ALTSAQAFAH.ID – Al-Jaziri menyebutkan dalam kitab Umdatus Shafa, kopi berasal dari tanah Ibnu Sa’duddin atau daerah Habasyah (sekarang Etiopia, Afrika).
Dalam riwayat lain, biji kopi pertama kali ditemukan pada abad ke-8 Hijriah. Riwayat ini sebagaimana dituliskan oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Husainy Al-Hadramy dari marga Alaydrus (1070-1113 H), dalam kitab berjudul Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qohwah.
Ia menjelaskan bahwa seorang ulama sufi terkenal, Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili merupakan sosok penemu kopi pertama.
Awalnya, kopi diminum untuk keperluan mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu riwayat menceritakan, saat Abul Hasan Ali Asy-Syadzili diberi ijazah wirid dari gurunya, Syaikh Abdullah Al-Masyisyi, ia selalu gagal.
Pasalnya, wirid harus dilakukan selama 40 hari tanpa tertidur dan batal wudu. Sayangnya, Asy-Syadzili selalu gagal sebab ia ketiduran. Tidak lama saat tertidur, ia pun mendapatkan petunjuk akan manfaat biji kopi yang mampu mengatasi kantuk sehingga bisa membantunya untuk melakukan wirid tersebut.
Setelah mengetahui manfaat kopi yang luar biasa bagi tubuhnya, ia pun kemudian meracik kopi dan menyeduhnya menjadi sebuah minuman. Hingga kopi menjadi minuman favoritnya untuk menyendiri mendekatkan diri pada Ilahi.
Atas kecintaannya terhadap kopi, Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili pun menuliskan syair tentang kopi dengan begitu dalam.
“Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, kopi membantuku mengusir kantuk. Dengan pertolongan Allah Ta’ala, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap.”
Ia pun kemudian memopulerkan nama Qahwah ‘kopi’. Qof bermakna quut ‘makanan’, Ha bermakna hudaa ‘petunjuk’, Wawu bermakna wud ‘cinta’, dan Ha bermakna hiyam ‘kantuk’. Adapun untuk kata Qahwah dalam bahasa Arab bermakna kekuatan.
Setelah semakin banyak orang yang mengetahui khasiat Qahwah, terlebih aromanya yang khas menyegarkan, orang-orang tanah Arab pun membuka warung-warung kopi. Penyebarannya meluas ke Eropa melalui Turki hingga Belanda.
Bagi orang-orang Turki, Qahwah kemudian disebut dengan istilah Kahfeh. Setelah menyebar ke Belanda, nama penyebutannya berubah menjadi Koffie. Nama Koffie inilah yang kemudian diserap masyarakat Indonesia setelah Belanda menjajah bangsa kita.
Editor: Senja Bagus Ananda
Pengajar Nahwu

