Suasana majelis itu hening. Udara terasa khidmat, seakan-akan tiap helai napas menanti datangnya hikmah. Para sahabat senior duduk dalam lingkaran, wajah-wajah mereka menyimpan jejak perjuangan Badar, Uhud, dan Khandaq. Mereka adalah tulang punggung islam. Di antara barisan tokoh besar itu, tampak seorang pemuda. Wajahnya lembut, matanya memancarkan ketenangan sekaligus kecerdasan yang dalam. Dialah Abdullah bin Abbas, seorang pemuda yang kala itu masih dianggap “terlalu muda” untuk duduk sejajar dengan para pembesar sahabat.
Sebagian di antara mereka berbisik dalam hati, “Mengapa Amīrul Mu’minin Umar bin Khattab memanggil anak muda ini ke majelis kita? Bukankah kami pun memiliki anak-anak seusianya?”
Namun, Umar hanya tersenyum. Ia tahu sesuatu yang belum mereka lihat. Umar mengerti bahwa pemuda ini tidak duduk di sana secara kebetulan. Di dalam dada Ibnu Abbas, terhimpun berkah doa Rasulullah SAW.:
اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْن وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ
Artinya: “Ya Allah, pahamkanlah ia dalam agama dan ajarkanlah ia takwil (tafsir).”
Hari itu, Umar ingin menunjukan kepada para senior bahwa usia tidak selalu menjadi ukuran kebijaksanaan. Terkadang, berkat doa Nabi dan hati yang bersih, hikmah bersemayam di jiwa yang masih muda.
Dengan suara tenang namun berwibawa, Umar membuka majelis itu dengan membaca QS. An-Nasr:
إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ (١) وَرَأَيْتَ ٱلنَّاسَ يَدْخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفْوَاجًۭا (٢) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَٱسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًۢا (٣)
Suara beliau menggema lembut. Namun, mengandung kedalaman makna. Setelah membaca ayat itu, Umar menatap para sahabatnya satu per satu dan bertanya, “Apa pendapat kalian tentang ayat ini?”
Sebagian menjawab penuh hormat, “Allah SWT memerintahkan kita untuk memuji dan memohon ampun kepada-Nya ketika kita memperoleh kemenangan dan kota-kota telah ditaklukkan.”
Sebagian lainnya diam, tak ingin terburu-buru menafsirkan ayat-ayat tersebut.
Lalu Umar menatap ke arah Ibnu Abbas. “Bagaimana pendapatmu, wahai Ibnu Abbas? Apakah engkau sepakat dengan mereka?” tanya beliau.
Ibnu Abbas menunduk sejenak, matanya meresapi makna di balik ayat-ayat tersebut. Kemudian ia menjawab dengan suara lembut tapi mantap, “Tidak, wahai Amīrul Mu’minin. Bukan itu maksud utamanya.” Ia melanjutkan, “Surat ini adalah isyarat akan dekatnya ajal Rasulullah SAW.. Ketika datang pertolongan dan kemenangan, itu tanda bahwa tugas beliau telah sempurna.”
Lalu ia mengakhiri, “Maka Allah SWT. berfirman:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَٱسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًۢا
Yang berarti, bersiaplah untuk kembali kepada Tuhanmu dengan pujian dan istighfar.”
Hening panjang dan berat. Para sahabat saling menatap, dan perlahan mata mereka mulai berkaca-kaca. Kini mereka sadar, ayat yang selama ini mereka baca dengan penuh syukur atas kemenangan, ternyata membawa kabar yang membuat dada sesak.
Umar tersenyum tipis, menatap Ibnu Abbas dengan bangga sekaligus haru. “Aku tidak mengetahui tafsirnya, kecuali sebagaimana yang engkau katakan.” Ujar beliau tegas.
Disadur dan dinarasikan ulang dari hadis riwayat Al-Imam Al-Bukhori no. 4970.
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ كَانَ عُمَرُ يُدْخِلُنِي مَعَ أَشْيَاخِ بَدْرٍ، فَكَأَنَّ بَعْضَهُمْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ فَقَالَ لِمَ تُدْخِلُ هَذَا مَعَنَا وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ فَقَالَ عُمَرُ إِنَّهُ مِنْ حَيْثُ عَلِمْتُمْ. فَدَعَا ذَاتَ يَوْمٍ ـ فَأَدْخَلَهُ مَعَهُمْ ـ فَمَا رُئِيتُ أَنَّهُ دَعَانِي يَوْمَئِذٍ إِلاَّ لِيُرِيَهُمْ. قَالَ مَا تَقُولُونَ فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ} فَقَالَ بَعْضُهُمْ أُمِرْنَا نَحْمَدُ اللَّهَ وَنَسْتَغْفِرُهُ، إِذَا نُصِرْنَا وَفُتِحَ عَلَيْنَا. وَسَكَتَ بَعْضُهُمْ فَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ لِي أَكَذَاكَ تَقُولُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ فَقُلْتُ لاَ. قَالَ فَمَا تَقُولُ قُلْتُ هُوَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَعْلَمَهُ لَهُ، قَالَ {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ} وَذَلِكَ عَلاَمَةُ أَجَلِكَ {فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا}. فَقَالَ عُمَرُ مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلاَّ مَا تَقُولُ.
Wallahu a’lam bish shawab.
Guru Ushul Fiqih dan Iqtishod PPL Al-Tsaqafah. Sarjana Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo. Penjelajah dunia RPG

