43 Tahun Ibu Nyai Nisrin: Sang Ibu bagi Semua

Di balik dinding kokoh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, ada sosok yang kehadirannya senantiasa menjadi naungan bagi setiap santri, guru, dan pengurus. Beliau adalah Ibu Nyai Nisrin Said, salah satu pengasuh Al-Tsaqafah yang bukan hanya memimpin dengan penuh ketulusan hati, tetapi juga mengayomi seluruh keluarga besar pesantren.

Pada hari yang istimewa ini (27/08/2025), di momen ulang tahunnya, kami segenap keluarga besar Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah ingin memberikan rasa hormat dan terima kasih atas segala dedikasi dan kasih sayang yang telah beliau curahkan selama ini.

Pandangan dan kisah dari berbagai kalangan, mulai dari kepala madrasah, guru, staf, alumni, hingga santri, menjadi bukti bahwa beliau bukan hanya sekadar pengasuh, melainkan cermin dari ketulusan dan pengabdian.

Dari Kepala Madrasah: Sosok yang Selalu Memikirkan Santri

Menurut Senja Bagus Ananda, Kepala Madrasah Tsanawiyah Al-Tsaqafah, Ibu Nyai Nisrin adalah sosok yang memiliki kepedulian yang sangat kuat terhadap santri dan guru. “Mungkin dalam separuh hidup beliau, minimal sejak berdirinya Al-Tsaqafah, yang selalu beliau pikirkan adalah para santri dan guru,” ujarnya. “Di balik sosok beliau yang terlihat diam, jauh di dalam pikiran dan hati beliau, yang selalu dipikirkan adalah bagaimana agar para santri bisa menjadi pribadi-pribadi yang berakhlak dan berprestasi.”

Senja menambahkan, Ibu Nyai Nisrin sudah seperti “kakak” yang selalu mendukungnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. “Kalau saya ada apa-apa, pasti saya meminta doa dan restu beliau,” imbuhnya.

Dari Guru Senior: Totalitas dalam Pengabdian

Totalitas Ibu Nyai Nisrin dalam mengurus pesantren adalah salah satu yang disorot oleh KH. Idris Soleh, salah satu guru senior yang menyaksikan proses awal berdirinya Al-Tsaqafah.

“Yang jelas beliau sangat totalitas, mau mengorbankan jiwa dan raga untuk keberlangsungan pesantren, dan sangat bertanggung jawab. Beliau pernah bilang ke saya, ‘Selama saya masih hidup, Al-Tsaqafah akan saya urus,’” jelasnya.

Dari Kepala Keamanan: Kepedulian yang Melampaui Batas

Kepedulian Ibu Nyai terhadap keluarga besar pesantren juga sangat dirasakan oleh Kepala Keamanan, Adri, dan bahkan dianggap melampaui batas kewajiban. Di tengah kondisi sakit, Ibu Nyai masih menyempatkan diri menanyakan kabar Adri.

“Waktu itu lagi era COVID-19, ekonomi sedang sulit, banyak teman saya putus kuliah karena tidak sanggup membayar. Saya juga sudah pasrah jika tidak jadi wisuda,” kenang Adri. “Namun, Bu Nyai, yang saat itu sedang dirawat karena sakit—bukan karena COVID—malah mengingatkan saya, ‘Adri, bukannya hari ini hari terakhir pembayaran wisuda?'”

Adri menambahkan, “Biaya kuliah saya sampai wisuda dibayar lunas oleh beliau, padahal saat itu beliau sedang sakit dirawat. Beliau masih sempat memikirkan orang lain di saat seharusnya beliau bisa saja memikirkan dirinya sendiri.”

Dari Alumni: Nasihat Berharga yang Mengubah Hidup

Nasihat-nasihat yang diberikan Ibu Nyai juga memiliki dampak yang besar bagi keluarga besar pesantren, termasuk Ema Nur Rofiana, alumni angkatan pertama Al-Tsaqafah. Ia mengingat betul nasihat Ibu Nyai tentang “menabung.” Meskipun terlihat sederhana, nasihat itu berhasil mengubah kebiasaan Ema.

“Jujur aja, saya dulu borosnya minta ampun. Tapi, suatu ketika, Ibu Nyai menasihati saya tentang menabung. Itu saya ingat-ingat terus dan sampai sekarang selalu saya jalankan,” jelas Ema.

Berkat nasihat tersebut, Ema bahkan bisa membayar biaya kuliah dengan uangnya sendiri.

Selain itu, Ema juga mengenang pesan Ibu Nyai yang selalu menekankan pentingnya pendidikan, khususnya bagi perempuan. “Beliau sangat menekankan bahwa perempuan harus mandiri dan punya daya, ‘al-Madrasah al-Ula’,” tambahnya.

Dari Santri: Menggali Makna Sejati Santri

Bagi santri, sosok Ibu Nyai adalah pemberi makna. M. Syihab Nawwaf, santri kelas 12, berbagi kesan mendalam tentang nasihat Ibu Nyai mengenai definisi sejati seorang santri yang selalu diingatnya.

“Santri itu bukan hanya sekadar formalitas nama,” kata Syihab. “Tetapi, santri adalah orang yang tertancap di dalam jiwanya akhlak, budi pekerti, dan karakter, yang kemudian ditampakkan melalui tindak-tanduk dan ucapan kita setiap hari.”

Berbagai kisah ini menjadi bukti bahwa Ibu Nyai Nisrin Said adalah sosok inspiratif yang mengayomi dengan sepenuh hati.

Di hari ulang tahunnya, keluarga besar Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah menyampaikan doa dan harapan terbaik. Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan untuk terus menebarkan kebaikan.

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya