ALTSAQAFAH.ID – Pertanyaan yang sering menghampiri pelajar ketika menghadapi situasi hampir putus asa dalam belajar adalah, “Mengapa kita susah payah mempelajari materi ini? Apa kegunaannya dalam kehidupan?” Demikian juga saya dan teman-teman yang mempertanyakan, “Mengapa matematika ada? Siapa penemu matematika? Mengapa harus belajar matematika?” Bagi kami, matematika merupakan sesuatu yang abstrak dan berkutat pada pikiran. Ia merupakan suatu yang tidak nyata dan kegunaannya tidak dapat kami rasakan selain hanya untuk kegiatan jual beli: untung-rugi. Terlebih ketika bertemu dengan variabel, sesuatu yang bisa berubah-ubah dan biasanya ditulis dalam bentuk huruf. Bagaimana bisa huruf ditambah dengan huruf?
Banyak definisi mengenai matematika, Prof.Ir. RMJT Soehakso, profesor matematika pertama di Indonesia mengatakan bahwa matematika ibarat gadis tercantik di seluruh dunia karena keindahan polanya, juga bahasa universal yang berlaku di seluruh dunia tanpa mengenal batas suku dan agama. Prof. Hendra Gunawan, pengajar matematika di ITB membuat perumpamaan bahwa orang yang menguasai matematika seperti orang yang dapat melihat hantu. Ia seolah-olah dapat masuk ke alam tersendiri dan asyik bermain di sana, tetapi ketika kembali ke alam fisis dan menceritakan pengalaman serunya kepada orang lain, tidak ada yang memahaminya. Mungkin seperti itulah kami memandang matematikawan seperti Al-Khawarizmi, Pythagoras, Archimedes, Galileo Galilei, dan lain-lain. Para matematikawan tersebut asyik dalam dunia mereka sendiri dan menemukan sebuah teori yang sulit kami mengerti.
Proses menemukan teori, misalnya Galileo Galilei (1564-1642), ia membuat serangkaian percobaan pada proyektil peluru. Ia menempatkan bola di atas bidang miring dengan ketinggian tetap dan sudut kemiringan terhadap bidang horizontal yang cenderung tetap. Galileo dalam setiap percobaannya, mengubah ketinggian pelepasan peluru dan mengukur jarak peluru sebelum mendarat. Ia menemukan kesimpulan bahwa komponen horizontal dan vertikal dari gerak peluru bergabung menghasilkan lintasan horizontal. Sebuah bentuk lintasan yang dihasilkan dari fungsi kuadrat. Percobaan sederhana yang bisa memberikan dampak luar biasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Kami mengamati ketika para santri bermain bola di lapangan, mereka sedang membentuk grafik parabola, tali jembatan atau kubah masjid yang melengkung, bukankah bentuk itu dihasilkan dari fungsi kuadrat? Termasuk juga ketika kami melihat teman-teman santri tersenyum, ada fungsi kuadrat positif mengembang di bibir mereka. Ketika para santri cemberut dan mukanya kusut pun, bibirnya bisa membentuk fungsi kuadrat negatif.
Sedikit pertanyaan kami terjawab melalui pengamatan dan kontemplasi. Masih banyak tanda tanya melingkupi pikiran yang menandakan bahwa kami butuh banyak belajar lagi sebagaimana ajaran agama agar tidak terputus dalam menuntut ilmu. Satu hal yang dapat kami pahami bahwa matematika mengajarkan kami untuk berpikir dan mengaitkan banyak hal di sekitar supaya kehidupan ini berjalan logis dan sistematis. Supaya kami selalu bisa melihat fungsi kuadrat positif mengembang di bibirmu.
Penulis: Seluruh Santri Kelas 9.3
Editor: Senja Bagus Ananda

