Tadarus Lailatul Qadar, Malam Kemuliaan

ALTSAQAFAH.ID – Bulan Ramadan merupakan bulan yang mulia. Pada bulan ini seluruh umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan rukun Islam keempat, ibadah puasa (Q.S. Al-Baqarah: 183), juga semua amal kebaikan diganjar berlipat ganda dan penuh ampunan atas dosa-dosa. Hal ini sebagaimana asal arti kata “Ramadan” yang berasal dari kata ramidlha, yang berarti panas. Dari sini kemudian di antara para ulama menjelaskan arti kata “panas” dengan makna bahwa pada bulan Ramadan dosa-dosa orang yang berpuasa dibakar atau dihapus.

Pada bulan Ramadanlah Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar sekaligus sumber rujukan umat Islam diturunkan oleh Allah yang bertepatan dengan peristiwa Lailatul Qadar (Q.S. Al-Qadr). Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar dapat diartikan bahwa pada malam itu Allah mengatur dan menetapkan ketentutan-ketentuan syariat Islam kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengajak manusia ke jalan yang benar.

Selain peristiwa agung diturunkannya Al-Qur’an, Lailatul Qadar, malam yang memiliki nilai kebaikan dari seribu bulan juga sangat didambakan oleh umat Islam dengan berlomba-lomba melaksanakan ibadah untuk menjumpainya sebagaimana telah diteladankan oleh Rasulullah saw. Sedemikian istimewanya bulan Ramadan dengan hadirnya Lailatul Qadar. Lalu, apa itu Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar terdiri dari dua kata, lailah dan al-qodr. Untuk kata lailah, tidak ada perbedaan di kalangan ulama, yakni malam. Namun, mengenai kata al-qodr terdapat perbedaan dalam pemaknaannya. Perbedaan pemaknaan ini didokumentasikan oleh Al-Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam kitabnya Mafātīḥ al-Ghaib sebagaimana berikut ini.

Pertama, sebagian ulama memaknai Lailat al-Qadr dengan lailat taqdīr al-umūr wa al-aḥkām (malam ditakdirkannya/ditetapkannya berbagai urusan dan hukum). Pandangan ini dikemukakan oleh ‘Aṭā’ ibn Abī Rabāḥ. Dasarnya adalah riwayat dari Abdullah ibn Abbās yang mengatakan, “Sesungguhnya pada Lailatul Qadar Allah menetapkan hujan, rezeki, kehidupan, dan kematian yang akan terjadi pada kurun satu tahun hingga Lailatul Qadar tahun berikutnya.”

Pandangan ini kemudian diikuti oleh sebagian mufasir lain, di antaranya Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī yang mengatakan, “Lailatul Qadar adalah ‘malam ketetapan’ (lailat al-ḥukm) di mana Allah menetapkan takdir segala sesuatu untuk satu tahun.” Meskipun pendapat al-Tabari ini ditentang al-Razi yang mengatakan bahwa takdir Allah untuk semua makhluknya itu telah ditetapkan pada masa azali, yakni masa sebelum diciptakannya segala sesuatu. Namun demikian, seandainya yang dimaksud dari “malam ketetapan” ini adalah bahwa pada malam tersebut Allah memperlihatkan kepada malaikat takdir segala sesuatu selama satu tahun, maka hal ini dapat diterima.

Kedua, makna istilah tersebut adalah lailat al-‘uẓmah wa al-syaraf (malam keagungan dan kemuliaan). Pendapat yang dikemukakan oleh Muḥammad al-Zuhri ini didasarkan pada pemahamannya terhadap Q.S. Al-Qodr: 3, yang artinya, “Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” Mengapa malam tersebut dinamakan “malam keagungan dan kemuliaan”?

Menurut al-Rāzī, hal ini disebabkan oleh dua kemungkinan alasan. (1) Orang yang melakukan ibadah dan kebaikan mendapatkan kemuliaan dan keagungan dari Allah Swt. dan (2) amal perbuatan baik pada laylat al-qadr dipandang memiliki kemuliaan yang lebih dibanding dengan amal baik di selain malam tersebut.

Ketiga, makna kata al-qadr adalah al-ḍīq (kesempitan). Dengan demikian, gabungan laylat al-qadr berarti “malam kesempitan”. Meskipun demikian, kata “kesempitan” di sini tidak berarti negatif, tetapi berarti positif. Malam itu disebut dengan “malam kesempitan” karena pada saat itu sejumlah besar malaikat turun ke bumi untuk menyaksikan manusia beramal kebaikan dan kebajikan. Turunnya malaikat ini diterangkan pada Q.S. Al-Qodr: 4, yang artinya, “Turun para malaikat dan Ruh (malaikat Jibril a.s.) pada malam Lailatul Qadar.”

Mengenai kapan Lailatul Qadar terjadi, tidak ada yang tahu, kecuali Allah. Allah sengaja merasahasiakan terjadinya Lailatul Qadar supaya umat Islam melaksanakan ibadah dengan sungguh-sungguh dan istikamah hingga dapat menemukannya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah meneladankan dan menyerukan kepada umat Islam untuk lebih bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam akhir Ramadan, terutama pada tanggal-tanggal ganjil.

Namun demikian, di kalangan para ulama ada yang menguraikan tanda-tanda Lailatul Qadar. Antara lain ada yang berpendapat bahwa pada saat terjadi Lailatul Qadar, langit tampak bersih, suasana tenang dan sunyi, tidak panas dan tidak dingin (riwayat Imam Ahmad) dan keesokan harinya sinar matahari tidak terlalu panas dan cuaca terasa sangat sejuk (riwayat Imam Muslim).

Walhasil, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan mesti dimanfaatkan secara maksimal untuk kita melaksanakan ibadah, baik dalam lingkup ritual, sosial, maupun natural/alam sejak awal hingga akhir Ramadan. Oleh karena itu, tanpa memperhitungkan secara kalkulatif kita semua dapat menjumpai malam istimewa, Lailatul Qadar dan kembali fitrah. Aaamiiin

Balyamuhammad96@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Sosiologi dan Ilmu Tafsir Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Penikmat Kultur Pesantren.