatan terakhir. Mana Suryalaya, kamerad Surya kebanggaan kalian?” Sang tamu kini berjongkok di hadapan petinggi.

“Cuih!” Petinggi meludahi wajahnya. “Asal kamu tahu, Pak Min menitipkan Surya ke saya. Saya jaga titipan itu dengan nyawa saya!”

Tamu mengokang senjatanya. Pucuk senapan yang masih panas menempel di dahi petinggi.

“Saya Suryalaya!” Sekarang ia sadar makna pemberontakan yang gagal adalah kematian.

Dor! Tamu menarik pelatuk.

“Keparat!” Surya menerjang si tamu. Hari itu, hari pertama Salokantara kalah dalam perkelahian satu lawan satu.

Gerobak itu berguncang terus. Wajar, jalanan yang ia lewati bukanlah aspal yang mulus. Surya terbangun di antara rumput hijau pakan ternak.

“Di mana, Pak?”

“Kedung Sombo, Mas,” jawab si kusir.

Terakhir Surya ingat, ia memukul perut Salokantara dan memecahkan teko ke kepalanya. Setelah itu ia pingsan bersama orang itu.

“Pak, apakah saya boleh menumpang di rumah Bapak?” Surya berhitung dengan situasi.

“Kalau numpang harus kerja, Mas!” Jawab si Bapak realistis.

“Siap, Pak!”

“Ya, weslah.”

Kini, Suryalaya resmi menjadi petani. Dari sinilah ia sadar bahwa para “panitia” tidak membuat falsafah; mereka hanya merangkum falsafah yang selama ini dianut bangsa kita tanpa sadar.

Jauh dari perkotaan, Desa Kedung Sombo merupakan wilayah yang relatif aman dari pasukan penumpas komunis. Suryalaya meninggalkan semua aksioma komunis yang ia pelajari dan mulai bekerja di ladang. Pak Darmo memberinya tempat tinggal dengan bayaran tenaga yang tidak sedikit. Sebelum fajar menyingsing, Suryalaya harus menimba air ke sumur di sudut ladang. Sering kali ia menonton penduduk desa yang berangkat ke surau untuk salat subuh. Agama adalah barang langka di lingkungannya dahulu.

Menjelang siang, Pak Darmo sering menyuruhnya menggarap beberapa ladang yang masih kosong. Jika tidak, ia bertugas memberi makan ternak Pak Darmo. Apabila pekerjaannya sudah selesai, Suryalaya sering berbincang dengan penduduk sekitar, sampai ia ditinggal sendirian karena para penduduk pergi melakukan salat.

Suatu hari Pak Darmo bertanya kepadanya, “Tidakkah engkau mau ikut salat?”

“Saya tidak bisa, Pak,” Suryalaya mengaku.

“Suryalaya, di balik ladang tebu itu ada sebuah pondok, pimpinannya Kiai Arna, barangkali kau ingin belajar semua,” jelas Pak Darmo.

“Apakah saya tidak bisa belajar di sini saja, Pak, dengan Bapak?” tanya Surya.

“Saya ini kaum abangan, Nak. Ilmu agama saya tidak lebih dalam dari parit itu. Tetapi, kau ini cerdas. Saya lihat kamu sering menjelaskan teori-teori rumit kepada para warga, kau bisa sekalian belajar di sana,” ucap Pak Darmo sembari menunjuk sebuah parit cetek untuk irigasi, lalu beralih ke ladang tebu yang membentang.

Ketika malam tiba, Surya sering gelisah tanpa alasan. Ia bingung dan ketakutan. Ia melihat sendiri bagaimana petinggi dibunuh. Ia bukanlah pemimpin besar, ia hanya seorang pemimpin ranting di kota kecil yang termarginalkan. Desa Kedung Sombo memberinya pertanyaan baru: Apakah karena pemberontakan yang dilakukan segelintir orang, nyawa semua komunis kehilangan harganya? Namun, Kedung Sombo juga memberinya suatu jawaban atas pertanyaan kecilnya, dan itu datang dari Darmo Waskito, karena ia bukanlah orang biasa.

“Kapten, sebenarnya kenapa kita harus mengejar si Surya ini? Sudah pingsan kau dibuatnya. Lagi pula, ia hanya pemimpin ranting,” tanya seorang prajurit.

Salokantara baru bersiap melanjutkan pekerjaannya. Ia duduk di atas mobil jip cokelat. “Prajurit, beberapa urusan memang bisa dibiarkan begitu saja, tapi beberapa yang lain harus dituntaskan.”

Jarang kali seorang Kapten Saloka berbicara panjang lebar. Ia masuk ke dalam jip cokelat, diikuti keempat anak buahnya. Mesin menyala, roda berputar, pengejaran dilanjutkan. Beberapa intel menyebutkan bahwa Desa Kedung Sombo kedatangan orang asing; ke sanalah mereka menuju.

Salokantara membuka lagi surat terakhir sang ibu. Ia membacanya selama perjalanan, barangkali itu menjaga dendamnya tetap menyala.

