To Teach or Not to Teach Grammar

ALTSAQAFAH.ID – “Can you give me some adjectives, guys?” ucap saya di awal pembelajaran guna mengapersepsi seberapa banyak adjectives atau kata sifat yang diketahui oleh peserta didik. Aktivitas ini rutin saya lakukan saat memulai semester baru untuk mengukur pengetahuan para peserta didik di semester sebelumnya.

“Beautiful, handsome, smart, Miss.”

“Very good, another else?” “Skibidi, rizz, sigma.” Saya pun spontan menyadari, ada perubahan kelas kata baru lagi di tahun ajaran ini. Iya, tahun lalu peserta didik mencampur bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia tanpa banyak mengubah jauh kelas kata dan maknanya.

Sebagai pengajar bahasa, saya pun mengonfirmasi arti dari beberapa kata sifat yang mereka sebutkan tadi.

“Skibidi artinya buruk, kotor, dan mungkin juga bau, Miss.” Namun, skibidi tidak memiliki arti resmi di dalam perbendaharaan kata bahasa Inggris.

Lantas, apa yang dimaksud sigma? “Sigma itu popular, mandiri, keren, dan kaya, Miss.”  Padahal sigma di dalam bahasa Inggris sama sekali bukan kata sifat. Kemudian, mereka mendefinisikan rizz sebagai memesona yang seharusnya adalah charming.

Merasa penasaran, saya pun mengeksplorasi berbagai bahasa baru yang berpengaruh ke mata pelajaran bahasa Inggris. Ternyata istilah baru yang telah disebutkan di kelas memiliki label tersendiri. Bukan lagi bahasa Jaksel namanya, tetapi sekarang bahasa Alpha. Drugaș (2022) mendefinisikan Alpha sebagai generasi yang lahir antara tahun 2010 dan 2024.

Menurut rata-rata usia, memang peserta didik saya sekarang berada dalam rentang usia tersebut. Maka, dapat disimpulkan bahwa tahun ini saya akan beradaptasi dengan bahasa generasi Alpha. Bahasa yang nilai positif dan negatifnya sulit dilacak karena arti dari kosakata yang sebenarnya tertera di kamus sangat berbeda dengan konteks dan kelas kata pemakaiannya. Sehingga, sebagai generasi yang bukan Alpha, kita mungkin perlu cepat mendeteksi kata apa yang sedang disematkan, kepada siapa, dan konteks apa yang sedang digunakan. Apakah konteks positif seperti “rizz” dan “sigma” atau bahkan mungkin sebaliknya “skibidi”.

Fenomena bahasa yang terus mengalami perubahan ini terjadi bukan karena tanpa alasan. Budaya, digital, dan efektivitas komunikasi merupakan alasan besar hal ini. Senada dengan penelitian Pilipei pada tahun 2014, yang percaya bahwa semakin lama, bahasa Inggris yang sesuai kaidah seringkali gagal digunakan dari waktu ke waktu karena dianggap tidak efektif dan menarik perhatian lawan bicara. Fenomena ini juga disebut sebagai variasi bahasa yang tak terhindarkan (Stochl, 2019).

Maka, sangat wajar jika pembelajaran bahasa akan terus menyesuaikan keadaan, baik dari segi kesiapan mengetahui pembaharuan bahasa terkini maupun memahami latar belakang peserta didik, pada konteks ini adalah usia peserta didik terkategorikan Gen Alpha yang memiliki perbendaharaan kata versi mereka sendiri. Seperti sebagian mereka dengan mudah menerjemahkan charming sebagai rizz bukan memesona. Singkatnya, mereka menerjemahkan bahasa Inggris bukan lagi ke bahasa Indonesia, melainkan ke bahasa Alpha.

Dengan adanya fenomena ini, apakah pengajar akan cakap mengenalkan bahasa Inggris yang sesuai kaidah dan terkadang perlu disesuaikan konteksnya dengan budaya Indonesia? Tentu tidak.

Hal ini menjadi tantangan atau burden tambahan bagi pengajar bahasa yang idealnya mengajarkan kelas kata atau part of speech dalam bahasa Inggris. Kelas kata ini memang biasanya menjadi dasar untuk membuat satu kalimat sederhana yang terdiri dari noun, verb, adjective, adverb, dan lainnya. Klasifikasi kata dalam pembelajaran bahasa Inggris ini pun masuk ke dalam ranah grammar.

Karenanya, terbesit pertanyaan besar dalam benak saya, “Apakah mengajar grammar secara eksplisit masih mudah dan relevan sekarang?” Namun, di saat yang bersamaan banyak kosakata baru yang multitafsir dan perlahan menggantikan kosakata lama dengan  kelas katanya.

