Kalimat Jaa Zaidun (جاء زيد) Berdasarkan Tujuh Disiplin lImu (Bagian 2)

ALTSAQAFAH.ID – Pada bagian pertama, penulis telah membahas tentang kata jaa berdasarkan disiplin ilmu nahwu, shorof, dan tajwid. Sekarang akan membahas kata jaa berdasarkan disiplin ilmu balaghah, mantiq, `arudh, dan maqulat menurut Syekh Ahmad Zaeni Dahlan. Dalam praktiknya, empat disiplin ilmu ini adalah ilmu-ilmu yang tingkat levelnya setara dengan level S kalau menurut anime.

Baca juga: Kalimat Jaa Zaidun (جاء زيد) Berdasarkan Tujuh Disiplin lImu (Bagian 1)

Langsung saja, mari kita bahas kedudukan kalimat jaa zaidun (جاء زيد) berdasarkan ilmu balaghah, mantiq, `arudh, dan maqulat.

Keempat, Berdasarkan Ilmu Balaghah

Seperti biasa, dalam pembahasan kalimat jaa zaidun, Syekh Ahmad Zaeni Dahlan sering memulainya dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebenarnya ada tiga pertanyaan yang diajukan, tetapi penulis akan membahas dua pertanyaan saja. Adapun kedua pertanyaannya adalah sebagai berikut:

  1. Apakah kalimat jaa zaidun adalah khabariyah atau insyaiyah ?

هل جملة جاء زيد خبرية أو انشائية

  1. Apakah kalimat jaa zaidun adalah isnad haqiqi atau majazi?

هل الاسناد في جاء زيد حقيقى أو مجازي

Sebelum membahas dua pertanyaan di atas, terlebih dahulu perlu diingat kembali tentang tiga ilmu yang masuk ke dalam ranah disiplin ilmu balaghah, yaitu ilmu ma’ani, bayan, dan bad’i. Adapun ketiga pertanyaan di atas masuk ke dalam ranah Ilmu ma’ani.

Untuk nomor satu, Syekh Ahmad Zaeni Dahlan menjawabnya dengan jawaban yang jelas, yaitu

انه خبرية لان الخبرية هي منسوبة للخبر وهو الكلام المحتمل للصدق و الكذب

Kata jaa zaidun adalah khobariyah (berita) atau kalimat pernyataan karena dipergunakan untuk sebuah khabar (berita/pernyataan) biarpun pada kenyataannya mungkin benar atau tidak berita tersebut. Namun, intinya ada sebuah pernyataan bahwa Zaed telah datang (jaa zaidun).

Kemudian untuk jawaban nomor dua:

انه اسناد حقيقي لان الاسناد الحقيقي اسناد الشيء الى من هو له كأنبت الله البقل ويسمى حقيقة عقلية

Kata jaa zaidun merupakan isnad haqiqi karena menyandarkan sesuatu kepada yang semestinya dalam arti yang datang itu benar-benar Zaed, bukan yang lain. Sama seperti kata انبت الله البقل   yang artinya pada hakikatnya Allahlah yang telah menumbuhkan sayur-sayur. Hakikat tersebut sering disebut dengan haqiqataqliah.

Beda lagi dengan kalimat انبت الربيع البقل  yang artinya musim semi telah menumbuhkan sayur-sayur. Contoh ini bertolak belakang dengan kalimat انبت الله البقل. Maka, kalimat ini disebut majaz ‘aqli. Untuk lebih jelas lagi silakan buka kembali buku balaghah masing-masing.

Kelima, Berdasarkan Ilmu Mantiq

Sebelum pembahasan kalimat jaa zaidun berdasarkan ilmu mantiq, terlebih dahulu penulis akan mengulas sedikit perjumpaan penulis dengan ilmu mantiq.

Sebagai guru matematika, perjumpaan pertama dengan ilmu mantiq, yaitu ketika belajar matematika. Tepatnya ada sebuah materi yang berjudul “Logika Matematika”. Pada materi ini, pembahasan dimulai dengan kalimat terbuka, kalimat tertutup, negasi, kalimat berkuantor, konjungsi, disjungsi, implikasi, biimplikasi, dan penarikan kesimpulan. Kemudian pertemuan selanjutnya, penulis ikut pasaran ilmu mantiq di Pondok Darul Ulum Petir Ciamis dengan kitab yang dikaji, yaitu Assulamu Almunauroq.

Pada dasarnya tidak ada perbedaan dalam pembahasan antara logika matematika dan ilmu mantiq yang diajarkan di pesantren. Hanya saja ada tambahan tabel kebenaran dalam logika matematika untuk memperkuat argumen dalam penarikan kesimpulan.

Langsung saja kita bahas kalimat jaa zaidun dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh syekh Ahmad Zaeni Dahlan:

جملة جاء زيد من أي القضايا

Kalimat jaa zaidun termasuk bagian dari qodiyah apa?

Untuk jawabannya sudah barang tentu karena tidak ada adat sur dan berbentuk tunggal, kata jaa zaidun termasuk ke dalam qodiyah syahsiyah (قضية شخصية).

Oleh karena itu, Syekh Ahmad Zaeni Dahlan menjawabnya dengan lugas:

فالجواب أنه قضية شحصية

Maka jawabannya adalah bahwasannya kalimat jaa zaidun disebut qodiyah syahsiyah.

Kemudian Syekh Ahmad Zaeni Dahlan membahas sepintas tentang pembagian qodiyah menjadi lima.

وقد قسم المناطقة القضية الى قضية شخصية و كلية و جزئية و مهملة و طبيعية

Para ulama mantiq membagi qodiyah menjadi lima bentuk, yaitu qodiyah syahsiyah, kulliah, juziah, muhmalah, dan tabi’iah.

Untuk lebih jelas lagi, silakan ikuti kelas Ustaz Fajri Fauzi, Lc. di Kelas 12 MA Al-Tsaqafah.

Lantas bagaimana menurut disiplin ilmu `arudh dan maqulat? (Bersambung)

hilmifarid46@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Matematika dan Al-Jabr Wa Al-Muqabalah PPL Al-Tsaqafah (Periode 2013-2020 dan 2022-2024)