ALTSAQAFAH.ID – Kesehatan mental telah menjadi isu yang hangat untuk diperbincangkan. Berbagai lembaga mengampanyekan kesehatan mental yang jatuh pada tanggal 10 Oktober dengan berbagai tema. Namun, tahukah kita mengenai kesehatan mental? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari, bekerja secara produktif, serta memberikan kontribusi di lingkungannya.
Berdasarkan pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan RI, terdapat peningkatan proporsi gangguan mental yang cukup signifikan. Pada tahun 2013 angkanya 1,7 persen naik menjadi 7 persen pada tahun 2018 yang merupakan kategori gangguan jiwa berat, yaitu skizofrenia. Di sisi lain menurut perhitungan berdasarkan beban penyakit pada tahun 2017, beberapa jenis gangguan jiwa yang dialami oleh penduduk di Indonesia di antaranya adalah gangguan depresi, cemas, skizofrenia, bipolar, gangguan perilaku, autis, gangguan perilaku makan, dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
Dalam rentang tahun 1990–2017, gangguan depresi tetap menduduki urutan pertama. Gangguan depresi dapat dialami oleh semua orang, baik tua maupun muda, seperti hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018 menyatakan bahwa gangguan depresi sudah mulai terjadi pada usia remaja (15–24 tahun) dengan prevalensi 6,2% dan tertinggi di usia 75+ sebesar 8,9%.
Banyak pemberitaan kasus mengenai kesehatan mental yang sering terjadi pada remaja, seperti termuat dalam detikHealth, 8 November 2018 artikel berjudul “Heboh Remaja Mabuk Rebusan Pembalut, KPAI Singgung Kesehatan Mental Anak”, berikutnya dimuat dalam kompas.com 28 Agustus 2021 berjudul “Diduga Depresi Berat, Anak Tusuk Ayahnya Hingga Tewas di Cengkareng”, dan masih di kompas.com 19 Oktober 2020 berjudul “Korban Bunuh Diri karena Depresi Banyaknya Tugas Online dan Sulitnya Akses Internet”. Dari data tersebut bisa kita simpulkan bersama bahwa masalah kesehatan mental remaja menjadi hal yang penting untuk kita perhatikan bersama.
Secara umum remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang mengalami berbagai perubahan, seperti fisik, mental, kecerdasan, sosial, dan emosional. Adapun faktor-faktor yang memengaruhinya sebagai berikut:
Pertama faktor biologis, adanya penurunan ukuran beberapa area otak serta peningkatan aktivitas di area lain otak. Biasanya adanya kontribusi genetik yang terjadi antara orang tua yang depresi terhadap anak-anak/remajanya. Remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental biasanya memiliki berat badan lahir rendah, sulit tidur, dan memiliki ibu yang berusia di bawah 18 tahun pada saat melahirkan. Itu sebab mengapa pernikahan/kelahiran di bawah umur dilarang mengingat faktor risiko dalam gangguan kesehatan mental.
Kedua faktor psikologi, pembentukan awal yang kurang tepat akan membuat anak tidak memiliki cara dalam menangani suatu masalah yang berakibat kesehatan mentalnya terganggu. Seperti ketika anak dididik dengan pola asuh otoriter, anak tidak menemukan cara untuk menyelesaikan masalah, anak tidak memiliki kesempatan untuk memilih sehingga itu akan membuat anak mudah mengalami depresi.
Ketiga faktor sosial dan lingkungan, faktor ini berperan penting dalam kesehatan mental anak. Ketika anak berada di lingkungan yang kurang baik dan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti kekerasan, pelecehan, dan perundungan, hal ini tentunya akan memengaruhi kesehatan mental anak. Seorang anak/remaja yang dibesarkan dengan lingkungan/keluarga yang memiliki gangguan kesehatan mental akan berpotensi untuk mengalami gangguan kesehatan mental juga.
Mengetahui Gejala
Menurut DSM 5 (Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental), ada beberapa gejala klinis yang menandai remaja memiliki masalah dengan kesehatan mental di antaranya:
- Menarik diri dari lingkungan;
- Kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya dikerjakan dengan baik, kinerja akademik yang menurun;
- Perubahan mood yang cepat, seperti gampang marah dan sering menangis;
- Perubahan jam tidur, sulit tidur atau keinginan untuk tidur berlebihan;
- Memiliki perasaan tidak berharga, keinginan untuk melukai diri dan bunuh diri;
- Adanya keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan, seperti sakit kepala, sakit perut, sesak, dan lain-lain.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Untuk menjaga kesehatan mental dibutuhkan pemahaman mengenai kesehatan mental sehingga tidak ada lagi stigma negatif terhadap orang dengan gangguan mental. Gangguan mental bukanlah aib ataupun kutukan. Dengan adanya pemahaman mengenai kesehatan mental, kita bisa bersama-sama meringankan beban mental seseorang. Lalu bagaimana cara menjaga kesehatan mental? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, seperti tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain, mensyukuri segala yang sudah dimiliki, melihat segala sesuatu dari segi yang positif, istirahat yang cukup, serta lakukan hal apa pun yang membuatmu merasa bahagia.
Saran
Bagi remaja yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental, mulailah untuk terbuka dengan bercerita kepada orang tua atau orang terpercaya apa pun yang sedang terjadi dan kamu alami. Kemudian jika dirasa berat, segeralah meminta bantuan pertolongan profesional, seperti psikolog atau psikiater.
Bagi orang tua, dengarkan keluh kesah anak tanpa menghakimi, tidak memberikan labeling/ judgment yang membuat mental anak menjadi down, berikan kepercayaan bahwa anak mampu melakukan berbagai aktivitas dengan baik tentunya dengan pengawasan yang tidak membuat anak merasa risi, tidak membanding-bandingkan kemampuan anak dengan orang lain, dan hargai proses yang sudah dilakukan anak.
Bagi guru, memberikan perhatian kepada siswa yang memiliki masalah dalam akademik maupun sosial, tidak memberikan labeling/ judgment dan membandingkan siswa satu dengan siswa lain, memberikan materi yang menarik, memberikan beban tugas yang sesuai dengan kemampuan anak, serta bersedia mendengarkan keluh kesah siswa.
Apabila kita memiliki pemahaman dan kesadaran akan kesehatan mental, bukan hal yang tidak mungkin terhindar dari kesehatan mental yang terganggu. Mari buka mata, telinga, dan hati agar mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental mau terbuka dan mengobati luka.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Editor: Senja Bagus Ananda
Pengajar Aswaja & Ke-NU-an Al-Tsaqafah