“Nak Saloka, boleh jadi ini surat terakhir yang bisa Ibu kirimkan. Orang-orang komunis sudah menguasai kota ini. Ayahmu sudah tiada. Ia dibunuh seorang komunis bernama Rosmid. Orang itu juga memperkosa adikmu. Kalau boleh jujur, tujuan Ibu menulis surat ini adalah agar engkau bisa membalas perbuatannya, membalaskan dendam kami.”

Manusia memiliki kebaikan, namun kebaikan hipokrit. Tidak ada kebaikan bagi mereka yang berlabel busuk. Pak Min adalah seorang manusia.

“Suryalaya, kau seorang komunis?” tanya Darmo Waskito.

Surya gelagapan menanggapi pertanyaan tersebut. “Tidak, Pak. Bagaimana mungkin?”

“Suryalaya, kau diseret seorang pria berdarah-darah, membayarku 50 rupiah untuk mengeluarkanmu dari kota. Saya bukan orang bodoh.” Mata Pak Darmo menatap tajam. Pertama kali Surya melihat mata itu, karena mata itu selalu teduh selama ini.

“Bukan begitu, Pak…”

“Suryalaya, jika saya ingin menyerahkanmu, sudah saya lakukan bulan-bulan kemarin, ketika kau pingsan di dalam gerobak,” potong Darmo Waskito penuh penekanan.

Suryalaya terdiam. Ia berhitung dengan situasi, selama ini Pak Darmo mengetahui kenyataannya.

“Terserah padamu mengaku atau tidak, tapi dengarlah, Nak. Pasukan penumpas ada di desa sebelah, mereka mencari pemuda bernama Suryalaya. Jika ingin sembunyi, gantilah namamu.” Pak Darmo menyalakan rokoknya. “Sekarang duduklah, hanya soal waktu mereka akan ke sini. Biarkan saya bercerita sedikit.”

Suryalaya tersadarkan dari lamunannya. Ia tidak lagi melihat mata tajam Darmo Waskito; mata teduh Pak Darmo sudah kembali.

“Seperti kau, saya juga meragukan Pancasila, Nak. Saya menguping obrolanmu dengan para warga.” Suryalaya memberanikan duduk di samping Pak Darmo yang mulai bercerita.

“Tapi saya tidak mencari jawabannya di buku-buku tebal ratusan halaman, di tulisan-tulisan karya Barat. Tidak, Nak. Saya mencarinya di desa ini, Kedung Sombo.” Mata Darmo menerawang jauh, seakan menembus batas fisik ladang dan pepohonan.

“Penduduk desa ini saling menghormati satu sama lain. Bukankah kau melihat sendiri? Adil dan beradab. Desa ini tidak terbagi atas partai maupun golongan, sebuah persatuan yang tak terelakkan. Saya melihat sendiri, Nak, bagaimana desa ini menyelesaikan persoalan. Musyawarah mufakat bukan hanya hafalan.” Darmo menyalakan rokoknya yang kedua.

“Ketika engkau bekerja padaku, kau mendapat imbalan yang sesuai, kan?” tanya Darmo.

Suryalaya masih menyimak.

“Jawab Surya!”

“Iya, Pak!”

“Bukankah itu yang dinamakan keadilan sosial? Falsafah ini bukanlah barang baru, Nak. Bukan falsafah ini yang membentuk kita, tapi kitalah yang membentuknya. Orang-orang itu tidak mencetuskan apa pun, mereka hanya mencontek cara hidup kita, lalu dielu-elukan sebagai pencetus Pancasila.” Darmo Waskito bukan orang biasa. Tidak ada yang tahu siapa dia, yang pasti dia bukanlah orang biasa.

“Bagaimana dengan sila pertama, Pak? Kenapa negara mengurusi keyakinan seseorang?” tanya Surya.

“Nak…” dengus Darmo. “Saya masih mencarinya hingga kini.”

Singkat Darmo, ia berdiri seketika dan menyipitkan matanya ke arah pintu masuk desa. Sebuah jip cokelat memasuki Kedung Sombo.

“Jika kalian tidak menyerahkan Suryalaya maka kami anggap komunis!!” teriak seorang prajurit dari dalam jip.

“Pergilah, Nak! Kiai Arna!” titah Darmo Waskito. Ia mengeluarkan pistol dari balik sarungnya.

Suryalaya tahu apa yang harus dia lakukan. Ia bergegas mengambil barang. Barangnya yang hanya sedikit dan menuju ke ladang tebu. Ke pondokan Kiai Arna. Sebelum memasuki ladang tebu, ia sempat menengok ke belakang, menyaksikan Darmo Waskito menodongkan pistol ke seorang prajurit yang terlihat seperti pemimpin mereka. Sepertinya ia akan baik-baik saja.

Ladang tebu itu luas, sangat luas. Setelah satu setengah hari perjalanan, Suryalaya baru bisa melihat bangunan pondok. Pondok itu terdiri dari tiga bangunan, tanpa pagar. Suryalaya mempercepat langkahnya. Salah satu bangunan terlihat seperti rumah panggung sederhana, dengan kandang ayam di depannya. Ia mengetuknya, seseorang membukanya. Seorang pria berjenggot dengan sarung kotak-kotak warna hijau dan kemeja putih bertanya.

“Ada apa, Nak?”

“Saya ingin belajar salat, Pak,” jawab Surya.

“Salat? Masuklah dulu, biar saya siapkan air minum.” Ramah tamah ketimuran, seperti yang diharapkan dari label kiai.

“Jadi, siapa namamu, Nak, dan dari mana engkau berasal?” tanya Swarnadwipa.

“Saya Angger Surya Ngalam dari Desa Beringharjo,” karang Surya, entah desa itu ada atau tidak.

“Beringharjo? Di manakah itu?” selidik Arna.

“Jauh, Pak. Saya orang jauh,” jawab Surya.

Swarnadwipa tersenyum simpul. “Kau boleh tinggal di sini, Nak Surya. Mulai besok saya akan mengajarimu salat. Saya Swarnadwipa.” Ia mengulurkan tangan. Suryalaya menjabatnya.

“Siapa namamu tadi?” ejek Salokantara.

“Peduli apa kau?” Darmo masih mendelik, walau sudah tersungkur.

“Dengar, Darmo. Kau adalah alasan kenapa petani tidak boleh dipersenjatai.” Saloka menodongkan pistolnya. “Dor!”

“Sebenarnya, kenapa kita harus salat, Pak Kiai?” Di hari ketiga pembelajarannya, Surya memecah keheningan setelah salam.

“Pertanyaanmu selalu menarik, Surya,” ucap Kiai Arna. “Tidak ada yang mengharuskanmu salat, Surya. Kau bisa memilih, kau selalu punya pilihan. Lalu kenapa kau memilih salat?” Swarnadwipa balas bertanya.

“Orang-orang desa itu, Pak Kiai, mereka terlihat tenteram, damai,” jawab Surya jujur. Memang itulah yang ia rasakan.

“Ha ha ha, begitulah, Nak. Salat memberikan ketenangan dengan ajaib. Tidak ada alasan, tidak ada latar belakang,” jelas Swarnadwipa.

“Oleh karena itu Pancasila diawali dengan ketuhanan. Surya, tahukah engkau?” lanjutnya. Surya tertarik, ini sisa jawaban atas pertanyaannya, sila ini juga menjadi salah satu alasan pemberontak. Pemberontakan yang menjungkirbalikkan hidupnya.

“Jika ketika memulai sesuatu tidak ada ketenangan dalam diri kita, maka kita akan terburu-buru, tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan itu akan membuka celah bagi kecerobohan dan kesalahan. Sejatinya, tidak ada masalah dalam hal itu. Tapi, rakyat suka melihat seorang pemimpin melakukan kesalahan,” jelas Swarnadwipa. “Jika di dalam diri rakyat juga tidak ada ketenangan, maka mereka akan terburu-buru. Apa hasilnya? Pemberontakan, seperti kemarin. Bukankah kau terlibat?”

Surya heran. “Kau seorang komunis, kan?” ia memperjelas tuduhannya.

Percakapan itu ditutup dengan ketukan pintu.

“Assalamualaikum, Pak Kiai.”

Swarnadwipa membukakan pintu. Seorang pria berseragam militer berdiri tegak di hadapannya.

“Saya tidak bertele-tele. Suryalaya!” Sebelum Swarnadwipa sempat berbicara, Salokantara sudah mengutarakan maksudnya.

“Tidak ada Suryalaya di sini,” walau tahu Surya komunis, Swarnadwipa memutuskan melindunginya. Swarnadwipa melihat Surya memiliki potensi baik dalam dirinya. Sebenarnya, Surya tidak pernah jahat.

“Dari tadi Pak Kiai berbicara dengan Surya,” tegas Salokantara.

“Angger Surya Ngalam namanya, bukan Suryalaya!”

“Mana dia?”

“Tidak ada, dia sudah pergi.”

Dug! Popor senjata mendarat ke perut Swarnadwipa.

“Saya dengar percakapan kalian, dan saya tahu, ia Suryalaya!” Salokantara menatap sinis. “Hei Surya! Sudah berapa orang mati karena engkau? Menyerah sajalah!” teriak Saloka.

Suryalaya paham bahwa pemberontakan yang gagal sama dengan kematian, pembantaian. Namun, ia tidak pernah mengira bahwa kematian bisa salah alamat. Jika kematian bayaran bagi pemberontakan dan yang terlibat, seluas apa batasan bagi “pemberontak”? Suryalaya muncul di ambang pintu.

Dor!

Salokantara belajar dari kesalahan, tubuh Suryalaya tersungkur begitu saja. Ia mati tanpa tahu bahwa kematiannya dan ribuan orang lainnya dimaknai sebagai “kesaktian Pancasila”. Kesaktian yang barangkali bermakna pembantaian, penyiksaan, perampasan hak hidup dan bermasyarakat.

“Dasar simpatisan komunis!” Kini moncong senapan mengarah ke kepala Swarnadwipa.

devaramaulaya@gmail.com   Postingan Lainnya

Alumnus Angkatan XI Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah