ALTSAQAFAH.ID – Yang menjadi masalah kebanyakan orang saat ini adalah Allah tidak begitu hadir dalam hati kita. Apa buktinya? Banyak teks hadis yang menyebutkan bahwa kita diwajibkan menghormati tetangga dan berbuat baik terhadap sesama, tetapi mengapa kita masih sering memperlakukan tetangga dengan perlakuan yang tidak mengenakkan, bahkan juga sering melontarkan cacian pada mereka? Itu bukti bahwa Tuhan tidak benar-benar ada dalam hati kita. Padahal sudah jelas bahwa Allah memerintahkan diri kita untuk berbuat baik kepada siapa saja.
Ada kisah menarik dalam pembahasan kali ini yang insyaallah kita bisa mengambil hikmahnya. Dikisahkan ada seorang ulama yang dipanggil oleh pemuda untuk mendatangi rumahnya, tetapi sesampainya di sana ulama itu disuruh pergi kembali oleh pemuda itu, kemudian ulama itu pergi lagi. Sesampainya ulama itu di rumahnya, kemudian pemuda itu memanggil lagi ulama tersebut untuk mendatanginya lagi dan ketika ulama itu sampai, lagi-lagi pemuda itu menyuruhnya pulang kembali, dengan senang hati ulama itu pergi dan hal itu terjadi berulang-ulang.
Akan tetapi, ulama itu tidak jengkel sama sekali dengan pemuda itu, hal tersebut membuat pemuda itu terheran-heran dan akhirnya bertanya pada ulama tersebut, “Mengapa Anda tidak marah ketika saya perlakukan seperti itu?” Lalu ulama itu menjawab, “Untuk apa saya marah kepada Anda, saya melakukan ini semata-mata karena Tuhan saya, Tuhan saya memerintahkan untuk menyenangi tetangga, jadi ini sama sekali tidak ada urusan dengan mu.” Setelah mendengar kata-kata itu pemuda tersebut menangis meminta untuk dimaafkan.
Ketika kita benar-benar menghadirkan Tuhan dalam hati kita, perlakuan manusia tidak bisa mendikte diri kita. Jika cerita tersebut terjadi pada diri kita, jelas kita akan tersinggung atau bahkan marah dilakukan seperti itu. Memang berat untuk bisa sampai maqom seperti itu kalau bahasa santrinya “latihan jadi wali” karena sangat dibutuhkan kesabaran yang tinggi supaya tidak terdikte orang lain.
Jika kita cerdas, perbuatan orang lain terhadap diri kita tidak berarti atau memiliki pengaruh pada diri kita. Ada orang mengaku pintar, tetapi masih suka terdikte oleh orang lain, masih terpancing emosi sama orang lain, berarti kepintaran orang itu masih diragukan. Seperti dawuh yang disampaikan oleh Gus Dur, “Jika kamu masih tersinggung dengan perkataan orang lain, itu masih menjadi hamba amatiran.”
Di Indonesia ada banyak ulama, profesor, doktor, dan intelektual lainnya, tetapi jika ada satu orang yang membuat mereka marah, sebenarnya mereka bodoh semua, harusnya yang pintar tidak terdikte oleh yang bodoh. Itulah masalah yang sering terjadi pada orang modern saat ini. Selagi yang memuji kita manusia apa yang perlu dibanggakan dan selagi yang menghina kita manusia apa yang perlu dipermasalahkan? Baik jabatan presiden, wakil presiden, menteri, maupun komisaris jika di hatinya hanya ada yang Mahakuasa, jabatan itu tidak akan melalaikan kepada-Nya.
Penulis: Rakan Abdel Jabar (Kelas 11 IPS 1)
Editor: Senja Bagus Ananda

