Permintaan Iyas

—Juara Pertama dalam Lomba Literasi Perpustakaan Al-Tsaqafah 2025 Kategori Cerpen Pelajar Putri

Terlalu lazim untuk menulis kalimat “Pada suatu hari” di awal cerita. Tenang saja, kalimat itu tidak akan kalian jumpai karena kali ini adalah kisah nyata seorang anak bernama Iyas. Ia ditinggalkan oleh para sepupunya pergi jauh menimba ilmu di pondok pesantren.

Peribahasa “tak kenal maka tak sayang” secara tidak langsung memberi saran bahwa alangkah baiknya para pembaca mengenal Iyas terlebih dahulu sebelum mengetahui suka duka Iyas.

Iyas adalah pribadi yang ceria, lincah, serta cerewet. Ia memiliki perawakan yang pendek dan gempal. Sebagai anak kelahiran Bekasi, tak mengherankan jika Iyas berwarna kulit sawo matang dengan darah kental Jawa-Sunda.

Satu hal yang menjadi maskot dalam diri Iyas adalah rambutnya yang ikal dan bergelombang. Kakeknya bahkan memanggil Iyas dengan sebutan “Si Galing”.

Galing adalah bahasa Sunda yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia—dengan konteks lembut—berarti ikal atau keriting. Iyas pasti manyun deh, kalau ia dipanggil “galing, galing, galing” sama sepupunya.

“Itu kan panggilan sayang dari Kakek, kok mereka seperti meledekku, sih?” Pernah sekali ia protes sambil merengut.

Iyas cucu paling akhir, sih, jadi sepupunya gemas kalau melihat dia. Umur para sepupu Iyas tidak terpaut jauh darinya, jadi pasti berisik banget kalau Iyas dan para sepupunya sedang berkumpul.

Tapi, ada satu tahun paling sepi yang pernah ia lewati dalam hidupnya.

Sejahil apa pun sepupu Iyas, Iyas juga tahu kalau mereka paling sayang sama Iyas. Nah, ketika Iyas memasuki kelas 6 di bangku sekolah dasar, semua sepupu Iyas satu per satu masuk pondok pesantren.

Awalnya, sih, Iyas senang saja. Tidak ada yang mengganggunya lagi di rumah. Lagipula, apa enaknya mondok? Para sepupunya sudah tidak bisa main sepuasnya, tidak boleh membawa gawai pula.

Mana seru hidup tanpa main Roblox! Padahal, setiap akhir pekan Iyas beserta sepupunya tidak pernah absen untuk bermain Roblox bersama.


Satu minggu berlalu semenjak para sepupu Iyas pergi mengemban ilmu di pondok pesantren. Itu belum menjadi masalah besar bagi Iyas.

Tujuh hari berturut-turut Iyas tidak berebut remote untuk memilih saluran televisi yang menayangkan kartun kesukaan Iyas.

Tujuh hari berturut-turut Iyas memenangkan permainan Roblox yang padahal biasanya dia kalah oleh para sepupunya.

Dan tujuh hari berturut-turut pula rambut ikal Iyas tidak disentuh oleh siapa pun.

Satu bulan setelah sepupu Iyas resmi menjadi santri, barulah Iyas merasakan adanya kesepian. Ada satu hal yang kosong di dalam diri Iyas. Menjadi pemenang di permainan Roblox bukan lagi hal yang istimewa sekarang.

Menonton televisi demi melihat Boboiboy pun bukan lagi hal yang dinantikan Iyas. Sekarang remote terlalu mudah untuk didapatkan. Tidak ada lagi tantangan, tidak ada lagi perasaan kemenangan yang Iyas rasakan.

Setiap hari Iyas bermain Roblox, maka setiap hari pula Iyas akan memenangkan pertandingan. Astaga, Iyas sama sekali tidak merasakan keseruan hidup sekarang.

Parahnya lagi, hobi Iyas akhir-akhir ini berganti; dari menonton Boboiboy dan bermain gawai menjadi lebih suka duduk-duduk di taman kompleks.

Kadang menyendiri sambil mengenang kakak-kakak sepupunya, tak jarang pula Iyas bermain dengan Cimol. Kucing jalanan berwarna putih buluk yang hobi mengambil ikan di taman kompleks.


Ngomong-ngomong, Iyas belum memperkenalkan ketiga sepupunya, ya?

Sepupu pertama baru saja memasuki jenjang Madrasah Aliyah di pondoknya, namanya Bang Reza. Jangan ditanya deh berapa kali dia kena pelanggaran di pondoknya, banyak banget! Kerjaannya kalau enggak merokok, ya cabut alias kabur ke warnet sekitar pondok.

Paling jauh, sih, Reza sempat ke Ancol demi menonton konser Green Day. Anehnya, Reza masih tetap mau lanjut mondok meskipun poin pelanggarannya sudah lewat batas. Katanya, sih, dia bisa kuat sejauh ini karena ada satu cewek di pondoknya yang bikin dia semangat.

Astaga, Iyas enggak habis pikir kalau Bang Reza sudah cerita tentang pondoknya.

Dua sepupu Iyas yang lain masih bisa dimaklumi. Keduanya sama-sama baru menduduki kelas satu jenjang Tsanawiyah di pondok yang sama dengan Reza. Namanya Saka dan Ojun.

Demi mempersingkat perkenalan sekaligus menghemat kertas dan tinta pulpen, mari mengenal Saka dan Ojun secara ringkas.

Saka sejatinya adalah pribadi yang pendiam, tapi sekali ia bertemu dengan teman satu frekuensinya, wah, tingkat kejahilan Saka bisa meningkat hingga melampaui batas.

Lain halnya dengan Ojun. Bahkan dengan orang yang baru lima menit dikenal saja, ia langsung bisa bercanda sambil bawa nama bapak. Pokoknya Ojun lebih bisa membaur dibanding Saka.


Baiklah, kembali ke cerita di latar tempat taman kompleks perumahan Iyas.

Di suatu sore yang sejuk, Iyas seperti biasa duduk di kursi taman yang menghadap ke arah lapangan voli bersama Cimol. Tapi, ada yang berbeda di hari itu. Kok lapangan voli terlihat lebih ramai dari biasanya, ya?

Iyas terkesiap. Astaga, Iyas tidak salah lihat, kan?

Meskipun ia sebelumnya tidak begitu menyukai voli, pemandangan di depannya membuat Iyas tidak mampu berkata-kata. Di sana ada Farhan Halim. Pemain voli nomor satu di Indonesia sekaligus kapten timnas yang biasanya hanya bisa Iyas lihat di televisi, kini bisa ia jumpai secara langsung!

Hup!

Farhan Halim melompat dan melakukan service ace. Iyas berdesis dalam hati. Tim Farhan Halim menang telak dalam permainan melawan bapak-bapak kompleks perumahan Iyas.

Riuh tepuk tangan terdengar jelas hingga tempat duduk Iyas. Apalagi suara tawa khas bapak-bapak yang menggelegar hingga kompleks sebelah.

Niatnya, sih, Iyas mau ikutan gabung sama bapak-bapak yang lagi berswafoto sama Farhan Halim. Tapi duh, tiba-tiba panggilan alam memaksa Iyas untuk berlari sekuat tenaga menuju rumahnya yang hanya berjarak tujuh rumah dari taman kompleks.

Lima belas menit kemudian Iyas keluar dari kamar mandi. Agak kecewa sih, kesempatan langka melakukan swafoto bersama Farhan Halim terlewat begitu saja.

Akan tetapi gawat juga jika Iyas malah mengeluarkan gas beracun di samping Farhan Halim. Hancur deh citra Iyas di mata Farhan.


Di ruang tengah, Iyas mendapati bundanya sedang membereskan begitu banyak belanjaan.

Eh, tapi Iyas tidak pernah melihat sang ibunda membeli belanjaan sebanyak ini sebelumnya. Mulai dari detergen, pewangi pakaian, sabun, sampo, sarung, baju koko putih, ih banyak banget lagi makanannya! Ini sih bisa untuk bertahan hidup satu tahun.

Iyas tak ragu menghampiri bundanya dan langsung mencomot permen Chupa Chups dari belanjaan tersebut. Namun, tepat sebelum Iyas membuka bungkusan permen, tangan Iyas lebih dulu dipukul oleh bundanya.

Au, Iyas meringis kesakitan. Kenapa sih Bunda sensi banget? Padahal Iyas cuma minta permen Chupa Chups yang kecil.

“Ini punya Reza, Saka, dan Ojun. Kamu enggak boleh ambil, Yas,” Bunda Iyas memberi tahu sembari tangannya masih memisahkan barang-barang sesuai kebutuhan para sepupu Iyas.

Mendengar ucapan bundanya, hati Iyas kesal luar biasa. Hei! Para sepupunya sudah diberi uang saku yang banyak oleh Kakek, sekarang semua jajanan ini juga mereka yang punya?

Mata Iyas memanas, tak bisa dipungkiri kini ia iri sekali dengan Bang Reza, Saka, serta Ojun.

“Enggak adil banget sih, Bun! Mana pernah Iyas dibeliin jajanan sebanyak ini,” Iyas merengut, manyun.

Bagi Iyas ini semua pengkhianatan! Sepupu, kakek, bahkan bundanya seperti bersekongkol menyisihkan Iyas dari keluarganya. Apa Iyas sebegitu merepotkannya sampai-sampai dia tidak pernah disayang seperti ini? Ah, ini sih enggak sesuai dengan Pancasila sila kedua!

Pertama, kakek dan bundanya memberi sepupu Iyas uang jajan dan jajanan yang banyak banget. Iyas mana pernah dimanja seperti itu? Pokoknya ini enggak adil.

Kedua, sepupu-sepupu Iyas yang katanya santri itu memang pernah berakhlak baik sama Iyas? Mana pernah! Dari dulu juga tiap Bang Reza lagi liburan malah makin sering ledekin Iyas. Pokoknya enggak ada dari ketiga sepupu Iyas yang masuk kategori manusia beradab.

“Emangnya arti dari kata adil itu apa, sih, Iyas?” suara Bunda melembut, merasa kasihan melihat wajah anak semata wayangnya yang cemberut menahan tangis.

Pertanyaan dari Bunda membuat Iyas terdiam. Sebenarnya Iyas juga masih kurang paham apa arti adil yang sesungguhnya. Iyas merasa ini semua enggak adil, tapi Iyas bingung cara jelasin ke Bundanya bagaimana.

“Adil itu bukan hanya perkara sama rata, Iyas. Tapi harus sesuai dengan porsinya masing-masing. Contohnya saja pekan kemarin Iyas diajak jalan-jalan keliling Bandung sama Kakek, makan banyak makanan enak juga, kan? Emang sepupu Iyas ikut Iyas sama Kakek jalan-jalan?”

Iyas menggeleng perlahan. Iya juga, sih. Pekan lalu Iyas senang sekali diajak mengelilingi kota Bandung satu hari penuh sama Kakek. Mungkin saat Iyas jalan-jalan, para sepupunya masih belajar di ruang kelas.

Loh, berarti situasi pekan lalu mirip dengan situasi hari ini. Iyas yang di rumah saja, sedangkan para sepupunya akan mendapat kiriman yang super lengkap.

Duh, kok Iyas enggak kepikiran sampai situ, ya?

Kalau begini sih namanya Iyas yang egois. Masa menuduh bundanya sendiri tidak adil padahal selama ini bundanyalah yang mengurus Iyas tanpa mengharap timbal balik apa pun.

Iyas tersenyum lebar menatap bundanya kemudian mengangguk. Iyas memahami dua hal baru sekarang. Pertama, kakek dan bundanya selalu berusaha bersikap adil kepada Iyas dan sepupu-sepupunya. Kedua, Iyas baru mengetahui keinginan pertama Iyas di bangku sekolah dasar.

“Baiklah, Bunda! Iyas pokoknya mau masuk pondok pesantren juga!” Tiba-tiba saja Iyas berteriak.

Mendengar permintaan Iyas, Bunda hanya bisa tertawa. Dasar Iyas, mau masuk pondok pesantren hanya karena makanan yang banyak.

Tapi Iyas tidak peduli. Ia malah mulai membayangkan mungkin saja di pondoknya nanti ia akan mengikuti ekskul voli agar bisa seperti Farhan Halim.

shescaaacaaa@gmail.com   Postingan Lainnya

Santri Kelas 12 IPS 2 PPL Al-Tsaqafah