Sebutir Kepedulian

ALTSAQAFAH.ID – Siang itu termasuk ke dalam siang-siang paling menjemukan dalam hidupku. Badanku letih, pikiranku lelah. Baju seragamku sudah memiliki lingkaran gelap, lembap, dan mungkin bau di bagian punggung. Kerudungku mungkin sudah miring dan membentuk segitiga yang kelewat lancip. Membuat dahiku tampak lebih lebar daripada seharusnya.

Aku menaruh tasku di kursi sambil menghela napas. Satu pelajaran lagi, pikirku. Shorof, pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dan aku duduk sambil mengerang dalam hati. Tahun pertama belajar Shorof, aku masih sedikit bingung meski akhirnya bisa dapat nilai yang memuaskan. Maklum, kan baru pertama kali. Di tahun kedua alias saat ini, aku malah tidak mengerti sama sekali. Sungguh luar binasa! Entah aku yang memang mendadak jadi tolol atau Shorof yang tak mau kurangkul.

Tapi, yah setidaknya aku tak sendiri. Ku edarkan pandangan. Hampir semua kening telah mencium meja. Sisanya tidur terlentang di lantai tepat di bawah kipas angin yang sejuknya tak seberapa. Menjadikan suara video penjelasan Shorof sebagai senandung lagu tidur.

Aku melirik ke kolong meja, masih ada beberapa barang di sana. Dengan desakan malas, ku keluarkan barang-barang itu untuk dimasukkan ke tas. Benda pertama yang kuambil adalah print-an novelku yang kuketik selama di rumah.

Aku menatap lama tumpukan kertas HVS setebal 60 halaman itu. Entah sudah berapa hari terakhir ini aku tak ada mood untuk menulis. Kulirik tulisan prolog yang tertera di sana. Seketika ingat dulu aku pernah mengajukan naskahku di kelas menulis novel untuk dikoreksi.

Kala itu, pembimbing atau editor bilang padaku, ada banyak kalimat tidak efektif dalam naskahku. Mereka juga sudah menyampaikan contoh-contoh kalimat dan mencoba membetulkan. Pada akhirnya mereka pun masih belum puas dengan kalimat yang mereka revisi meski sudah sedikit jauh lebih baik. Aku jelas mengerti apa maksudnya. Aku harus menulis ulang semuanya dari awal.

Sudah begitu pun, novelku dikira bergenre romantis dengan konflik orang ketiga. “Mainstream, tapi tidak apa-apa kakak bisa membuat novel ini jadi enggak mainstream,” tulisnya di Telegram. Dan aku tersinggung. Topik yang kuangkat adalah perebutan tahta, mungkin bisa disebut politik. Apa mungkin topik seperti ini terlalu berat untuk penulis pemula sepertiku?

Lalu suara salah seorang temanku tiba-tiba saja berdengung dalam kepalaku. “Bagaimana mungkin tulisanmu bisa dimengerti orang lain kalau berkomunikasi dengan orang lain yang benar saja belum bisa?”

Aku terkena pukulan telak dan mulai berpikir, haruskah aku berhenti sekarang? Menunggu sampai aku dewasa dan sudah lebih bisa “bicara dengan benar”? Tapi sepertinya tidak akan bisa. Aku akan jadi lebih baik “tidak bisa diam” alias uring-uringan sendiri kalau dipaksa berhenti. Jadi, apakah aku terus menulis saja tanpa memberi tahu siapa pun?

Sekali lagi aku menghela napas pelan sembari memasukkan tulisanku ke dalam tas. Kemudian tanganku kembali meraba-raba kolong meja dan mendapati novel favoritku.

War Storm karya Victoria Aveyard, idolaku. Salah satu buku dari seri Red Queen yang keempat. Kovernya sewarna bluberi dengan tebal sekitar 580-an halaman. Yang membuatku terpaku adalah sepotong kertas di atasnya, bertuliskan: “Untuk kamu, iya kamu.”

Ketika aku membuka isi kertas itu, kulihat sebaris lettering cantik yang ditulis dengan pulpen. Singkat saja isinya: Just Do It, Never Give Up. Di salah satu sudut suratnya tertulis, Spactura. Membuatku ingat kalau anak kelas 9 tadi sempat numpang kelas untuk PJJ.

Sebenarnya aku tidak mau kegeeran, tapi … ah, hatiku sudah telanjur menghangat dan segala hal yang membuatku bimbang dan putus asa lenyap begitu saja, seakan tak pernah ada.

 

 

 

Penulis: Najwa Rana (Kelas 9.3), asal Depok, hobi membaca novel

Editor: Senja Bagus Ananda

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya