Maulid Nabi Terakhir

ALTSAQAFAH.ID – Besok adalah maulid nabi, malam ini kompleksku akan melakukan pawai obor, acara pawai obor tidak dilakukan tahun ini saja, tetapi dilakukan setiap tahun saat malam maulid nabi. Pawai obor kompleksku termasuk pawai yang lumayan besar karena diikuti oleh seluruh umat Islam di kompleksku. Aku mengikuti pawai obor kali ini bersama ayah dan mamaku. Selama melakukan pawai, aku dan kedua orang tuaku selalu tertawa dan tersenyum bahagia. Malam maulid nabi kali ini aku penuh dengan senyuman.

Aku bangun tidur jam tiga pagi untuk melakukan salat tahajud. Usai melakukan tahajud, aku membaca Al-Qur’an sekitar 30 menit dan lanjut mandi. “Al-Kahfi,” ayah berteriak memanggilku dari bawah. “Iya Yah, kenapa? Al lagi mandi, jadi Al ga bisa ke bawah,” ucapku berteriak dari kamar mandi lantai atas. “Al! Ini mamah ga sadarkan diri,” ayah berteriak lagi dari lantai bawah. Saat aku mendengarnya, aku langsung memakai celana, kaus, dan sarung berwarna hijau. Ayah memasukkan mama ke dalam mobil, aku ikut memasuki mobil, lalu aku dan ayah berangkat ke rumah sakit terdekat untuk pertolongan pertama mama.

Selama di perjalanan aku membacakan selawat untuk mama dan mendoakan mama supaya mama baik-baik saja. Sampai di rumah sakit, mamah langsung dibawa ke UGD, aku berpikir jika ini adalah salahku, jika semalam aku tidak mengajak mama pawai, pasti mama tidak akan masuk ke UGD. Sambil menunggu mama yang sedang ditangani oleh dokter dan menunggu azan Subuh, aku membaca Al-Qur’an dan mengucapkan selawat nabi terus-menerus.

Azan Subuh sudah berkumandang, aku dan ayah menuju musala rumah sakit. Sambil menunggu ikamah dan usai salat sunah, ayah menepuk pundakku. “Ga papa Al?” ayah mengelus pundakku. “Ga papa kenapa, Yah?” Aku menoleh ke arah ayah. “Ga papa, lupain aja,” ayah mengusap punggungku. Apa yang ayah maksud?

Usai salat Subuh, aku dan ayah menuju kamar inap mama, aku membuka pintu kamar inap mama dan tidak sangka aku dan ayah disambut oleh, “Honey, Al-Kahfi.” Aku terkejut dan bahagia melihat mama yang sudah siuman. Aku langsung salim tangan mama dan menangis bahagia, lalu memeluk mama. Mama mengelus kepalaku, “Loh, kok Al nangis? Al-Kahfi kenapa nangis?” Mama mengelus punggungku dengan tangannya yang lembut. “Ma, maafin Al ya Mah, gara-gara Al, Mama jadi masuk UGD, kalau Al ga ajak Mama ke pawai, pasti Mama gak gini,” aku menangis meminta maaf sambil memeluk tubuh mama. “Loh, loh Al-Kahfi ga salah kok, kan mama juga mau ikut pawainya,” mama mengusap air mataku dan mengelus kepalaku.

Ayah menyuruhku untuk keluar dari kamar rawat inap mama sementara, ayah bilang ada yang ingin ayah dan mama bicarakan. Apa yang ingin mereka bicarakan hingga aku tidak boleh tahu? Apakah tentang aku? Atau tentang ayah? Aku sungguh penasaran apa yang mereka katakan.

Aku menunggu disuruh untuk kembali ke kamar sambil menguatkan dan menambah hafalanku, aku membuka hand phone-ku dan ternyata mama memberiku pesan, “Alkahfi hari ini udah baca selawat belum? Hafalannya udah nambah lagi belum? Sini mama tes hafalannya, ayo masuk.” Mama kenapa nyuruh masuknya lewat chat? Kenapa mama ga telepon?

Aku masuk ke kamar inap mama dan langsung duduk di samping mama. “An-Najmnya udah nambah berapa ayat?” mama bertanya sambil menepuk pundakku. “Alhamdulillah, Al udah tamat An-Najmnya,” aku menjawab mama sambil bersyukur dan tersenyum. “Alhamdulillah, ayo mama tes An-Najmnya.” Aku menyetorkan hafalanku ke mama. “Mashaallah,” ayah memujiku sambil mengusap punggungku.

“Dulu, jika maulid nabi, Al, ayah sama mama mesti selawatan nabi bareng, baca Al-Qur’an bareng, tapi maulid nabi kali ini enggak, maafin mama ya.” Ada apa dengan mama, kenapa mama tiba-tiba minta maaf? “Al-Kahfi,” mama memanggilku. “Kenapa Ma?” Aku bingung karena mama meneteskan air mata. “Al-Kahfi, kalau tahun ini maulid nabi terakhir yang mama, Al sama ayah ikutin bertiga gimana?” air mataku semakin deras. “Al-Kahfi harus ikhlas ya,” ayah mengusap air mataku. “Al-Kahfi gak papa kan kalo ditinggal mama?” mama menggenggam tanganku. “Insyaallah, Al ikhlas Ma.” Tubuh mama sudah mati rasa, mama memejamkan matanya, ayah meneteskan air matanya, ayah mengecek nadi mama, dan mama sudah tiada.

 

 

*Karya Firly Nurfari (Kelas 7.4)

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya