Dirjen Pendis: Santri Harus Terapkan IHSAN

Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah mendapat kunjungan dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S. TP., M.T. pada Selasa (17/11) kemarin.

 Kunjungan ini disambut langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA. Acara silaturahim ini berlangsung di Aula Pondok Pesantren dan dihadiri segenap dewan guru dan santri.

 Dalam sambutannya Prof. Ali Ramdhani menjelaskan konsep Ihsan sebagai acuan muslim dalam beragama dan berbangsa. “Muslim yang baik adalah muslim yang mengamalkan Ihsan dalam keseharianya, yaitu Integritas, Humanis, Spiritual, Adaptif dan Nasionalis. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang berkomitmen dan jujur dalam mengamalkan ajaran agamanya, namun kejujuran harus disampaikan dengan cara dan diksi yang tepat, atau dengan cara humanis, karena integritas tanpa humanisme akan menjadi kering,” jelasnya.

Prof. Ali Ramdhani mencontohkan integritas dan humanis dalam relasi suami-istri. Ketika suami menyebut istri dengan diksi “aneh”, tentunya istri akan tersinggung, tapi jika menyebutnya dengan unik, tentu dia akan senang, padahal antara keduanya memiliki maksud yang sama. Oleh karena itu, kalau ajaran Islam adalah ajaran kebenaran, tampilkan wajah Islam dengan wajah yang ramah bukan wajah yang marah, wajah rahmatan lil alamin, mengajak bukan mengejek, membina bukan menghina.

“Kejujuran yang disampaikan secara serampangan itu akan tampil seolah-olah menohok. Bicara kebaikan hendaklah dengan cara yang baik, karena bicara kebaikan dengan cara buruk itu juga tidak baik. Tidak mungkin sesuatu itu indah jika dilakukan dengan cara yang tidak indah, karena keindahan haruslah komprehensif, junjung keduanya, baik tujuan ataupun caranya,” tambahnya.

Dalam paparannya, peraih Guru Besar pada usia 34 tahun ini menjelasakan bahwa selain integritas dan humanis, sebagai makhluk Tuhan, manusia juga memiliki tanggung jawab terhadap dimensi spiritual, karena dimensi spiritual menyadarkan manusia atas hubungannya dengan Tuhan. Selain itu, tidak kalah pentingnya dengan adaptasi. Manusia akan sukses dimana saja jika mampu beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk menjunjung tinggi semangat nasionalisme yang dicerminkan dengan hubbul wathan minal iman.

 “Oleh sebab itu, muslim yang baik adalah muslim yang berkomitmen, juga humanis, memiliki spiritualitas yang kuat, mampu beradaptasi, dan berjiwa nasionalis, hubbul wathan minal iman,” pungkasnya.

Pewarta: Nizar
Editor: Iman