To Teach or Not to Teach Grammar

Mengajarkan grammar secara eksplisit kepada peserta didik masih menjadi perdebatan karena pelajaran ini dipercaya hanya memfokuskan peserta didik kepada kaidah bahasa yang ketat sehingga peserta didik merasa materi grammar adalah materi hafalan yang menakutkan dan membosankan (Maftuna Uktamovna, 2023). Menakutkan dan membuat stres peserta didik karena pada akhir pembelajarannya, mereka akan dihadapkan dengan tes yang memiliki pengaruh besar pada nilai rapor mereka (high stakes). Perdebatan tentang grammar yang membatasi konteks belajar dan menghambat kemampuan komunikasi lisan peserta didik juga masih terus bergulir panjang.

Beberapa ahli seperti (Corder, 1967 dan Krashen, 1981) meyakini bahwa grammar seharusnya diajarkan secara implisit melalui teks ataupun tulisan sehingga peserta didik akan akrab dengan kaidah bahasa secara natural. Hal ini juga dianjurkan di dalam kurikulum merdeka. Kurikulum yang mengutamakan proses natural belajar peserta didik sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka (Kemdikbud, 2022), bahkan semakin merdeka rasanya karena kehadiran berbagai macam kecerdasan buatan atau dikenal dengan Artificial Intelligence (AI)  seperti Grammarly dan Quillbot yang menimbulkan pertanyaan lain lagi, di manakah proses natural yang digaungkan sebelumnya?

Setali tiga uang dengan perdebatan ini, “Apakah lebih baik jika Ujian Nasional (UN) dihapuskan karena akan menyebabkan peserta didik tidak merdeka dan fokus kepada nilai saja?” Sementara di sisi lainnya terdapat fakta yang menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik yang melemah karena tidak adanya alat ukur pasti yang dapat berpengaruh ke jenjang lanjutan. Bahkan beberapa alumni (tanpa UN) yang mengeluh sulit untuk mendaftar beasiswa karena ijazahnya perlu disetarakan lagi dengan tes yang terstandar layaknya UN (Caesaria, 2024).

Bagaikan dua sisi mata uang, idealisme mengajar grammar secara natural melalui teks akan membangun pemahaman grammar yang lebih komprehensif. Namun, juga menimbulkan kebingungan peserta didik karena pada tahap dasar kegiatan membaca saja mereka masih jauh dari kata cukup, didukung oleh laporan PISA 2022, terkait kemampuan membaca peserta didik yang berada jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD (Zanatul Haeri, 2024).

Terlebih, perubahan banyak kosakata yang dinamis tanpa jeda tentu menjadikan pengajar barometer penting untuk mengonfirmasi kebenaran posisi kelas kata/ part of speech dan nilai budaya dalam bahasa Gen Alpha tersebut. Terlepas dari bertebarannya alat bantu belajar grammar yang mudah diakses, peran pengajar untuk meluruskan budaya dan kosakata yang sesuai kaidah tetap tidak bisa tergantikan. Belajar grammar ataupun tidak, peserta didik generasi Alpha mungkin mampu memahami kaidah bahasa dengan teknologi yang punya segudang guna. Namun, dalam memahami penggunaan bahasa dan nilai budaya, tetap peran dan teladan pengajar yang sangat bermakna.

 

Referensi:

Caesaria, S. D. (2024). Ramai Siswa Indonesia Sulit Kuliah di Luar Negeri, Mengapa Ujian Nasional Dihapus? Kompas.com, 1–5.

Corder, S. (1967). The Significance of Learners Error.

Haeri, Iman. Zanatul. (2024). Kurikulum Merdeka untuk Siapa? Kompas.id.

Kemdikbud. (2022). Buku Saku Kurikulum Merdeka; Tanya Jawab. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 1–50.

Krashen, S. (1981). Second Language Acquisition and Second Language Learning. Pergamon Press Inc.

Drugaș, M. (2022). Screenagers or “Screamagers”? Current Perspectives on Generation Alpha. Psychological Thought, 15(1), 1–11. https://doi.org/10.37708/psyct.v15i1.732

Maftuna Uktamovna, M. (2023). Grammar Translation Method: Exploring Advantages and Disavantages. Educational Research in Universal Sciences, 2(17), 309–311.

Pilipei, Y. (2014). Slang versus “Proper English” in the modern world. Aphn-Journal.in.Ua, 4855, 85–89.

Stochl, L. (2019). Internet Slang: Corruption of the English Language?

 

syifadwimutiah@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Bahasa Inggris Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah