Dinamika Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi

ALTSAQAFAH.ID – Pada 31 Desember 2019 dunia mulai dikejutkan oleh berita dari Kota Wuhan, Cina, yaitu virus yang mudah tertular dan belum ditemukan obatnya. Virus ini bernama Covid-19 atau Corona Virus. Covid-19 adalah virus baru yang berasal dari satu keluarga yang sama dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan beberapa jenis flu biasa yang tidak bisa dianggap ringan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Covid-19 telah menjadi pandemi global dengan 4.534.0731 kasus positif yang terkonfirmasi di 216 negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Virus Corona juga telah mewabah di Indonesia sejak awal Maret hingga saat ini September 2021 terdapat 4,19 juta kasus positif terkonfimasi tersebar di 34 provinsi dan 415 kabupaten/ kota. Hal ini membuat pemerintah mengerahkan berbagai cara untuk memutus penularan Covid-19 dengan mengurangi kerumunan. Mulai dari social distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga saat ini PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang menimbulkan perubahan salah satunya pada bidang pendidikan.

Dengan aturan mencegah kerumunan, teknis berjalannya pendidikan di Indonesia berubah. Pengajar dan siswa dipaksa oleh keadaan untuk memanfaatkan teknologi agar pendidikan tetap berjalan lancar dan tidak berhenti. Banyak cara yang dilakukan pihak pendidik untuk tetap menyalurkan ilmunya, salah satunya dengan pembelajaran jarak jauh atau biasa disebut sekolah daring (dalam jaringan). Sekolah daring sangat bergantung dengan teknologi khususnya internet karena banyak menggunakan aplikasi-aplikasi yang mendukung pembelajaran jarak jauh berlangsung. Seperti aplikasi Zoom dan Google Meet agar tetap bertatap muka meskipun melalui layar laptop atau ponsel masing-masing. Selain itu, tak sedikit pula pembelajaran jarak jauh yang dilakukan dengan WhatsApp dan memanfaatkan aplikasi Tiktok maupun Youtube untuk penjelasan materi yang dipelajari.

Secara tidak langsung pembelajaran jarak jauh yang dialami pelajar dan mahasiswa Indonesia melatih mereka untuk lebih mengikuti perkembangan era industri 4.0 yang sangat memanfaatkan teknologi juga melatih kemandirian siswa untuk memahami pelajaran yang disampaikan.

Dengan metode yang sangat mengandalkan jaringan internet untuk mengakses beberapa aplikasi pendukung untuk belajar, dibutuhkan sarana pendukung, seperti smartphone, laptop, dan sinyal yang mendukung untuk mendapatkan koneksi internet dengan baik. Namun, amat disayangkan koneksi internet di Indonesia tidak merata, tidak seluruh pelajar di Indonesia memiliki smartphone atau laptop untuk menerima pembelajaran jarak jauh dan tidak semua guru bisa menggunakan teknologi. Inilah yang menjadi akar permasalahan pendidikan Indonesia di masa pandemi.

Pembelajaran jarak jauh tidak bisa dinikmati oleh seluruh pelajar di Indonesia karena terhalang oleh tidak adanya sarana teknologi yang menjadi nyawa berjalannya pembelajaran jarak jauh. Akibatnya banyak yang dikorbankan, khususnya siswa Sekolah Dasar (SD) yang sangat membutuhkan pengawasan serta bimbingan guru untuk memahami materi yang disampaikan. Maka, tak jarang banyak siswa yang sudah naik kelas tidak memahami materi yang diajarkan di kelas sebelumnya, bahkan ironisnya banyak siswa Sekolah Dasar yang sudah naik kelas tiga, tetapi belum mahir dalam membaca dan belum mengetahui perkalian. Inilah salah satu dampak dari pembelajaran jarak jauh dengan sisitem daring yang sudah berjalan dua tahun lamanya. Selain itu, tidak sedikit orang tua yang mengerjakan tugas individu anak-anaknya secara terus menerus karena sang anak belum memahami materi yang dijelaskan oleh gurunya.

Selain itu, pandemi membuat generasi muda Indonesia menjadi kering pengalaman karena segala kegiatan yang biasa dilakukan di luar rumah dan melibatkan banyak orang terhenti. Hal ini mengharuskan generasi muda untuk menerima keadaan dan tetap mencari aktivitas sesuai minat juga bakatnya secara mandiri yang ditawarkan di media sosial.

Dua tahun lamanya pendidikan di Indonesia dilakukan dengan teknis pelaksanaan jarak jauh. Kini para pendidik juga pelajar bisa bernapas lega karena sudah banyak sekolah yang melaksanakan pembelajaran dengan tatap muka di sekolah dengan syarat menjalankan protokol kesehatan dan sudah melakukan vaksinasi yang sudah dimulai pada bulan Agustus 2021 hingga saat ini. Hal ini menjadi angin segar bagi pendidikan Indonesia untuk memperbaiki kekurangan dalam proses penyampaian dan penerimaan materi bagi guru dan siswa.

 

 

 

Editor: Senja Bagus Ananda

996nadyakhorunisaa@gmail.com   Postingan Lainnya

Pengajar bahasa Indonesia Al-Tsaqafah. Gadis keturunan Sunda, nama Nadya Haerunisa perpaduan dari nama Ayah dan Ibu. Lahir di lingkungan yang asri nan bersahaja, Pandeglang 30 Desember 1996. Anak perempuan pertama dari 2 bersaudara. Terlahir dari keluarga sederhana, tetapi memiliki kemewahan kasih sayang di dalamnya.