Kejadian yang akan kuceritakan ini terjadi saat musim dingin, di tengah malam menakutkan, yang katanya sering terjadi peristiwa besar nan mengerikan. Waktu itu aku sedang duduk di kantor sembari membaca dengan cahaya yang remang. Di depanku ada tumpukan buku kotor berdebu. Hanya ada satu yang terbuka, yaitu buku cerita tentang Faust. Saat itu aku sampai di halaman yang menceritakan si Ilmuwan tua itu, pada suatu malam, sedang duduk di antara deretan buku-bukunya. Rambut putihnya terurai sampai ke bahu. Ia diliputi rasa putus asa dan bosan dengan ilmu, juga benci dengan hidup yang telah memberinya pengetahuan, yang dikiranya mampu memberikan segalanya.
Ia duduk merenungkan dirinya yang sudah hidup delapan puluh tahun lamanya. Sudah berbuat apa saja? Apa untungnya? Sungguh ia tak pernah merasakan masa muda sedikit pun. Hatinya tak pernah dihinggapi kesenangan hidup. Jiwanya pun tak pernah mencicipi ketenangan dan kegembiraan. Bahkan saat masa-masa indah pun, di saat teman-teman sebayanya membicarakan “cinta”, ia malah memilih “pengetahuan”. Memang ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraihnya dengan melahap sebanyak mungkin apa pun yang bisa ditampung oleh akal pikirannya. Ilmu telah memberinya segenap hidup.
Namun sekarang, hidup itu seolah akan sirna. Ia sedang berada di jalan kembali menuju tempat yang “asing”, tempat datangnya dahulu -kalau mungkin kita menamainya sebuah tempat. Bukankah itu hanya sia-sia? Saat ini, baginya pengetahuan menjadi hina, sama seperti jiwanya. Selain ilmu, seluruh hidupnya menjadi sia-sia tak berguna. Ia sudah menyia-nyiakan hidup, tanpa menggenggam bunga, tanpa menghirup wangi semerbak taman indah dengan pepohonan, sungai, bunga, dan binatang. Hatinya kosong tak terisi apa pun, tapi kepalanya terisi banyak pikiran yang akan digerogoti cacing -seperti yang dikatakan Heni- yang juga akan memakan daging tengkorak besarnya.
Seluruh perasaan itu berkecamuk dalam diri Faust yang tengah duduk di depan buku astronomi, ditemani cahaya remang lampu, di dalam sebuah ruangan kecil semisal rubanah di abad Pertengahan. Sekelilingnya hanya ada tumpukan buku-buku berdebu. Suasananya sepi senyap dan menakutkan. Ia sendirian, tak ada seorang pun di tempat itu. Bersama itu, rasa gemetar menjalari tubuh ilmuwan tua renta ini karena merasa seolah ia tak sendiri dalam ruangan itu. Ia sedikit bimbang, kemudian dengan mata sayupnya ia pandangi sekeliling penjuru ruangan, tapi tak menemukan seorang pun kecuali bayangan dari cahaya lampu yang terlihat di tembok gelap menyerupai hantu yang sedang bermain-main. Tiba-tiba rasa takut merasuki jiwa Faust. Ia arahkan kembali mukanya ke buku sambil berusaha membaca dan mencari ketenangan hati.
“Faust! Faust! Aku dengar apa yang berkecamuk di benakmu,” tiba-tiba suara bisikan menyapa telinganya.
Darah Pak tua membeku, tapi suara itu meneruskan.
“Jangan takut. Bukankah kau tahu siapa aku?”
Si Ilmuwan itu tak mampu menjawab, juga tak berani beranjak. Ia tetap terduduk seperti patung lilin yang diam membisu berbagai bahasa.
“Akulah yang mampu mengabulkan semua yang kau inginkan,” suara itu kembali berbisik.
Setelah itu kekuatan berangsur-angsur kembali ke dalam jiwa Pak tua dan takut pun menghilang. Ia menoleh ke arah munculnya suara itu. Ia melihat wajah yang aneh bentuknya, tak menyerupai rupa manusia ditambah sunggingan senyum yang aneh pula. Ia tak melihat tubuh dari wajah aneh itu karena tertutupi gelap. Akhirnya Pak tua pun mampu mengendalikan diri.
“Siapa kamu?” tanya Pak tua terbata-bata.
“Begitu pentingkah bagimu mengetahui siapa diriku?” jawab bayangan wajah.
“Siapa kamu?”
“Kau selalu saja ingin tahu, selalu saja cinta pengetahuan! Hei orang tua bodoh! Tidak cukupkah aku mengabulkan semua pintamu? Semua yang kau minta?”
“Siapa dirimu?”
“Setan!”
Ia tercengang dan kembali melihat wujud rupa itu, yang masih tersenyum seperti semula.
“Setan?” bisik Pak tua seolah bertanya pada dirinya sendiri.
“Kau takut padaku?” tanya rupa itu dengan lembut dan sedikit mendekat.
“Setan?”
“Jangan takut. Sebentar.…”
Seketika Pak tua melihat dua tangan, dua kaki, dan bagian-bagian tubuh lainnya beterbangan dari penjuru ruangan, lalu menempelkan diri pada wajah itu sampai akhirnya menjadi sosok seorang manusia. Wajah itu berubah dari bentuk semula dan menjadi seperti manusia biasa lalu menjulurkan tangannya mengambil kursi dan duduk di dekat Pak tua.
“Inilah aku, manusia seperti dirimu. Aku harus menjadi manusia sepertimu agar kau bisa memahamiku. Sungguh, manusia sepertimu tidak bisa melihat kecuali hanya yang sebentuk dengan rupamu! Aku siap melayanimu,” ujar manusia jadi-jadian itu.
Rasa takut si Ilmuwan berangsur hilang. Ia mengingat kembali rasa kalut dan bosan hidup yang baru saja ia rasakan.
“Setan, berikan aku … berikan padaku…,” suaranya lantang, tapi gemetar dan terbata-bata.
“Mintalah yang kau mau.”
“Masa muda!” Pak tua mengucapkannya dari lubuk hati yang kalut dan bimbang.
“Apa yang kau pinta akan kuberikan. Namun, apa imbalan yang kau berikan padaku? Sungguh, setan tak pernah memberi dengan ikhlas karena Tuhan,” jawab setan dengan tenang dan pelan.
“Aku akan memberimu ilmu, semua ilmu yang telah aku raih selama delapan puluh tahun,” jawab Pak tua. Setan pun tertawa terbahak-bahak.
“Aku tak butuh barang itu, ilmumu tak berguna bagiku. Aku mau yang lain.”
“Apa?”
“Jiwamu.”
“Ya, sepakat,” jawab Pak tua dengan tegas tanpa ragu.
Seketika setan mengulurkan tangannya dan dengan cepat mengambil kertas yang berserakan di bawah lampu lalu menarik lengan Pak tua.
“Mau apa?” Pak tua terperanjat kaget.
“Jangan takut. Aku cuma ingin sedikit darahmu saja. Nanti kau tulis kontrak di kertas itu, sebagai bukti perjanjian kita; aku memberimu muda, kau kasih aku jiwa.”
Pak tua setuju dan menulis kesepakatan itu dengan darahnya. Setan mengambilnya lalu mengangkat tangannya kemudian menyentuh tubuh Pak tua. Tiba-tiba Pak tua seperti dedaunan kering yang berjatuhan dari pohon muda. Berubahlah Pak tua renta itu menjadi pemuda dua puluh tahunan dengan rupa tampan dan sumringah, penuh kebahagiaan dan gelora cinta di dalam jiwanya.
***
Aku berhenti membaca kisah Faust sampai di sini. Aku taruh lagi buku itu dan merenung. Saat itu yang ada dalam hatiku hanya “cinta pengetahuan”. Semua angan dan citaku hanyalah mampu membuka jendela penembus alam lain yang tenggelam dalam lautan rahasia. Apa pun yang mampu menyingkap tabir hal baru bagi jiwa yang senang baca ini, dialah yang pantas kuserahkan jiwa ini.
“Setan! Setan! Keluarlah! Tampakkan dirimu padaku! Ambillah dariku apa pun yang kau mau dan berilah apa pun yang kuminta!” Di malam itu, di dalam kamar, aku berteriak.
Tentu saja tak ada yang menampakkan diri. Tak ada pula dinding yang terbelah. Yang kuucapkan bukan juga teriakan, tapi hanya suara yang menggema dalam jiwa. Bisikan yang gaungnya pun tak mungkin tembus keluar pintu kamar sekalipun.
Tak lama kemudian aku tertidur sebentar, tidur yang dihiasi mimpi khayalan teatrikal. Tiba-tiba saja muncul setan berbaju merah “Mephisto”. Tangannya menggenggam pedang dan memandangku dengan senyuman busuk nan sinis dari kedua bibirnya.
“Kau memanggilku?” tanyanya.
“Ya,” gumamku.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
“Pengetahuan.”
Setan terbahak-bahak lama sampai ujung pena bulu di tanduknya bergoyang.
“Kau paham makna kata ini?”
Aku tahu yang setan mau. Kujawab saja dengan sedikit nada keras.
“Ya. Ya. Aku tahu kau juga tak mengerti aura kata ini. Aku tak menginginkan sesuatu yang mustahil darimu. Aku juga tak bermaksud agar kau memberiku ‘pengetahuan’ itu sendiri. Yang aku mau hanyalah kau memberiku ‘cinta pengetahuan’. Aku ingin kau memberiku jiwa Si Faust, yang hidup untuk mencari pengetahuan. Aku ingin kau memberiku apa yang telah kau ambil dari Si Faust. Berikan padaku ‘jiwa’ Faust yang telah kau ambil. Aku ingin memiliki jiwa Faust atau jiwa Goethe!”
“Lalu apa yang kau berikan padaku sebagai imbalannya?”
“Apa pun yang kau mau.”
“Masa muda.”
“Ya, itu milikmu.”
Aku menjawabnya tanpa ragu. Tapi “Mephisto” malah terlihat heran atau merasa kasihan -kalau setan punya rasa iba- memandangiku. Tatapannya seperti pebisnis curang yang takut tertipu cek kosong.
“Kau pasti menyesal,” ia merayu.
“Sama sekali tidak,” jawabku tegas.
“Aku paham kalau semua yang berharga bisa saja dikorbankan untuk kembali ke masa muda. Namun, masa muda mau dikorbankan…? Tolong dengar nasihatku. Aku tak pernah menasihati dengan tulus, tapi aku terus terang saja padamu, tak ada satu pun di dunia ini yang pantas ditukar dengan masa muda.”
“Pengetahuan, pengetahun, pengetahuan.”
“Waktu muda dulu, Faust juga berkata begitu!” ujar setan tersenyum sinis, seolah menghardik diri sendiri.
“Cinta pengetahuan adalah masa muda akal pikiran, masa muda yang abadi, juga kemuliaan manusia yang membuat para malaikat bersujud padanya, kecuali kau si Kurang Ajar, yang suka merongrong mahkota pikiran cemerlang kami!”
“Mahkota pikiran cemerlang? Harus kubilang apalagi ke pemuda ini?”
“Aku mengenalmu dan membencimu. Kau di sini, tugasmu di atas bumi ini tak lain hanya untuk memadamkan ‘pelita’ agung di pikiran kami. Di tanganmu ada tongkat panjang seperti yang dibawa oleh ‘hantu malam’ untuk memadamkan lampu minyak di jalanan saat waktu fajar tiba.”
“Hina sekali lampu-lampu minyak itu!”
“Ya, masa lampu itu telah berlalu karena telah diganti dengan lampu listrik. Begitu juga ‘ifrit-‘ifrit malam, mereka hilang bersama tongkat-tongkatnya. Kau juga sudah waktunya punah bersama pedang dan pena bulu itu. Sekarang, seorang pun tak sudi lagi menjual ‘pelitanya’ demi sesuatu.”
“Faust menjualnya demi seorang perempuan,” setan menyela.
“Itu lampu minyak!”
“Dari minyak ataupun listrik, sama saja cahaya.”
“Hai musuh cahaya, beri aku cahaya! Ambillah dariku apa pun yang kau mau.”
“Ok.”
Di hadapanku setan membuka lalu mengusapkan topinya ke lantai sebagai tanda hormat seperti yang dilakukan oleh pasukan kuda dalam kisah Iskandar Doumas. Kemudian ia bergerak untuk pergi, tapi aku menghentikannya.
“Bukankah kita perlu nota kesepahaman?”
“Tak perlu kontrak atau perjanjian darimu, aku percaya reputasimu.”
“Tapi maaf, aku tak percaya kehormatanmu.”
“Cobalah untuk sekali ini saja.”
Setan lalu membungkukkan tubuh dengan sangat hormat lalu menghilang.
***
Tiga belas tahun telah berlalu dari peristiwa hari itu. Di tahun-tahun itu aku melahap rakus berbagai buku. Aku pelajari berbagai macam bidang ilmu dan seni. Aku bergaul dengan para filsuf, sastrawan, musikus, dan pelukis. Saat itu aku sangat mencintai dan menggilai “pengetahuan”. Aku tak sudi menjadi bodoh atas berbagai cabang ilmu.
Kadang aku punya uang untuk makan di bulan depan, tapi saat kebetulan lewat di depan toko melihat deretan buku, aku tak bisa menolak, aku pakai uang itu untuk membeli buku. Sampai-sampai setiap hari aku hanya makan dengan kuah nasi dan minum teh tawar. Kegilaan ini membawaku sampai ke bacaan-bacaan yang tak seharusnya dibaca oleh seorang sastrawan. Aku baca buku astronomi, psikologi, dan matematika lanjutan. Bahkan di hari-hari libur pun aku menyibukkan diri dengan karya-karya seni, museum, juga rumah baca dan gedung artefak.
Aku juga sering duduk berlama-lama di pojok kafe kecil sendirian, menyendiri, dan berpikir selama enam atau tujuh jam terus menerus, memikirkan persoalan pelik, seperti filsafat umum, ide-gagasan, atau permasalahan politik, sosial, dan ekonomi. Di kepala ini, seringkali kuhancurkan negara-negara dan kugantikan dengan peradaban imajinasi bersistem idealis seperti yang dilakukan oleh Plato dan Thomas More. Seringkali aku menjadi ateis lalu beriman, tersesat lalu mendapat hidayah. Seringkali aku menulis dan dirobek lagi. Seringkali aku berusaha untuk mendapatkan kelezatan maha tinggi yang kukira itu adalah maha keinginan manusia yang tiada duanya.
Aku tergila-gila dengan cahaya dan merasakan hidup di sekelilingnya sampai kumerasa tubuh ini menjadi halus dan punya sayap seperti kupu-kupu. Sungguh aku seperti udara atau malaikat yang begadang di waktu malam, tenggelam dalam atmosfer pikiran di atas buku terbuka, di bawah lampu terang. Saat pagi tiba, aku tidur dan lari dari manusia juga kebisingan, sampai seorang pembantu tua membangunkan dan mengingatkanku.
“Hidupmu ini bukan hidup. Lihat wajahmu di kaca!” sergahnya.
Di kaca lemari pakaian, lama kupandangi diri ini dan merasa takut. Kerutan di sekeliling mata, punggung membungkuk, kurus kering, dan pucat lesi. Apakah selama ini aku melupakan tubuh ini? Ataukah setan telah mengambil imbalannya tanpa sepengetahuanku? Aku begitu terkejut saat tanganku mengusap guratan-guratan menakutkan di permukaan wajah ini. Seolah itu pertanda masa indah hidup yang akan sirna untuk selama-lamanya.
“Muda. Muda. Setan telah mengambil masa mudaku!” teriakku tanpa sadar.
*Dialihbahasakan dari kumcer ‘Ahd As-Syaithon (Janji Setan) karya Taufiq Al-Hakim.
Catatan:
- Faust atau Faustus adalah laki-laki tua jenius dan lakon utama dalam kisah Faust yang ditulis pada tahun 1587 di Jerman. Kisah itu berpusat pada persahabatan dan penghambaan manusia kepada setan. Kisah ini diteaterkan oleh penulis Inggris, Marlowe pada tahun 1588. Sebagian studi sejarah mengatakan bahwa Faust bukanlah nama khayalan semata, tetapi nama seseorang yang hidup di Jerman antara tahun 1480-1540.
- Heni Henrik, sastrawan Jerman yang hidup pada 1797-1856.
- Mephisto atau lengkapnya Mephistopheles adalah tokoh setan dalam kisah Faust.
- Goethe, Johann Wolfgang Von Goethe; filsuf, penulis, penyair, dan politikus Jerman, lahir pada 1749 di Frankfurt dan meninggal tahun 1832. Ia juga menulis kisah Faust dan menteaterkannya di Jerman, darinya cerita ini mendunia.
- Plato adalah salah satu filsuf Yunani, lahir di Athena pada tahun 427 S.M. dan meninggal di sana tahun 347 S. M.
- Thomas More adalah pengacara dari Inggris, sekaligus penulis dan negarawan, penasihat Raja Henry III, lahir pada 7 Februari 1478 dan wafat pada 6 Juli 1535, beliau juga dikenal dengan nama Saint Thomas More.
Kepala Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

