Akan kau anggap apa serpihan kaca di ujung meja
Dan apa yang kau pikirkan tentang butiran debu yang berterbangan
Wahai nona, cukuplah sudah kau ucap kata-kata dusta
Hidup beriringan dengan dendam yang dipendam
Wahai nona, kau bukanlah daun yang berguguran di musim semi
Dan bukanlah air yang membeku di musim salju
Tapi kau mengumpat diri seperti ombak yang menderu di lautan
Wahai nona, bukanlah bulan sudah menggantikan matahari
Dan bukanlah bintang menghiasi di langit malam
Namun apa makna indah di dalam kehancuran
Maka kuanggap sirna bulan yang menggantikan dan bintang yang menghiasi
Wahai nona, tinta-tinta itu menodai kuasmu
Pena-pena itu menari menarasikan dirimu
Namun kukatakan itu tak kan cukup dan tak kan sanggup
Karna sudah tercatat dan terukir di atas sana
Bahwa kau hanyalah titisan sendu di langit malam
Penulis: Kayla Ramadhani

