ALTSAQAFAH.ID – Dalam pelatihan pengajaran Al-Qur’an metode Yanbu’a yang diselenggarakan Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah pada 10 September 2022, Pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus K.H. M. Ulil Albab Arwani memberikan nasihat kepada para guru dan santri Al-Tsaqafah penghafal Al-Qur’an.
K.H. M. Ulil Albab Arwani menyampaikan tausiah dan memperkenalkan kepada para santri tentang metode Yanbu’a. Pada awal tausiahnya beliau berpesan kepada para santri agar selalu bersanding dengan Al-Qur’an. Di mana pun dan kapan pun karena dengan membaca Al-Qur’an akan memperoleh banyak manfaat dan berkah.
Kiai Ulil menyampaikan bahwa Al-Qur’an merupakan surat cinta Allah. Dengan membaca Al-Qur’an, kita sedang membaca WA-nya Allah.
“WA-nya Allah adalah Al-Qur’an. Kita membaca Al-Qur’an itu ibarat sedang kirim pesan WhatsApp dengan Allah,” terang Kiai Ulil putra dari K.H. Arwani Amin Kudus.
Beliau kemudian memperkuat pernyataannya dengan membacakan sebuah hadis:
إذا أحَبَّ أحدُكُم أنْ يُحَدِّثَ ربَّه فلْيقرأْ القُرآن
“Apabila salah seorang dari kalian ingin berbicara dengan Tuhan, maka hendaknya ia membaca Al-Qur’an.”
Kiai Ulil kemudian menyampaikan tentang keutamaan-keutamaan Al-Qur’an, salah satunya adalah sebagai pembersih hati dengan mengutip sebuah hadis:
إِنَّ القُلُوب تَصْدَأ كَمَا يَصْدَأ الحَدِيد، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّه وَمَا جَلَاؤُهَا؟ فَقَالَ قِرَاءَةُ القُرْآن وَذِكْر المَوت
“Sesungguhnya hati itu berkarat seperti berkaratnya besi.” Kemudian beliau ditanya, “Ya Rasulullah, bagaimana membersihkannya?’ Rasul saw. menjawab, “Dengan membaca Al-Qur’an dan mengingat kematian.”
Kiai Ulil menambahkan bahwa pengajar Al-Qur’an adalah manusia yang terbaik dengan syarat belajar kepada ahlil Qur’an dengan sanad yang bersambung hingga Rasulullah saw. Selain sanad yang jelas, para pengajar dan penghafal Al-Qur’an juga harus ikhlas.

Setelah itu Kiai Ulil menjelaskan seputar metode Yanbu’a. Yanbu’a adalah thoriqoh atau cara menulis, membaca, dan menghafal Al-Qur’an. Namun, untuk jilid yang menjelaskan metode menghafal Al-Qur’an belum diterbitkan.
Dalam pelatihan tersebut, Kiai Ulil menjelaskan dan mempraktikkan metode Yanbu’a dalam kitab Thoriqoh Baca Tulis & Menghafal Al-Qur’an. Santri yang belajar Al-Qur’an harus memahami tujuh pokok dan dapat mempraktikkannya dengan benar. Tujuh pokok tersebut, yaitu makhroj dan shifat, ghunnah, mad, qolqolah, tafkhim, waqof, dan ghorib.
Kiai Ulil didampingi menantunya, K.H. Dr. Ahmad Faiz, Lc. yang juga turut menjelaskan dan mempraktikkan tujuh pokok untuk tahsinul qiro’ah.
Di penghujung acara, Kiai Ulil memberikan ijazah kepada para guru dan santri Al-Tsaqafah bahwa telah mengikuti bimbingan metode Yanbu’a dan ijazah surah al-Fatihah serta doa yang dibawakan langsung oleh beliau. (nly/sba)

