Kemacetan memaksaku mengendarai sepeda motor dengan sangat pelan. Lebar jalan yang kulalui terlampau sempit untuk menampung volume kendaraan yang berlalu-lalang. Lebarnya kurang lebih hanya seukuran jalan penghubung dusun di kampungku. Jalan yang lebih cocok menjadi jalan kompleks ini dipaksa menjadi jalan raya. Ironisnya, jalur ini sangat vital karena menghubungkan Jakarta—tempat para pencari kerja—dan Depok, tempat tinggal mereka.
Ketika ada celah, aku harus sigap menarik selongsong gas lalu segera menarik tuas rem. Jika terlambat sedikit saja, slebor belakang motor orang lain akan pecah dihantam ban depanku. Sebaliknya, jika aku telat maju barang sedetik, telingaku langsung dihujani bunyi klakson yang memekakkan atau makian yang tak layak dengar. Entah mengapa, pengendara di ibu kota selalu terkesan terburu-buru.
Suasana diperparah terik matahari yang menyengat. Kaus dalamku sudah basah oleh keringat; bahkan alisku pun tak mau ketinggalan meneteskan peluh. Jika bukan karena pekerjaan, aku tak sudi berkendara setengah jam ke Jakarta Selatan demi berjibaku di tengah kemacetan dan mandi keringat di bawah terik mentari.
Kita belum membahas sopir angkot tak tahu diri yang menambah runyam suasana. Mereka gemar memberhentikan angkot rombengnya sesuka hati tanpa memedulikan kepadatan lalu lintas dan ruas jalan yang sempit. Kendati sudah menepi, sisa jalan tetaplah sempit sehingga hanya satu lajur yang berfungsi normal. Teguran berupa klakson dari pengendara lain hanya dianggap angin lalu.
Kukira semua kesemrawutan sudah kugambarkan, nyatanya tidak!
Sesaat setelah lepas dari kemacetan yang menjemukan, motor bisa melaju dengan kecepatan konstan. Namun, itu hanya sebentar. Tiba-tiba aku menemui sumbatan lain. Telingaku disambut lengkingan suara sember yang menohok gendang telinga. Setelah beberapa saat, aku mengenali suara itu: rekaman tabuhan genjring yang mengiringi vokalis hadrah. Sumbernya adalah dua pengeras suara berukuran besar yang ditumpuk di trotoar, tak jauh dari tempatku berdesakan.
Refleks, aku menyumpahserapahi operator sound system yang begitu payah. Suara vokalis dan alat musik yang sejatinya enak didengar menjadi sumber rasa sakit di telinga. Di sampingnya, kulihat sebuah pos dengan spanduk besar di bagian atapnya. Aku tak bisa membaca tulisan di sana karena jarak yang masih jauh, lagi pula aku harus fokus mengendalikan motor di tengah arus yang padat.
Motor terhenti lama di belakang sebuah sedan. Sumber suara yang memekakkan itu semakin dekat. Karena penasaran, aku berupaya mengintip lewat celah antarmobil. Ternyata, di depan sana ada truk molen yang terlalu raksasa untuk jalan sekecil ini. Lebih dari setengah lebar jalan tertutup besi tua itu. Alhasil, hanya satu ruas jalan yang bisa dilalui bergantian.
Para pengendara yang tak sabar mulai beradu nyaring klakson. Ada juga yang melampiaskan kemarahan dengan menggeber gas sesukanya. “Pak ogah” yang bermandi keringat bekerja keras menertibkan lalu lintas yang dipenuhi manusia berkadar kesabaran minus. Sejumput senyuman menghiasi wajah hitam legamnya saat pengendara mobil memberi imbalan atas jasanya.
Saat aku terfokus mengamati keadaan di depan, seorang laki-laki paruh baya menghampiriku. Ia membawa kardus bertuliskan “Pembangunan Masjid Al-Ikhlas.”
“Mohon doa restu dan sedekahnya. Di depan sedang dibangun Masjid Al-Ikhlas. Alhamdulillah, pembangunan sudah berada di fase pengecoran. Kami membutuhkan uluran tangan hamba-hamba Allah yang saleh,” jelasnya tanpa kuminta.
Aku hanya memberi isyarat tangan tanda enggan memberi.
“Bukannya meminta maaf karena menjadi biang kerok kemacetan, malah meminta sumbangan,” umpatku dalam hati.
Kemacetan memburuk hingga aku terhenti cukup lama bersama lelaki itu. Ia tak henti meminta meski aku sudah dua kali menolak. Sebenarnya aku punya uang receh. Namun, letaknya di saku yang sulit dijangkau. Ia tak menyerah; bergeming sembari terus merapal sekian ayat Al-Qur’an dan hadis tentang keutamaan bersedekah. Ia terdengar sangat fasih merapal dalil-dalil berbahasa Arab itu. Diam-diam, aku mengagumi kefasihannya.
Akhirnya aku menyerah. Kuambil dompet di saku kemeja. Dengan hati dongkol, kulepaskan kancing jaket agar tanganku bisa menjangkau uang. Aku menyerahkan selembar sepuluh ribuan dengan ekspresi menahan amarah. Pak tua itu tersenyum, menikmati “kemenangannya” siang itu. Sejenak aku tertegun saat menyadari ada uang receh di saku lain. Kejengkelanku membuatku lupa akan keberadaan uang yang lebih kecil itu.
Aku heran mengapa pembangunan masjid ini dilakukan. Padahal, hanya lima puluh meter dari sana sudah ada dua masjid besar. Dua puluh meter sebelumnya pun ada plang musala di gang sebelah kiri. Bahkan dari tempatku terjebak, aku bisa melihat menara masjid bergaya Ottoman berdiri kokoh.
“Apakah dua masjid dan satu musala belum cukup menampung jemaah di sini?” pikirku dalam hati.
Lamunanku buyar oleh serbuan klakson dari belakang. Ajaib! Setelah sumbangan itu kuberikan, arus lalu lintas perlahan bergerak. Kemacetan mereda dan aku bisa kembali melaju.
Dua bulan berlalu. Musim hujan seakan malas datang. Setelah panas menjerang seharian, langit sering kali berubah kelabu namun tak diikuti hujan. Paling-paling hanya gerimis yang mampir tak lebih dari lima menit. Aku kembali melewati jalan yang sama. Sinar mentari masih seterik dulu, begitupun kemacetannya. Kendaraan berjejal berebut ruang; bahkan trotoar pun dilibas oleh pengendara yang tak sabar.
Seolah mengerti penderitaan kami, mendung datang membawa angin segar. Tak lama, guruh menggelegar. Aku tak acuh karena fenomena ini sering berakhir tanpa hujan. Namun kali ini perkiraanku meleset. Gerimis turun dan dengan cepat berubah menjadi hujan deras. Sialnya, aku tak membawa jas hujan.
Bajuku sudah cukup basah ketika aku menemukan sebuah masjid dengan halaman luas. Aku segera memarkirkan motor. Hujan tumpah dengan lebatnya saat aku melangkah menuju bangunan masjid yang tampak baru selesai dibangun. Ember-ember bekas semen masih berserakan di sekitar halaman. Ingatanku langsung melayang ke kejadian dua bulan lalu.
Melihat papan namanya, aku yakin ini adalah masjid yang pembangunannya sempat membuatku naik pitam. Aku mendadak merasa sungkan untuk masuk, mengingat betapa malasnya aku saat memberi sumbangan dulu. Namun, hujan tak memberi pilihan lain. Aku melangkah masuk ke teras dengan perasaan waswas, khawatir akan bertemu kakek tua yang tempo hari “memaksaku” bersedekah.
Kumandang azan Asar menyadarkanku. Suara hujan yang berpadu dengan panggilan salat itu terdengar begitu syahdu. Niat awalku yang hanya ingin berteduh berubah menjadi keinginan untuk bersujud.
Imam telah mengakhiri doa, namun hujan justru semakin menggila dibarengi angin kencang. Aku terjebak di masjid yang dulu hampir enggan kubantu pembangunannya. Sungguh ironi yang memalukan. Untunglah, hanya aku, pak tua itu, dan Tuhan yang tahu.
Sambil menunggu ponsel yang sedang diisi daya di ujung ruangan, aku termenung. Bagiku, masjid terasa terlalu sakral untuk digunakan bermain ponsel, terlebih jemaah lain tengah khusyuk: ada yang tenggelam dalam bacaan Al-Qur’an, ada yang menghayati zikir, dan ada yang serius membaca di perpustakaan mini. Badan yang lelah dan udara dingin akhirnya meninabobokanku dalam posisi bersila.
Aku terbangun saat azan Magrib berkumandang. Ponselku sudah terisi 75%. Hujan masih deras, seolah langit menumpahkan seluruh simpanannya yang tertahan selama kemarau.
Usai salat Magrib, seorang lelaki paruh baya naik ke mimbar. Uluk salamnya berwibawa. Aku memutuskan menunda kepulangan demi mendengarkan ceramahnya. Intonasi suaranya sangat memikat—begitu kewes dan tertata. Ia menceritakan tentang Masjid Nabawi di Madinah; betapa bersahajanya bangunan itu pada mulanya—beratap pelepah kurma, berlantaikan pasir, dan berpagar bata mentah.
Namun, di balik kesederhanaan itu, Masjid Nabawi adalah pusat peradaban. Tempat strategi perang disusun, wahyu Tuhan disebarkan, dan kaum papa—Ashabussuffah—ditampung. Nama-nama besar seperti Bilal bin Rabah, Salman Al-Farisi, dan Abu Hurairah tumbuh di sana. Aku begitu menikmati ceramahnya hingga tak sadar hujan sempat berhenti, lalu azan Isya berkumandang. Aku memutuskan untuk salat Isya berjemaah terlebih dahulu.
Tepat saat salam terakhir dirapalkan imam, gemuruh hujan kembali menyerbu. Aku menarik napas panjang. Zikir Isya berlangsung singkat, jemaah satu per satu undur diri. Tinggal aku dan imam yang tersisa di ruang utama. Di belakang, kulihat seseorang sedang mengepel lantai teras yang basah. Lampu-lampu mulai dimatikan, menyisakan satu lampu di tempatku duduk.
Saat aku sedang mengecek pesan di ponsel, pemuda yang mengepel teras tadi mendekat.
“Masjid akan dikunci sebentar lagi, Mas,” tegurnya dengan ekspresi datar.
“Baik, terima kasih,” jawabku sekenanya.
Awalnya aku merasa kesal karena merasa diusir. Namun, mengingat perangaiku yang bersikukuh tak mau menyumbang dulu, aku hanya bisa pasrah. Aku melangkah ke teras dan duduk sejenak di samping beduk yang masih baru—kulitnya mulus dan kayunya mengilap.
“Bagian sini juga akan ditutup,” tegur pemuda itu lagi.
Tanpa kata, aku segera memakai sepatu dan menuju parkiran. Aku berjalan sambil bersungut-sungut. “Sialan! Berteduh di teras pun tak boleh,” umpatku.
Namun, kemarahan itu segera sirna saat bayangan wajah pak tua peminta sumbangan kembali muncul di benak. Aku tertunduk lesu, menekuri hujan yang tak jua reda, menyadari bahwa ego sering kali lebih sempit daripada jalanan Jakarta yang macet.
Guru Bahasa Inggris Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

