Wujudkan Masyarakat Literat di Lingkungan Terdekat

Alfa Syifa, S.Th.I., Pengajar Ilmu Tafsir

Sepekan lagi dunia akan memperingati hari literasi, akankah kita hanya diam tanpa ekspresi?

Hal yang paling fundamen dari literasi adalah membaca dan menulis, tetapi untuk keduanya masih banyak yang apatis. Sekolah dan madrasah telah memberikan solusinya, tak ada peserta didik yang luput dari membaca dan menulis setiap harinya. Namun, cukupkah hanya dengan sebatas bacaan dan tulisan yang memuat pelajaran sekolah?

Mari kita telaah makna literasi terlebih dahulu. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan pengertian literasi: 1) kemampuan menulis dan membaca; 2) Pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; 3) Kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Sementara itu organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (UNESCO) menjelaskan literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh, dari siapa, serta bagaimana cara memperolehnya.

Kita simpulkan dengan ringkas bahwa literasi adalah keterampilan kognitif seseorang yang digunakan sebagai kecakapan hidup (life skills) sehingga dapat berpikir kreatif,  kritis, dan solutif.

Belakangan ini Kementerian Komunikasi dan Informatika RI gencar mengajak masyarakat untuk mengikuti berbagai webinar literasi digital. Hal ini terjadi karena hampir seluruh aktivitas selama masa pandemi dilakukan secara nontatap muka sehingga pemanfaatan teknologi digital menjadi wajib dan mengedukasi masyarakat tentang digital pun menjadi perlu. Ini adalah salah satu bentuk nyata ekspresi pemerintah dalam menyikapi suatu kondisi.

Mengutip sambutan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy dalam modul Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional, “Bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang literat, yang memiliki peradaban tinggi dan aktif memajukan masyarakat dunia.”

Mantan Mendikbud ini telah mengobarkan semangat literasi, tentunya tidak hanya pemberantasan buta aksara karena literasi dasar yang disepakati World Economic Forum ada enam, yaitu literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, dan budaya.

Di luar dari enam macam literasi dasar tersebut, tentunya masih terdapat istilah literasi-literasi lain, di antaranya literasi media, literasi teknologi, dan literasi agama.

Berada pada komunitas apakah Anda? Sosial, ekonomi, budaya, agama, atau yang lain? Wujudkan masyarakat terkecil dan terdekat kita menjadi literat.

 

Editor: Senja Bagus Ananda

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya